Thursday, March 08, 2007

TIPS MAMA: MENYIAPKAN MAKANAN KIRA & ZIYA



“Emang lu masih sempat bikin pepes ikan dan macaroni skotel ?”, tanya seorang teman suatu kali.
“ Masih doong…”, jawab mama.
“ Kok bisa sih? Punya satu aja udah repot,..gimana punya dua yaa hehehehe…”

Ya memang harus dialokasikan waktunya buat mikirin makanan kira dan ziya. Selain sudah tambah besar, kira dan ziya mulai jadi picky eater alias ngerti mana yang enak dan mana yang enggak. Udah bisa pula bilang, “..na mawuuu… (ndak mauu..)” sambil mundur teratur dan menjauhi mama kalau lagi kambuh males makannya. Lha, kalau dibiarkan bisa berabe. Kalau begini artinya udah saatnya mama bersemedi dan nyari wangsit dulu nih buat mengeluarkan ide kreatif baru hehehehe.

Nah, ini dia variasi makanan kira dan ziya akhir-akhir ini. Mama memang belum sempat menuliskan resepnya, padahal simpel banget dan tinggal digonta-ganti aja isinya sesuai apa yang ada di kulkas. Berhubung bikinnya suka-suka mama, jadi kalau suatu saat harus menulis resepnya, mama agak bingung, soalnya nggak pakai timbangan sekian gram, atau sekian sendok teh segala. Begitu lampu-lampu kecil dan sel-sel kelabu di kepala mama berkelap-kelip, langsung deh refleks mama ambil ini ambil itu, masukkan ini sedikit campurkan itu sedikit, di rasa-rasa terus dikira-kira, abracadabra….ini diaaaa!

Balik lagi ke judul di atas. Selama ini makanan kira dan ziya mama siapkan langsung sesaat sebelum dimakan, fresh dan sekali makan habis. Untuk siang dan sore juga demikian. Pernah sih, buat nasi kukus karena jadinya agak banyak, dua cup bisa dimakan pagi, dua cup lagi masih bisa dimakan siang hari, artinya sore buat makanan baru lagi. Kedengerannya lumayan repot ya? Tapi selama ini bisa dijalankan asal mau sedikit meluangkan waktu untuk persiapannya. Sedikit tips yang sudah mama terapkan selama ini:



  • Sayur segar, siangi/potong-potong, masukkan ke dalam plastik jernih untuk disimpan di kulkas.
  • Brokoli/kembang kol, potong sesuai kuntum, rendam dalam air garam untuk mengeluarkan ulat-ulatnya, tiriskan hingga kering, masukkan ke plastik jernih sesuai porsi sekali makan atau ke wadah besar lalu tutup dengan alumunium foil.

  • Wortel/labu parang, potong-potong dadu, masukkan dalam porsi sekali makan ke dalam plastik es mambo, masukkan kulkas.
    Daun bawang, rajang tipis-tipis, masukkan wadah, tutup dengan alumunium foil atau plastik jernih, masukkan kulkas. Demikian pula dengan daun jeruk, daun salam, cuci bersih,masukkan wadah, tutup dengan alumunium foil, simpan di kulkas
    Bawang merah/bawang putih, kupas kulitnya, bulat-bulat masukkan wadah, tutup alumunium foil atau plastik jernih, masukkan kulkas.
    Ikan segar, cuci bersih, bebaskan dagingnya dari tulang dan kepala, potong-potong porsi sekali makan, masukkan plastik es mambo, masukkan freezer. Tulang dan kepala ikan rebus tanpa garam dengan daun salam, daun jeruk, daun serai, setelah dingin masukkan ke plastik es mambo untuk porsi sekali makan, simpan di freezer.
    Daging Ayam/daging sapi giling/hati ayam/hati sapi, rebus tanpa garam bersama daun salam, daun jeruk, daun serai, kalau perlu seiris jahe, masak dengan api kecil-kecil sampai empuk, angkat. Kaldunya masukkan ke plastik es mambo untuk porsi sekali makan, dagingnya cincang dadu, masukkan plastik es mambo sekali makan, simpan di kulkas.
    Jagung, minta tukang sayur pretelin dari batangnya sekalian beberapa buah, masukkan plastik transparan, simpan di freezer.
Begitu kira-kira yang mama lakukan. Jadi setiap pagi, kira dan ziya kan bangun jam 4 dini hari, langsung asik dengan buku dan mainannya, mama titip mereka sama eyang/oma (kalau lagi nginep)/papa untuk jerang air/kaldu di dapur. Lalu mama ambil sedikit daun bawang yang udah diiris dari kulkas, jrenggg… masuk panci yang airnya mulai mendidih. Sambil nunggu wangi mama ambil 1-2 butir bawang putih/bawang merah yang udah bebas kulit, iris tipis, jrenggg… masuk panci lagi. Kemudian mama ambil sebungkus wortel yang sudah diiris dadu, cuci, jrenggg… masuk panci. Ambil tomat, buang sedikit kulit arinya kalau perlu, cuci, iris-iris langsung di atas panci secukupnya, sisanya bungkus, masukkan lagi ke kulkas. Sebungkus labu parang yang sudah dipotong dadu, cuci, jrenggg..masukkan panci. Ambil segenggam bayam dari dalam plastik, iris tipis-tipis, cuci, jrenggg…masukkan ke air yang sudah mendidih tadi. Beri garam seperlunya atau margarin sebagai pengganti garam secukupnya (biasanya jadi agak gurih sedikit), jadi deh sayur bening bayam ! Bisa juga sebelum disajikan, masih dalam kondisi mendidih, kocok telur ayam dalam tempat berbeda, masukkan dan kocok cepat isi panci sehingga telur terburai. Sajikan bersama nasi/bubur hangat.

Bisa juga divariasikan…Kalau misalnya di kulkas hanya ada buncis dan kentang, setelah bumbu-bumbu dan wortel, masukkan sebungkus daging ayam yang sudah dicincang, lalu masukkan irisan buncis tipis-tipis dan kentang potong dadu, jrenggg… jadi deh sup ayam! Dan sebagainya… Kalau di kulkas hanya ada wortel, tahu dan sawi hijau? Ambil kaldu ayam, atau kalau ada udang, ambil beberapa ekor, cuci bersih, rebus dalam air yang sudah mendidih (kalau belum mendidih akan sedikit amis biasanya). Ulek bawang putih, sedikit merica dan garam seperlunya, masukkan ke dalam kaldu udang tadi. Tahu putih, potong dadu, jrenggg..masukkan panci. Sawi hijau, bebaskan dari batang putihnya yang agak keras di bagian tengah, iris tipis, jrenggg.. masukkan ke dalam panci…. Jadi deh sup segar sawi+tahu dengan kuah tekwan hehehe…kira dan ziya bisa lumayan lahap nih dengan menu ini. Udangnya? Ya diiris tipis-tipis untuk bisa dimakan juga.

