Thursday, April 26, 2007

MAMA DAN PAPA SAKIT



Beberapa waktu yang lalu Mama, Ziya dan Papa demam bersamaan. Mama & Ziya di Jakarta, Papa di Badak. Setelah 3 hari suhu badan tidak kurang dari 38-40 derajat C, Mama & Ziya cek darah lengkap. Hasilnya trombosit Mama 147.000, Ziya 167.000. Di Badak, Papa juga cek darah tapi hasilnya ok dan demamnya berangsur hilang. Sesuai petunjuk dokter, Mama & Ziya harus cek darah lagi besoknya.

Beberapa hari kemudian, bertahap trombosit Mama drop hingga 67.000. Dokter menyarankan Mama dirawat di rumah sakit karena khawatir terjadi perdarahan dan kekurangan cairan. Oo, Mama didiagnosa terserang demam berdarah (padahal seminggu sebelumnya di wilayah rumah kami ada pengasapan / fogging lho..). Sementara itu Ziya, yang selama demam tinggi tidak mau makan apa-apa kecuali menyusu ASI saja Alhamdulillah tidak perlu dirawat di rumah sakit karena demamnya berangsur turun dan trombositnya bertahap naik menjadi 197.000 hingga normal. Kok bisa ya,..padahal Ziya hanya minum ASI, ASI dan ASI saja dengan frekuensi lebih sering dari biasanya tanpa ada asupan makanan padat sedikit pun karena selalu ditolaknya. Mungkin daya tahan tubuh Ziya memang lebih kuat. Subhanallah, sedemikian ajaib cairan hidup bernama ASI itu ternyata ya,.. Mama jadi takjub sendiri…

Begitulah akhirnya Mama masuk rumah sakit. Rasanya? Entahlah. Mama sekuat tenaga meyakinkan diri bahwa Kira & Ziya akan baik-baik saja bersama Oma di rumah. Eyang kebetulan sudah beberapa minggu sebelumnya berada di rumah Bude Dewi karena kaki Eyang sakit dan harus di gips sementara waktu. Jadi selama Eyang sakit, Oma yang menemani kami di rumah.

Sehari kemudian Papa minta ijin dari kerja untuk menengok Mama di Jakarta. Awalnya Papa memang kelihatan baik-baik saja. Namun sehari setelah berada di Jakarta, Papa demam lagi. Ketika cek darah lengkap ternyata trombosit Papa turun dan disarankan masuk rumah sakit juga. Oh no!… Jadilah Mama dan Papa satu kamar perawatan! Duh, bagaimana dengan Kira & Ziya ya? Apakah Mama panik dan cemas? Hampir. Tapi Mama dan Papa berusaha tetap tenang dan melihat semua ini dengan kaca mata positif sambil mencari solusinya.

Alhamdulillah saat itu Ziya berangsur sehat dan Kira tidak terkena imbas apa-apa (padahal biasanya Kira & Ziya seiya sekata dalam banyak hal termasuk kalau salah satu ada yang sakit). Setiap hari, sepulang praktek dari poliklinik, Opa menjemput Oma, Kira & Ziya untuk dibawa ke rumah sakit. Itulah saat-saat paling berharga buat Mama, Kira, Ziya dan Papa. Sebab kita semua bisa berkumpul dan melepas kangen bersama. Bahagianya, ‘Nak, kalian bisa kembali berada di pelukan Mama untuk menyusu sampai puas sebelum akhirnya pulang menjelang sore karena Opa harus berangkat praktek kembali. Menunggu hari esok rasanya jadi panjang dan lamaaa sekali.

“ Ya ampuun,..‘lu berdua mesra amat sih…apa belum cukup berduaan di rumah, sampai-sampai masuk rumah sakit juga berdua, sekamar lagi! “
“ Second honey moon ‘neh ceritanye? ”
“ Waduw,..si kembar gimana jadinya tuh? Sama siapa? Gimana nyusunya? Rewel nggak ditinggal? ‘Kan lu kagak pernah jauh-jauh dari mereka sebelumnya? Pasti berat banget ya..tapi asik juga kali berduaaaannn…”
Hehehe adaaa… saja komentar menggelitik dari teman, sahabat, tetangga dan siapa saja yang datang menjenguk. Mama dan Papa jadi sedikit terhibur dan nggak habis tersenyum mengingatnya.