Kalau mama masak sayur saja dan ingin lauknya ikan tenggiri/kembung/kakap/tuna/gurame pepes
atau ingin bikin yang sedikit spesial untuk camilan di antara waktu makan seperti tahu kukus,tempe kukus (bisa ditambah jagung, terung, brokoli, dsb),
ya tinggal melakukannya di sela-sela jrenggg..jrenggg sayuran. Siapkan dulu panci pengukusnya, iris tipis2 bawang putih/bawang merah, hancurkan tahu, campur dengan wortel/bit/labu parang yang diiris tipis/buncis/kacang kapri tambahkan garam seperlunya, daun kemangi, alasi daun salam lalu bungkus dalam daun pisang atau alumunium foil, kukus sampai matang. Kira dan ziya biasanya lebih suka makan tahu/tempe sebagai selingan bukan dimakan bersama nasi. Soalnya mereka jadi bisa memegang sendiri.. hehehe..mama maklum kok,..anak mama kan udah besar, udah pingin melakukan semuanya sendiri,.. pinter…

Sempat nih, mama buat variasi sarapan yang berbeda seperti sup jagung, kentang-brokoli panggang,
macaroni keju+tahu,
tahu-ikan tenggiri-wortel kukus, atau sup kacang merah.Ya memang nggak selalu berhasil, tapi lumayan untuk bikin makanan lebih bervariasi dan beda aja dari biasanya. Kalau seharian memang lagi nggak selera makan, mama nggak panik, sebab bukankah di piramida makanan yang banyak terdapat di buku panduan (termasuk di website milis sehat), makanan memang nggak harus nasi dan nggak harus selalu lengkap sekaligus? Jadi mama berikan terpisah tahunya, lalu setelah main-main kan laper lagi tuh, mama berikan loaf sayuran(kacang polong, brokoli+roti tawar+ikan kakap+keju),
pudding havermut/roti tawar-pisang-keju-bayam,plus perasan air jeruk/jeruk mungil kecil-kecil yang udah bisa mereka makan bulat-bulat (tapi dikeluarkan dulu biji kecil-kecilnya) atau pisang ambon+keju+meses coklat yang menggoda.

Jadi seharian nggak makan nasih juga ok aja,.. yaa sekali-sekali bolehlah libur makan nasi, tapi tetap diusahakan ada karbohidrat, protein, sayur-mayur dan beberapa camilan-camilan sehat (wortel kukus, singkong rebus, comro isi tempe, kroket susu isi daging giling
dan sebagainya). Kalau kelihatannya aktivitas mereka lagi banyak (maklum lagi hobi lari, lompat-lompat, manjat-manjat, teriak-teriak, nyanyi-nyanyi, jungkir balik), mama berikan lagi masing-masing segelas susu UHT plain atau jus pepaya+tomat/wortel+jeruk (atau pepaya potong kecil-kecil yang udah bisa mereka makan langsung, rasanya dalam bentuk ini lebih ok, karena selain dapat vitaminnya mereka juga akan dapatkan seratnya yang berguna buat tubuh kan). Sempat juga sih mama nyoba buat tekwan,
dan bakso dari daging cincang yang akhirnya gagal euy
…akirnya mengikuti saran papa untuk digoreng aja, jadilah camilan buat papa! Hehehehe Kapan-kapan nyoba lagi ah..

Untuk camilan, kemarin ini sempat bikin agar-agar susu+biskuit. Iseng aja masukkan biskuit kira & ziya, terus sausnya mama ambil dari jeruk segar dan taburkan begitu aja di atas potongan agar-agarnya. Membuat mereka tertarik makan dengan tertib awalnya, tapi kemudian tertarik mengobrak-abrik dengan tangan mereka waaaaa…

Nah, berhubung “virus-mogok-makan” dan “virus-boseeeen-ah-ma!” kira dan ziya mulai rajin mampir, kemarin ini mama iseng bikin nasi kukus(mungkin orang lebih sering sebut nasi tim ya?).

Resepnya bukan dari beras, tapi dari nasi yang udah ada di rice cooker, jadi lebih praktis. Ambil beberapa sendok nasi sesuai porsi, masukkan mangkok. Sebutir telur, kocok, masukkan mangkok. Bit/wortel, potong dadu, cuci, masukkan mangkok. Ayam/ikan/daging cincang/teri medan, ambil porsi sekali makan dari kulkas, lelehkan dalam kukusan, masukkan ke dalam mangkok. Keju slice atau keju batangan, potong-potong atau parut sedikit, masukkan ke dalam mangkok. Tomat, buang kulit arinya, cuci, masukkan ke dalam mangkok. Garam/merica seperlunya, masukkan ke dalam mangkok. Campur rata semua. Masukkan ke dalam cup-cup kecil yang sudah diolesi mentega sedikit agar tidak lengket, jangan sampai penuh, kalau bisa 3 / 4 -nya saja (sisakan tempat untuk air kaldu). Ambil beberapa bungkus air kaldu dari dalam freezer, rebus dalam panci tersendiri hingga mendidih, tambahkan daun bawang yang sudah diiris tipis (biar wanginya lebih menggoda euy!), ambil sebagian untuk diisi ke dalam cup nasi tadi sampai penuh. Air kaldu yang tersisa biarkan mendidih dan berada dalam panci. Masukkan cup nasi ke dalam panci kukusan hingga matang. Sajikan dengan kuah kaldu dan taburan bawang goreng. Kira dan ziya bisa habis 2-3 cup sekali makan nih…ssslllrrrppppppp!

Bagaimana, berminat mencoba? Dijamin waktu memasak jadi lebih praktis, menyenangkan dan nggak terlalu repot deh… Selama ini sih, mama selesai masak sekitar 20-45 menit. Masakan yang masih panas mama letakkan dalam piring makan kira dan ziya di atas meja agar pas dimakan nanti tidak terlalu panas namun hangat saja, tutup dengan tudung saji, mama mandi, sholat subuh, memandikan kira dan ziya bergantian atau sekaligus, nah, kuncinya di sini nih kalau mama perhatikan,..habis mandi kan dingin dan segar tuh, perut lapar, udah capek main sejak jam 4, mulai ngantuk sedikit, jadi ini dia nih saat yang paling ok buat makan! Nyam..nyam..nyam.. makan pagi kira dan ziya biasanya selalu lebih lahap dibandingkan makan siang dan makan sore. Jadi makan pagi adalah kesempatan mama menyelipkan beragam nutrisi sayur mayur dan lauk pauk karena kira dan ziya pasti akan makan dengan lahap dan bersemangat. Setelah makan, biasanya jalan-jalan pagi di depan rumah sebentar lalu nyusu dan zzzzzzzzzzzzzzz….tidur nyenyak sekitar 1-2 jam. Siippp! Saatnya mama baca koran, majalah, buku, cek email, nulis, atau iseng bikin puding roti pisang kukus buat camilan para bidadari atau peras jeruk untuk dimasukkan kulkas dan diminum segar dan dingin ketika kira dan ziya bangun nanti… atau… mama ikut tidur juga ah,…hoooaaahhhhmmmmmm…. Zzzzzzzzzz…..
TAMU ISTIMEWA

Hari Minggu tanggal 18 Februari 2007 siang, wilayah sekitar rumah kami kedatangan tamu istimewa: angin puting beliung! Konon ia berputar-putar tidak jauh dari persimpangan jalan. Datang ditemani hujan lebat yang berlomba-lomba mengetuk genteng, air akhirnya masuk ke plafon di hampir setiap ruangan dan membasahi sebagian besar ruangan di rumah.

Sulit diceritakan apa yang terjadi hanya sesaat itu. Yang jelas ketika langit memutih, hujan mengabut, angin berputar-putar, petir menggelegar berkali-kali dan air setinggi betis mengalir deras di luar pagar, kira dan ziya diam dalam pelukan mama dan oma. Seperti mengerti sedang terjadi sesuatu. Kami melempar pandangan ke luar jendela, kemudian ke teras luar melalui garasi dan mendapati masyarakat di sekitar rumah sedang berada di luar juga menyaksikan apa yang baru saja terjadi dalam sekejap. Dari jauh simpang jalan terlihat ramai oleh pejalan kaki maupun pengendara sepeda motor. Ternyata beberapa pohon tumbang mengakibatkan jalanan sama sekali tidak bisa dilewati dan menimpa beberapa bagian warung. Konon pohon yang tumbang juga menimpa beberapa buah mobil.

Situasi di dalam rumah tidak kalah seru. Sebagian besar ruangan dibanjiri air yang jatuh dari plafon maupun tampias dari bawah pintu dan ventilasi udara. Alhasil semua kasur dan sebagian bantal-guling basah kuyup. Tidak sempat terselamatkan karena yang awalnya hanya sekitar satu titik kebocoran berkembang hingga tiga, lima sampai kemudian mengucur bagai keran yang terbuka. Srrrrrrr….


Panik? Tentu saja, awalnya. Tapi mama dan oma kemudian berpikir kepanikan nggak ada gunanya karena tidak membuat situasi lebih baik. Maka kami berusaha tenang-tenang saja dulu, karena kalau panik dan tidak bisa mengendalikan diri, kira dan ziya juga pasti akan ikut ketakutan dan cemas.

Ditengah situai demikian, Alhamdulillah kira dan ziya tetap bisa tidur sebentar setelah menyusu sore itu di ruang tengah, beralas kasur lipat dan beberapa bantal yang masih bisa diselamatkan. Setelah keduanya tidur, baru mama membantu oma membereskan beberapa hal.
Bersyukurlah, nak, masih bisa menikmati tidur nyenyak dalam kondisi demikian. Ini kali pertama kira dan ziya menghadapi situasi darurat. Alhamdulillah mama dan oma bisa tetap santai. Kami bergantian makan siang yang sudah tertunda beberapa jam. Dengan perut terisi tentu segalanya akan jadi lebih mudah dan lebih nyaman. Bersyukur rasanya situasi bisa diatasi pelan-pelan. Bersyukur air bersih masih mengalir tanpa gangguan setelahnya. Bersyukur lampu hanya mati di beberapa ruangan karena rembesan air mengalir tepat di titik lampu. Bersyukur karena listrik tidak mati di wilayah ini. Bersyukur karena meskipun telepon mati namun petugas segera datang beberapa hari kemudian sehingga kabel yang putus bisa diperbaiki lagi. Kondisi seperti ini rasanya adalah waktu yang tepat untuk merenung dan introspeksi diri. Selain bersyukur dan berusaha ikhlas dengan apa yang terjadi, rasanya tidak ada alasan untuk mengeluh. Ini ujian kesabaran kan?

Begitulah, banjir di luar pagar rumah memang sempat tinggi dan deras namun hanya sesaat, mungkin hanya sekitar 1 menit, sekedar lewat karena jalanannya menurun dan biasa terjadi jika curah hujan sangat lebat. Kali ini banjir meninggalkan akibat cukup parah bagi beberapa rumah yang sempat dimasukinya, termasuk tetangga kami. Menurut cerita beberapa warga, angin puting beliung selain merubuhkan cukup banyak pohon, juga sempat memuntir sebuah antena di rumah yang tak jauh dari rumah kami sehingga atapnya jebol dan hujan membasahi kamar. Ada pula tetangga yang 8 lembar atap asbes di atas dapurnya terbang entah ke mana dan tidak bisa ditemukan lagi.

Mendengar informasi di media tentang kemungkinan angin puting beliung masih mengincar Jakarta hingga beberapa bulan ke depan, pohon beringin di sudut jalan pun diputuskan untuk ditebang.

Alhamdulillah di tengah situasi yang masih belum betul-betul pulih hingga hari ini, kira dan ziya selalu bisa bermain dengan ceria (malah sejak sering hujan, ada satu lagu yang melekat dikepala kira dan ziya, “ mamaa..! ti-ti-ti-tik..!” kata mereka biasanya sambil menunjuk jendela yang basah. Kemudian mama akan langsung pasang style Indonesian idol untuk nyanyi lagu “ tik tik tik..bunyi hujan di atas genting.. airnya turun.. tidak terkira..”, sampai kira dan ziya ikut bersenandung dengan bahasa mereka, menggoyang-goyangkan tangan dan kepalanya ke kiri dan ke kanan..duh lucunya..). Kamar yang bebas perabot (karena semua dialokasikan ke tempat yang aman sejak bocor berat itu) membuat kira dan ziya semakin bebas berlarian dan bermain.

Bersyukurlah, nak, kita masih bisa menikmati kebahagiaan berkumpul bersama dalam keadaan sehat wal afiat. Apa yang kita alami mungkin tak seberapa dibandingkan apa yang dialami saudara-saudara kita yang lebih parah kerusakan rumahnya akibat banjir dan angin puting beliung kemarin ini, bahkan mungkin banyak yang sampai tidak memiliki tempat tinggal karena rusak total. Semoga kondisi darurat membuat kira dan ziya menjadi terlatih, tahan banting dalam berbagai situasi maupun kondisi dan lebih peka terhadap sekitarnya.

Semoga masyarakat yang mengalami kerusakan dan kehilangan harta benda maupun keluarga akibat musibah ini mendapatkan petunjukNya untuk lebih sabar dan tetap tawakal kepadaNya. Dan semoga Allah memberikan gantinya yang lebih baik melalui jalanNya yang tak terduga kepada saudara-saurada kita tersebut. Amiin.
MAMA BAHAGIA MENYUSUI KALIAN, SAYANG!


Saat ini Kira & Ziya sudah berusia 1 tahun 4 bulan dan masih menyusu ASI kapan saja mereka inginkan, meskipun sesekali sudah mulai dikenalkan dengan susu UHT plain. Dalam tulisan kali ini mama ingin berbagi pengalaman kepada para ibu yang berniat dan bertekad menyusui buah hati mereka. Meskipun masih belajar dan belajar terus sampai sekarang, dengan pengalaman yang masih minim dan belum apa-apa ini, mama berharap bisa memberi semangat dan menginspirasikan para ibu (yang mama yakin punya pengalaman berbeda-beda dan spesial) untuk juga saling berbagi dan memberi motivasi tentang indah dan bahagianya bisa menyusui anak-anak tercinta, terutama secara eksklusif 6 bulan sesuai anjuran WHO dan diteruskan sampai 2 tahun untuk menyempurnakannya sesuai Al-Qur’an (Al-Baqarah: 233).

Mama mulai dari sini deh…
Mama kenal pentingnya ASI eksklusif sebetulnya sudah sejak awal kehamilan melalui buku-buku kesehatan, artikel di koran/majalah/internet, mailing list kehamilan dan kesehatan, acara kesehatan di televisi dan banyak sumber lainnya. Semangat dan keinginan mama untuk memberikan ASI bertambah kuat saat 3 bulan terakhir kehamilan. Mulai bulan ke-7, setiap kali ada kesempatan mama coba pijat khusus sendiri untuk memperlancar air susu (sesuai guideline yang banyak terdapat di buku-buku tentang pijat payudara untuk ASI) dan pesan daun katuk setiap hari (meskipun bukan hanya daun katuk lho yang bermanfaat, sebaiknya juga konsumsi sayur-mayur lain + buah-buahan yang cukup). Tukang sayur yang lewat di depan rumah waktu itu sempat komentar, “ kok sekarang sih makan daun katuknya?,..Orang mah nanti aja kalau udah lahir bayinya…”. Mama senyum aja. Terserah deh mau komentar apa..yang jelas mama ingin mengusahakan apapun yang bisa dilakukan sejak awal agar pada waktunya nanti bisa menyusui kalian berdua langsung.

Maka tibalah saatnya…
Hari pertama beberapa jam setelah melahirkan sesar, mama di pindah dari ruang peralihan ke ruang rawat inap dengan selang kateter, infus dan perban di perut. Tiba-tiba suster menyampaikan bahwa di ruang bayi, ziya & kira mengalami merah-merah di wajah. Perkiraan dokter karena alergi susu formula! Haa…Susu formula? Kok pihak rumah sakit begitu saja memberikan susu formula kepada bidadari kembar mama dan papa tanpa konfirmasi ya? Bukankah dalam 48 jam pertama kehidupannya bayi sangat membutuhkan kolostrum dari ASI untuk melapisi saluran pencernaannya dan menghentikan masuknya bakteri ke dalam darah yang bisa menyebabkannya infeksi? (jumlah yang dibutuhkannya pun tidak terlalu banyak hanya setengah sendok teh di penyusuan pertama kemudian 1-2 sendok teh di penyusuan hari kedua, apa sulitnya untuk membantu mama memerah sedikit kolostrum lalu diberikan ke kira & ziya?—sayang ilmu mama soal ASI saat itu belum selengkap sekarang dan mama terlalu lemah untuk protes). Mungkin kebijakan dokter: mama nggak bisa menyusui karena masih teler pasca operasi. Tapi kalaupun tidak disusui, bukankah bayi punya kemampuan bertahan tanpa minum apa-apa karena masih punya cadangan makanan berupa tumpukan lemak di sekitar leher dan bahu yang di dapatnya pada minggu-minggu terakhir dalam kandungan? Dan bukankah perutnya juga penuh dengan cairan amniotic (ketuban) yang diminumnya sejak minggu ke-12 dalam kandungan sehingga tidak perlu diberikan susu formula untuk menggantikan ASI? Kenapa kira & ziya tidak diberikan kepada mama sesaat setelah mereka lahir agar bisa dipeluk dan terjadi kontak kulit dengan mama sehingga mereka merasa nyaman dan mengenali mamanya? (di ruang operasi, setelah mendengar suara kira & ziya menangis saat diangkat, mama hanya dikabarkan oleh salah satu dokter, ” nah, Bu… si kembar udah lahir yaa..lagi diperiksa oleh dokter anaknya,…” dan mama sambil menggigil menahan dingin plus kantuk luar biasa hanya bisa senyum saja sambil bersyukur karena semua lancar). Bukankah kontak kulit selain bisa sebagai penyembuh bagi rasa sakit ibunya setelah menjalani operasi juga dapat memberikan rangsangan pada puting susu sehingga kemudian ASI dapat keluar seperti pada proses melahirkan normal umumnya? Duh, seribu pertanyaan berloncatan dari kepala dan hati mama. Kecewa rasanya. Merasa kecolongan karena sesungguhnya mama tahu bahwa ASI harus segera diberikan tapi semua terjadi karena mama nggak terlebih dulu titip pesan atau mengkonsultasikan kepada dokter atau petugas medis lainnya sebelum operasi (atau malah seharusnya mama bertanya bagaimana kebijakan rumah sakit setelah operasi sesar sehingga bisa memilih rumah sakit yang tepat) agar kira & ziya tidak diberikan susu formula melainkan diusahakan menyusu ASI segera setelah lahir meskipun mama berada di ruang pemulihan. Merasa kecolongan karena pede aja berpikir bahwa rumah sakit pasti tahu bahwa makanan terbaik bayi sejak lahir hingga 6 bulan pertama adalah ASI saja tanpa tambahan apa-apa apalagi susu formula/susu sapi. Merasa kecolongan karena ternyata tidak ada dukungan berarti dari pihak rumah sakit mengenai pemberian ASI eksklusif, padahal ini sangat penting untuk memompa rasa percaya diri ibu dalam proses menyusui kelak.

Begitulah, ketika mulai pulih mama minta ijin kira & ziya dibawa ke kamar inap mama karena ingin menyusui langsung dan kalau bisa diijinkan menginap malam hari. Tapi hanya kira yang diperbolehkan. Ziya harus tetap di inkubator karena berat lahirnya hanya 2.450kg (sementara berat lahir kira 3.150 kg). Jadilah hari itu semalaman mama bangun setiap setengah jam, masih sakit luar biasa setiap kali bergerak plus selang infus di tangan, berusaha menyusui kira sambil menegakkan sedikit sandaran tempat tidur sambil terus belajar mencari posisi menyusui yang enak buat berdua (dan rasanya mama masih ingat setiap memulai gerakan, luka akibat operasinya seperti mau lepas saja!). Ajaib.. setiap kali kira dalam pelukan mama, menyusu dan tertidur, mama lupa dengan seluruh rasa sakit itu.

Yang terjadi kemudian, besoknya kira dibawa ke ruang bayi dan nggak lagi diperkenankan menginap di ruangan mama ketika malam. Kenapa ya? Ternyata alasan pihak rumah sakit adalah “karena ibu butuh istirahat”. Hmm.. betul kondisi saat itu mama kurang tidur dan masih lelah, belum lagi lecet-lecet karena posisi menyusui yang belum pas. Tapi hal itu tidak lantas membuat semangat mama surut untuk menyusui bidadari kembar mama dong. Lantas, kok nggak boleh sih? Duh, mama nggak tahu harus gimana…Kira tetap saja dibawa ke ruang bayi. Begitu kira pergi, rasa sakit di perut mama muncul lagi deh.

Nah, setelah bersentuhan dengan ASI semalaman, Subhanallah, ternyata kulit kira yang diduga alergi susu formula berangsur pulih normal. Merah-merahnya hilang! Alhamdulillah! Hal ini bikin semangat mama naik lagi. Mama harus menyusui ziya. Maka setelah 24 jam, mama berlajar jalan. Rasanya? Wow,.. nyeri minta ampun deh, kateter dan infus sih sudah dilepaskan, tapi sendi-sendi rasanya kaku semua, setiap kali bergerak jahitan di perut mama rasanya nggak karuan, seperti mau robek lagi! Bersyukur dalam kondisi demikian dari awal sampai mama pulih dan bisa jalan sedikit-sedikit, papa selalu ada mendampingi dan memberi semangat. Awalnya dibantu papa bangun dari tempat tidur, lalu berhasil duduk tapi mama perlu istirahat dulu menahan sakit, begitu siap bergerak lagi papa bantu mama meletakkan kaki di lantai, berpegang pada bangku atau bahu papa dan mama mulai belajar jalan. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah,..sampai akhirnya hari itu mama bisa lepas dari kursi dan jalan tertatih-tatih dibantu papa. Ini dia waktu yang ditunggu-tunggu, mama sudah siap! Mama telpon ke ruang bayi dan menyampaikan kepada suster ingin menyusui ziya yang masih di inkubator.

Sampai di ruangan, mama ambil posisi pojok, bersandar pada bangku, berusaha memposisikan ziya dengan nyaman. Seorang suster sempat melihat dari jauh dan berkomentar ttg air susu mama waktu mama cek apakah sudah lancar keluarnya, "wah, masih sedikit banget ASI-nya!". That’s it? Sekedar komentar tanpa berusaha menghampiri dan membantu mama menstimulasi agar air susu bisa mengalir lancar dan banyak. Ya nggak apa-apa juga sih, nggak masalah kok. Mama pede aja. Mama tetap yakin tekad dan usaha mama akan membuahkan hasil cepat atau lambat (andai saat itu mama tahu dan sudah menemukan buku yang menyatakan bahwa di 48 jam pertama kehidupannya, bayi memang tidak membutuhkan terlalu banyak air susu--hanya setengah sendok teh kolostrum saat pertama menyusu dan 1-2 sendok teh di hari kedua--mungkin mama akan bisa lebih rileks lagi sehingga lebih memaksimalkan proses menyusui ziya di ruang bayi itu). So, sendirian di ruangan mama susui ziya sampai puas dan tertidur. Mama yakin ASI akan melepaskan ziya dari inkubator segera. Setelah itu, setiap saat mama minta dikabari kalau ziya & kira nangis, begitu pula setiap tiba waktunya minum susu (kira-kira tiap 2 jam menurut pihak rumah sakit). Tapi keinginan dan harapan ya tinggal keinginan. Setiap kali mama telpon ke ruang bayi kalau tidak diangkat, disampaikan ziya masih tidur dan belum waktunya menyusu atau kira dan ziya sudah kenyang oleh susu formula! What??? Ya Allah..mama harus gimana lagi yaaa…ternyata menyusui memang nggak cukup hanya tekad dan niat besar tapi perlu perjuangan nggak habis-habis, ketegaran dan nggak putus asa. Dan ini baru awal kan…

Hari sudah malam, ruang bayi mulai tertutup rapat, selasar gelap dan sepi pengunjung. Rumah sakit sepertinya sudah otomatis memberikan susu formula kepada semua bayi di ruangan itu ketika ibunya dalam perawatan (padahal dalam banyak penelitian di negara maju,---setelah sekarang mama banyak membaca nih---bukankah susu sapi jelas mengandung protein yang lama bertahan di perut bayi karena sulit dicerna sehingga bayi merasa kenyang lebih lama dan mengandung casomorphins yang membuat bayi mengantuk sehingga bisa tidur nyenyak? Itu sebabnya seringkali bayi di rumah sakit seolah-olah punya jadwal teratur sekian jam sekali baru terbangun ya). Mama jadi tahu deh bahwa rumah sakit tersebut bukan “rumah sakit sayang ibu” (istilah bagi rumah sakit yang mendukung ASI eksklusif dan membolehkan bayi menginap satu kamar dengan ibunya/room in sehingga mudah disusui kapan saja). So, what can I do? Mama sedih, tidak bisa dengan maksimal memberikan ASI saat itu, tapi tidak mengurangi semangat mama dan rasa cinta mama kepada kira & ziya. Mama kalian ini bukan mama yang mudah putus asa lho, mama bertekad untuk terus berjuang dan berusaha belajar, nak! Nah kemudian ada kabar gembira yang sedikit menghibur hati mama. Setelah bersentuhan dengan ASI, suster mengabari kalau kulit ziya juga berangsur normal, merah-merahnya hilang! Alhamdulillah..

Hari terakhir suster menyatakan bahwa kira & ziya harus dicek bilirubinnya karena khawatir kuning. Sungguh, mama nggak bisa bayangkan pulang ke rumah tanpa kalian kalau kalian memang harus tinggal untuk menjalani perawatan di rumah sakit karena kuning. Sambil terus berdoa mama berusaha menyusui lebih sering di ruang bayi karena mama yakin ASI adalah cairan hidup yang akan menyelamatkan kalian. Sesaat sebelum membereskan kepulangan, kami mendapat kabar kalau bilirubin kira & ziya ternyata normal dan bagus. Alhamdulillah,..Syukurlah. Kami bersiap-siap pulang. Saat membereskan administrasi, ternyata mama dibekali sepaket perlengkapan bayi (dari sponsor rumah sakit) seperti lotion, sabun cair, dsb, plus dua kaleng susu formula yang berbeda buat kira dan ziya berikut petunjuk penggunaannya. Menurut pihak rumah sakit karena berat ziya kurang jadi harus diberikan susu formula khusus penambah berat badan, sedangkan kira diberikan susu yang berbeda karena susu sebelumnya dikhawatirkan memberikan dampak alergi lebih besar pada kulitnya. Mama bawa pulang, tapi tetap dengan tekad bahwa sampai rumah mama ingin menyusui kalian eksklusif selama 6 bulan dan melanjutkannya hingga 2 tahun.

Baru beberapa waktu di rumah, mama ditelpon oleh seorang ahli gizi dari produsen susu yang mama bawa pulang. Haa? Kok bisa? Selanjutnya hampir tiap bulan rutin pasti ada saja telpon dari mereka, isinya apa lagi kalau bukan wejangan soal gizi anak dan pentingnya tambahan susu (nah, mama dan papa jadi bertanya-tanya lagi,..kalau bukan dari pihak rumah sakit, bagaimana mungkin produsen susu tersebut mengetahui telpon rumah kami dan tahu bahwa kami baru memiliki bayi yang dibekali susu formula merk tertentu? Bukankah rumah sakit seharusnya merahasiakan identitas pasiennya dan tidak demikian mudah memberikan nomor telpon pasien kepada pihak lain tanpa ijin? Hmmm…jadi rumah sakit sudah menjadi ajang promosi ya…). Setiap kali ditelpon mama selalu tegaskan bahwa mama tidak berencana memberikan susu formula karena ingin menyusui eksklusif 6 bulan ASI saja. Besok-besoknya tidak jarang mereka telpon saat mama sedang menyusui sehingga tentu saja tidak mama terima. Eyang yang akhirnya berbicara dan menyampaikan sampai saat itu anak-anak tidak diberikan susu formula karena ingin disusui langsung. Eh produsen susu yang menyatakan bahwa dirinya adalah ahli gizi tersebut sempat berkomentar "Ooo gitu..?? udah berapa bulan sekarang,..? kalau dibiarkan dan nggak dikenalkan bisa-bisa nanti susah lho ‘Bu minum susunya pas udah nggak nyusu ASI lagi,.. " dan eyang pun mengakhiri telpon dengan menyampaikan bahwa saat itu mama sedang menyusui anak-anak dan nggak bisa diganggu karena perlu konsentrasi. Setelah dan setelahnya, beberapa kali mama masih saja ditelpon oleh mereka dengan dalih ingin tahu perkembangan anak-anak.

Selesaikah perjuangan memberikan ASI eksklusif sampai di sini? Tentu tidak…Masih panjang sekali..Prosesnya punya perjuangan tersendiri lagi lho,.. dan mungkin juga dialami oleh sebagian besar para ibu yang bertekad sama. Mulai dari rasa cemas karena nggak jarang kira & ziya menangis tidak berhenti berhenti meski sudah menyusu (setelah mempelajarinya, mama tahu bahwa menangis nggak selalu berarti bayi lapar, bisa juga karena mereka tidak nyaman, ingin digendong, bosan, dan sebagainya. Selain itu ASI memang lebih mudah dan cepat diserap hampir seluruhnya oleh bayi sehingga membuatnya cepat haus kembali--ini sudah selalu mama sampaikan ke keluarga di rumah, tapi rasanya mama dianggap belum cukup makan asam garam atau berpengalaman menangani bayi jadi mau tidak mau “harus” mengikuti saja apa nasihat orang yang sudah berpangalaman…--andai mama saat itu punya kekuatan lebih untuk tetap tegas dan tidak mudah menyerah. Nggak apa,..pelan-pelan tapi pasti mama akan perjuangkan dan menyampaikan informasi soal ASI kepada orang rumah dan keluarga), kira & ziya yang terbangun hampir setiap jam bergantian dan kadang bersamaan, rasa lelah dan sakit yang belum pulih akibat operasi sesar dan kondisi pegal seluruh badan karena salah posisi menyusui serta belum benar-benar mengerti bagaimana menyusui yang tepat.

Belum lagi ditambah “bonus” komentar sana-sini dari siapa saja, "..ASI-nya masih sedikit barangkali.. jadi belum puas..", "kasihan nangis terus,..ditambah formula aja deh,..masih laper kali..", " tuh kan nangis lagi,... dibuatin aja yaa formulanya biar bisa tidur nyenyak...", “ bener sih idealnya menyusui eksklusif, tapi kan lihat kondisinya juga,.. kasihan kan mereka kalau kurang gizinya…” wah,.. seribu komentar yang bisa bikin kondisi psikologis ibu menyusui patah semangat dan merasa tidak terdukung udah nggak terhitung. Sekali dua kali tembok pertahanan mama sempat jebol juga tengah malam,… meskipun berkali-kali sudah menyampaikan tekad dan niat menyusui eksklusif ASI saja, tetap tekanan sana-sini nggak berkurang. Dukungan papa tetap ada, tapi apalah kami yang dianggap belum berpengalaman ini. Beberapa kali, kira & ziya sempat bersentuhan dengan susu formula juga dalam kondisi yang konon “memang harus diberikan“ atau “pada saat mama udah nggak bisa berbuat apa-apa” menghadapi jebolnya tembok rasa percaya diri dan kelelahan saat itu. Lucunya (dan beruntungnya,..) susu formula itu nggak juga bisa masuk terlalu banyak setiap kali diberikan, sebab kira & ziya tidak jarang menolak mentah-mentah dot botolnya dan memilih tetap menangis ketimbang menyusu botol dan baru diam setelah didekatkan ke mama dan menyusu ASI. Bidadari kembar mama memang pinter….hehehe..

Seiring waktu, mama mulai pulih dan sehat kembali. Saat itulah mama bangkit, lebih giat lagi berusaha, mengumpulkan sedikit-sedikit tenaga, pikiran, menguatkan kondisi psikologis mama dan mencari jaringan pendukung lewat referensi, buku, artikel, print info dari internet, beberapa komunitas di internet dan salah satu milis kesehatan yang mama ikuti (
sehat@yahoogroups.com dan websitenya www.sehatgroup.web.id) sehingga setiap kali ada komentar dan anjuran untuk memberikan susu tambahan selain ASI sebelum mereka 6 bulan mama sudah semakin punya kekuatan untuk tidak terpengaruh dan tetap menjalankan tekad mama dengan yakin, menyusui bidadari kembar mama!

Jadi, kuncinya? Pantang mundur, berani berkata tidak demi kebaikan ananda tercinta yang tentunya didasari oleh ilmu pengetahuan yang cukup soal kenapa ASI penting, kenapa hanya ASI saja yang sebaiknya diberikan kepada bayi hingga 6 bulan kehidupan awal mereka sampai adanya himbauan badan kesehatan dunia tentang pentingnya ASI eksklusif (akhir-akhir ini mama melihat iklan layanan kesehatan yang langsung disuarakan ibu negara untuk mendukung pemberian ASI eksklusif 6 bulan, bravo!).

Begitulah, meski sempat merasa tidak maksimal pada awal-awal kehadiran kira & ziya di rumah, mama bersyukur karena nggak patah semangat dengan kondisi dan situasi. Sangat penting menguatkan diri dan melapangakan hati ketika mendengar banyak komentar sekitar seperti, “kok tega anaknya masih lapar tapi nggak dikasih formula”, atau komentar teman-teman yang cerita anaknya lebih montok dan gendut dari ziya & kira, komentar orang bahwa anaknya udah bisa tidur nyenyak dan nggak bangun malam lagi karena nggak dibiasakan menyusu malam hari, komentar betapa mama dan papanya pelit amat nggak mau beli formula atau malas bangun malam hari untuk bikin susu..Oouchh,…!

Perkembangan berat badan kira dan ziya meningkat cukup bagus setiap kali ke dokter. Di usia 4 bulan, dokter spesialis anak menganjurkan kira & ziya untuk diperkenalkan dengan pisang, air buah dan biskuit bayi sesekali. Tujuannya sebagai pengenalan saraf pengecap, “..memang betul ASI-nya kan tetap eksklusif, Bu,.. air buah sekali sehari juga kan cuma sekitar sekian cc, karena tujuannya hanya mengenalkan saja.. jadi ASI-nya ya memang tetap eksklusif kan? Itu hanya beda pengertian aja kok…”. Selain itu dokter menceritakan bahwa banyak para ibu dari pasiennya yang mengeluh bayi-bayi mereka dengan ASI eksklusif menjadi susah makan di kemudian hari dan hanya mau susu saja, “ itu menurut beberapa ibu pasien saya lho,.. ya mungkin memang ada yang mengalaminya..terserah ibu saja..”. Demikiankah? Aduh, hal ini kok malah diceritakan ke mama yang bertekad memberikan ASI eksklusif ya? Kenapa setelah menceritakannya dokter nggak memberikan penjelasan yang bisa memantapkan mama jika ingin tetap memberikan ASI eksklusif? Terus terang hal ini sempat mengusik kami, apalagi saat ke dokter mama membawa serta beberapa keluarga untuk menemani. Jadilah opini tersebut dikomentari terus dan menjadi bulan-bulanan, “ ..dulu memang bayi 4 bulan udah boleh diberi pisang kok…” atau “.. nggak apa kali diberi sesekali air buah biar belajar mengenal rasa, kan nggak pingin juga ntar kira & ziya jadi susah makan ya… mungkin dokter benar juga,..” atau “ ya.. mungkin ada yang memang yakin dengan ASI eksklusif, tapi kan lihat kondisinya, kalau air susunya kurang apa salahnya diberikan sesekali biskuit,…kasihan juga kalau memang mereka udah merasa lapar..”. Belum lagi contoh-contoh di masyarakat umum bahwa ada anak yang bahkan sejak usia 1 bulan udah diberi biskuit karena masih lapar tapi toh tumbuh sehat aja sampai besar. Banyak orang dulu sebelum 6 bulan diberi makan bubur juga buktinya sehat aja dan baik-baik saja kok sampai sekarang. Dan sebagainya, dan sebagainya. Wah,..tantangan besar buat mama untuk tetap tegar nih…bikin mama semakin rajin mencari sumber informasi tentang kenapa harus ASI eksklusif. Mama juga mendapat dukungan sangat besar dari milis yang mama ikuti termasuk apa akibatnya jika bayi tidak disusui eksklusif hingga 6 bulan, apa kemungkinan resiko yang terjadi, semua sempat mama print lalu sampaikan ke orang rumah dan siapa saja untuk dibaca-baca sambil santai. Lalu berhentikah kekhawatiran-kekhawatiran itu? Tidak juga. Dapatkan keluarga diyakinkan dengan sumber informasi yang mama dapatkan? Tidak secara langsung tentu saja. Lantas menyerahkah mama dengan situasi yang ada? Tidak. Tidak sama sekali!

Mama bersyukur, termasuk keras kepala soal apa yang mama yakini (ini pasti yang ada dalam kepala orang-orang soal tekad mama hehehe,.. lha wong dokternya aja udah bilang demikian kok malah masih nggak mau ngikutin hihihi). Tapi kan mama nggak keras kepala tanpa alasan toh? Sekali lagi satu hal yang sangat mama syukuri, papa selalu ada di sisi mama. Papa yakin dan percaya mama sudah tahu apa yang mama lakukan. Dengan bekal informasi yang cukup, mama dan papa yakin masalah susah makan belum tentu karena efek pemberian ASI secara eksklusif. Kalaupun hal itu terjadi nanti, mama dan papa yakin bisa dicari solusinya. Satu lagi yang mendukung mama saat-saat mama diragukan situasi dan kondisi adalah bude Dewi (makasih supportnya ya, mbak! www.alghin.blogspot.com), kakak ipar mama, yang juga mengenalkan mama dengan milis sehat (thanks to milis sehat, para dokter dan smart parents yang tergabung di dalamnya! Milis yang kemudian membuka dan mengubah cara pandang mama tentang kesehatan anak khususnya dan cara menangani anak sakit). Oh ya, salah satu sahabat mama, tante Murni, juga kemudian menjadi teman mama berbagi ilmu dan pengalaman soal ASI setelah tante Murni memiliki adik Zam. Kami jadi bisa saling menyemangati jika salah satu membutuhkan dukungan.

Begitulah sekelumit suka duka proses menyusui yang ingin mama bagi kepada siapa-saja..Alhamdulillah semua bisa dijalani dengan nikmat, rasa syukur dan menjadi pengalaman berharga yang terus berjalan sampai sekarang. 


Breastfeeding father (I’m so lucky to have you, dear!)
Mama sungguh beruntung, nak, karena papa adalah suami yang tidak henti-hentinya menyejukkan hati mama. Papa suami yang bersedia jadi teman diskusi untuk sama-sama membuka hati dan pikiran dalam belajar dan belajar tentang ilmu ASI, selalu bisa menjadi sandaran dan pemompa semangat serta kesabaran setiap kali mama down dan merasa perlu dukungan untuk terus maju. Mama sungguh nggak habis mensyukuri karena papa kita tidak segan-segan membantu pekerjaan rumah tangga sejak mama hamil bahkan sampai sekarang.

Kalau mama sedang repot di dapur mempersiapkan makanan kira dan ziya, papa pasti selalu siap sedia jadi teman main yang ok sambil menunggu mama selesai. Setiap mama menyusui kira & ziya, nggak jarang papa memijat kaki mama sambil menemani nonton tv, ikut bangun malam hari untuk mengipas-ngipas, menggendong, bersenandung, atau menepuk-nepuk pantat kira & ziya agar bisa tidur nyenyak kembali. Papa orang yang selalu siap mengangkat salah satu dari kalian untuk didekatkan ke susu mama yang satunya (sementara yang lain mama gendong dan dekatkan ke susu yang satu lagi) agar kira & ziya bisa disusui secara tandem sekaligus ketika haus malam hari. Coba bayangkan nikmatnya dibawakan teh hangat dan setangkup roti selai coklat kacang ketika sedang konsentrasi menyusui sambil terkantuk-kantuk. Nikmatnya ada yang memijat bahu dan kaki yang kaku dan pegal-pegal saat menyusui dan tak jarang kesemutan karena terlalu lama duduk. Bahagianya ada yang menemani di sisi hanya demi mendengarkan curhat mama dan mengamati betapa kira & ziya menggemaskan jika sedang komat-kamit menyusu. Sejuknya jika ada yang membisikkan ke telinga ketika sedang meringis menahan perih atau lecet karena kira & ziya mulai tumbuh gigi dan mulai suka main-main sambil menyusu, “..makasih mama,..sudah memberikan yang terbaik buat kira & ziya…mama pasti capek ya…”. Atau sms yang isinya, “ you are a great mother and wife, dear.. makasih mama…”. Duh..kalau udah begitu semua kelelahan, rasa sakit dan tekanan psikologis yang pernah dilalui tiba-tiba lenyap masuk perut bumi dan nggak pernah kembali lagi. Ini hanya segelintir kecil yang bisa diceritakan lho,..apa yang papa berikan sungguh lebih dari apa yang bisa mama sampaikan karena hanya bisa mama rasakan. Makasih, papa.. you are a wonderful husband and a great father! I’m so lucky to have you.. I love you so much,..we love you so much, papa..!

Tetap Semangaaaattt … graaakkk!Jadi kira-kira yang bisa mama sampaikan buat para ibu yang berniat menyusui eksklusif sampai 6 bulan dan meneruskannya hingga 2 tahun, tetaplah penuh semangat dan jangan pernah kalah atau menyerah dengan kondisi dan situasi apapun (sampai sekarang mama juga masih terus dan terus belajar lho tentang ini, perjuangan mama kan masih panjang..). Jangan lupa mencari jaringan pendukung terutama suami tercinta, keluarga terdekat dan para sahabat, jangan ragu meminta bantuan dan mencari lembaga sentra laktasi jika menemui kesulitan dalam proses menyusui sehingga bisa mendapat ilmu yang cukup. Kalau sudah terlanjur memberikan susu formula sejak awal, jangan putus asa, relaktasi atau pemberian ASI kembali selalu bisa dilakukan, cari sumber-sumber ilmunya di banyak media, berikan ASI yang bisa diberikan secara maksimal mulai sekarang dan tetap berusaha berpikir positif supaya air susu bisa lancar (bukankah kondisi psikologis berperan sangat besar untuk kelancaran ASI?). Jika sesekali cemas karena kondisi dan situasi, mama selalu berusaha berpikir bahwa jika mama yakin ASI mama cukup buat menyusui ziya & kira, maka ASI akan cukup. ASI bukan hanya tidak perlu biaya, mudah didapat dan higienis, tapi juga merupakan cairan hidup yang dapat menyelamatkan buah hati kita tercinta!

Jadi, mungkinkah menyusui bayi kembar sekaligus?
Tentu saja! Mama sudah membuktikannya kan? Jangan ragu dan menjadikannya halangan. Pengalaman mama seru dan asik, tentunya istimewa dan beda dari para ibu yang menyusui cuma satu bayi saja.

Sudah menjadi hal yang biasa tuh jika seluruh kaki mama kesemutan karena kira & ziya bertumpu menyusu di kiri & kanan cukup lama sampai pulas tertidur (posisi menyusui bayi kembar banyak terapat di internet dan buku-buku tentang kehamilan, tapi memang hanya ibu dan bayinya yang tahu berdasarkan pengalaman mana posisi yang paling nyaman buat mereka). Mama kadang khawatir pas diangkat ke tempat tidur kira & ziya terbangun lalu tidak bisa tidur lagi, jadi biasanya setelah tertidur dan lepas dari menyusu, mama membiarkan sejenak kira & ziya sampai betul-betul nyenyak baru dipindahkan. Sudah menjadi hal yang biasa juga pada saat kira & ziya menyusu, salah satu tertidur nyenyak namun yang satunya masih bangun dan mengoceh cukup keras sehingga yang sudah terlanjur nyenyak dipangkuan yang satunya terbangun tidak nyaman dan menangis. Akhirnya.. dua-duanya jadi menangis. Kalau sudah demikian, salah satu harus digendong papanya/omanya/eyangnya atau siapa saja yang ada saat itu sebelum diposisikan menyusu kembali bersamaan. Atau ketika menyusu salah satu tangan ziya refleks nyolek-nyolek wajah kira sehingga kira merasa risih dan balik nyolek tapi kebablasan jadi nggak nyusu melainkan jambak-jambakan, cubit-cubitan atau cakar-cakaran dan akhirnya nangis duet! Pernah suatu kali ketika sedang gatal tumbuh gigi, ziya menggigit keras dan tiba-tiba sampai mama kesakitan lalu refleks mencet hidungnya supaya melepaskan gigitan. Ziya jadi tambah marah dan menangis. Mama minta maaf sama ziya dan menjelaskan bahwa mama kesakitan kalau demikian, ziya diam lalu menyusu kembali. Tapi sedetik kemudian terjadi hal yang sama. Dan setiap kali pula mama refleks berteriak, “ aduh ziya,.. mama sakit doong!”. Ziya kembali menangis. Akhirnya papa ambil alih menggendong ziya sampai tidur sementara mama tetap menyusui Kira yang entah kenapa beberapa saat kemudian ikut menggigit-gigit tapi sambil nyengir dan menggoda mama. Ck ck ck .. mama gemeeessss deh,..hehehe.

Sudah biasa buat mama kalau pinggang & punggung sakit karena salah posisi, dada sesak dan perut nyeri karena lama menunduk dan tertekan tanpa disadari, mata sembab kurang tidur semalaman dan besoknya mengantuk luar biasa seharian atau puting lecet karena gigi-gigi kira & ziya mulai tumbuh sehingga rajin menggigit/menarik-narik/bermain-main dengan puting susu (pernah semalaman mama hanya menyusui kira & ziya bergantiang dengan salah satu susu mama saja karena yang satunya luka sampai berdarah dan sakit luar biasa untuk disusui, so yang luka mama olesi ASI sebagai obatnya dan perah dengan tangan setiap kali yang satunya selesai disusui, lumayan buat disimpan di freezer sebagai cadangan sewaktu-waktu. Besoknya coba menyusui kedua-duanya, sakit dan perih karena sempat terkelupas tapi lama-lama jadi terbiasa dan akhirnya sembuh juga). Sudah biasa mama bangun malam berkali-kali dan baru bisa nyenyak sebentar saja menjelang pagi atau adzan subuh, tidak jarang pagi-pagi setelah kira & ziya mandi mama tidak jadi sarapan karena kira & ziya malah menangis mengantuk dan ingin menyusu lagi. Pernah juga mama duduk kaku tidak bisa bergerak selama sekitar 1 jam lebih karena nggak ada yang bantu mama mengangkat kira & ziya ke atas kasur (nggak ada satupun orang di kamar, mungkin pada lupa dan keasikan baca koran di ruang luar sambil sarapan, sementara mama terjebak nggak bisa memanggil keras dari dalam kamar karena bersuara sedikit saja bisa bikin kira & ziya terbangun lalu menangis sejadi-jadinya karena terganggu dan lantas tidak jadi tidur. Akibatnya? Kaki kesemutan nggak karuan, perut keroncongan karena laper hehehe, pantat pegal karena duduk terlalu lama, pinggang & punggung sakit karena sering terpaksa membungkuk mengikuti posisi tidur kira & ziya sambil menyusu (setiap kali mama coba membenarkan posisi entah kenapa kira & ziya malah semakin kuat menarik-narik dan menancapkan gigi-gigi atas dan bawahnya yang total udah hampir 9 buah itu!), hihihi seru kan..! Baru di usia sekitar 1 tahun mama menemukan posisi yang ok buat menyusui sambil tidur jika memungkinkan. Lumayanlah,..mama jadi bisa sedikit beristirahat, kira atau ziya jadi lebih mudah tidur. Tapi tentu ini nggak bisa dilakukan jika dua-duanya bangun dan ingin menyusu. Artinya harus menyusui dalam posisi sambil duduk.

Indahnya bisa memiliki momen menyusui kalian, sayang!Lalu, kapokkah mama menyusui bidadari kembar mama tercinta? Alhamdulillah, tidak pernah! Mama justru semakin bisa menikmati karena mulai tahu mana posisi yang paling nyaman buat kita bertiga (masing-masing posisi kepala kira & ziya di dada sementara badan dan kaki menempel di pinggang mama ke arah belakang) dan mama selalu merindukan saat-saat kalian menyusu. Coba bayangkan, adakah yang lebih indah daripada kehangatan dan kemesraan saat kira & ziya mulai bisa sesekali menatap mata mama dalam-dalam sebelum akirnya tertidur puas di dada, keindahan saat sesekali kira & ziya bermain-main sambil menyusu kemudian melepaskan susu hanya untuk tersenyum dan bergumam lirih "mama..." lalu kembali menyusu lagi dan tertidur pulas, momen ketika kira & ziya menyusu sambil mengelus-elus pipi mama, leher mama, sepanjang lengan mama, memainkan kuping dan hidung mama, menarik-narik rambut mama atau menyelipkan tangan ke ketiak dan balik baju mama sambil tetap menyusu dan memejamkan mata, tidak jarang pula kira & ziya menyusu sambil cekikikan dan bercanda dengan mama..atau betapa mama rindu melihat cemerlangnya sinar di mata kalian ketika tahu mama sedang menyiapkan bantal untuk duduk manis di atas kasur dan ambil posisi untuk menyusui kalian kemudian kira & ziya berlarian menghambur ke pelukan mama sambil berteriak dan tertawa-tawa “..cyu-cyu..mama! ciniii..ciniii…(susu..mama! sini,..sini..)”.. Subhanallah,.. keindahan dan kenikmatan menjadi ibu…Betapa setiap momen sangat berharga dan berarti, nak…

Hingga sekarang mama masih sering bangun malam hari untuk menyusui kira & ziya jika terbangun dan menangis. Mama juga masih bersemangat mencari buku-buku baru soal ASI, mama ingin terus belajar dan menambah ilmu. Setelah melalui proses panjang termasuk menyampaikan banyak referensi tentang ASI terutama kepada keluarga, sekarang malah setiap ada info soal ASI di tv, mama dan oma, misalnya, selalu rajin dulu-duluan saling telpon atau sms, " ..in,.. ada soal ASI tuh di tv,.." .." iya,..baru aja mau telpon mama,..". Atau kalau dapat artikel di internet, lihat buku baru tentang ASI, mama selalu forward informasinya ke papa dan kalau memungkinan titip papa untuk membelikannya. Kemudian kami baca sama-sama saat kalian sudah tidur, sambil ngobrol ngalor ngidul, sambil menyeruput teh hangat, makan es krim atau keripik singkong favorit papa, sambil santailah.. Nah, asik banget kan..bisa sama-sama mendengarkan, bertukar informasi dan ilmu, berdiskusi soal ASI dengan keluarga tercinta yang setelah tahu ilmunya menjadi pendukung utama keberhasilan mama menyusui kira & ziya sampai sekarang. Alhamdulillah…

Panjang ya, cerita mama? 
Hehehehe, mama ingin suatu saat cerita ini menjadi sumber inspirasi kalian berdua ketika menjadi ibu kelak. Buat siapapun yang membacanya (bukan hanya para ibu/calon ibu tapi juga para ayah/calon ayah ---sebab berdasarkan pengalaman mama dan banyak penelitian di negara-negara maju ternyata ayah mempunyai peran sangat besar dalam keberhasilan proses menyusui), semoga pengalaman ini bisa memberikan inspirasi dan manfaat yang positif. Menyusui memang proses alamiah yang harus dialami langsung, harus dipelajari ilmunya dan dilatih terus-menerus. Mama yakin setiap ibu memiliki pengalaman berharga yang berbeda, unik dan istimewa dalam proses menyusui. Setiap ibu pasti memiliki tips & tricks tersendiri yang membuat proses menyusui menjadi lebih nyaman dan membahagiakan buat ibu dan bayinya.

Mama bahagia bisa menyusui kalian, kira & ziya tercinta, cahaya hati mama & papa! Mama bertekad untuk menyusui kalian hingga 2 tahun, insyaallah…Mama tidak akan berhenti berusaha dan berlatih. I love you,..! we love you,…!