Selama beberapa hari di rumah sakit,’Nak, Mama tidak sabar menunggu kalian datang dan menyusu, mendengarkan suara kalian, mencium dan memeluk kalian. Sementara Papa tidak sabar ingin mengganti waktu bermain yang hilang sepuas-puasnya bersama kalian ketika sembuh nanti. Wah, ini kali pertama Mama tidak berada di dekat Kira & Ziya dalam waktu cukup lama lho. Rasanya gimanaaaaa gitu…

Setiap hari dari cerita Oma, keajaiban demi keajaiban terjadi di rumah. Selama Mama sakit, Kira dan Ziya seperti mengerti situasinya. Kalau biasanya bangun 3-4 kali ketika ada Mama dan langsung menyusu, saat itu Kira & Ziya hanya bangun 1 kali bahkan lebih sering tidak bangun sama sekali. Bangun pun hanya sesekali menangis mencari Mama, tapi kemudian bisa diatasi oma. Caranya? Makan es krim! Iya,.. makan es krim! Ketika suatu malam Ziya terbangun dan tidak mau minum air putih pun susu uht plain yang sudah disiapkan di atas meja, tiba-tiba oma ingat Mama masih menyimpan sekotak es krim vanilla-coklat di freezer. Jadilah Ziya mencicipi sesendok es krim dan setelah itu mengantuk kembali lalu tidur sampai pagi! Hehehe.. oma bisa aja dapat ide. Oma bilang sempat khawatir Ziya batuk karena makan es krim malam-malam, tapi Mama bilang nggak apa-apa, anggap saja hadiah karena seharian mereka sudah jadi anak-anak yang manis karena menurut oma makan mereka pun hampir selalu habis.

Lain lagi dengan Kira. Suatu malam Kira bangun, berjalan menuju pintu kamar mandi dan mengetuk-ngetuk, tok,..tok,..tok!
“ Mama mana? Papa mana?..”.
“ Mama dan Papa kan di rumah sakit, sayang..Kira bobo lagi yuukk..”
“ Mama takit? (Mama sakit?). Papa takit? “, lalu Kira berjalan lagi sendiri menuju tempat tidur dan lelap sampai pagi. Pintar…

Keajaiban yang lain, Kira & Ziya punya kepintaran baru: pakai kaos kaki dan sepatu sendiri! Mereka buktikan di depan Mama dan Papa ketika berada di rumah sakit. Bukan itu saja, mereka juga mulai pandai buka-pakai baju dan celana sendiri! Wah,.. alhamdulillah,.. kondisi ini menjadikan kalian anak-anak yang pandai beradaptasi dan mandiri ternyata. Mama dan Papa sangat bangga dan bersyukur, ‘Nak! Selain itu? Kira dan Ziya semakin pandai berkomunikasi dengan jelas:

“ Opa, duduk….!”, sekonyong-konyong Kira minta Opa yang sudah lama berdiri di sisi tempat tidur untuk duduk saja ketika di rumah sakit.
“ Opa,..ati-ati! (hati-hati!)”, ini diucapkan ketika Opa masuk mobil dan hendak pulang.
“ Mama, takit? Nda papa papa? (Ndak apa-apa?)“
“ Tangan cutik? (Tangannya disuntik?)”, waktu itu Kira & Ziya melihat jarum infus yang menempel di tangan Mama dan Papa.

Perbendaharaan lagunya juga semakin banyak dan bervariasi. Belum lagi kemampuannya manjat-manjat bangku, tangga, apa saja yang ada. Selama berada di rumah sakit, Kira & Ziya mulai tertarik dengan sayur dan buah yang ada di piring makan Mama & Papa. Jadilah sebagian besar sayur ludes dicomot tangan-tangan mungil Kira & Ziya. Ah,..senangnya melihat anak-anak ceria dan bahagia. Rasanya Mama & Papa sudah sembuh saja melihat kemajuannya. Oh ya, satu lagi,.. ada yang beda di gusi geraham bawah Kira & Ziya. Cihuy! Rupanya gigi ke-10 mereka mulai tumbuh besar. Pantas saja sampai saat itu masih enggan sikat gigi…masih ngilu atau sakit mungkin. Waaa bidadari-bidadari Mama & Papa sudah tambah besar!

Lalu apa hikmah sakit ini buat Mama dan Papa ya? Selain jadi momen perenungan dan introspeksi diri, sakit ini memberikan banyak waktu buat Mama dan Papa untuk ngobrol tentang banyak hal, ngalor-ngidul dari hal sangat serius sampai hal kecil-kecil yang bisa bikin Mama dan Papa cekikikan berdua. Hmm udah lama juga ya, Mama dan Papa nggak betul-betul punya waktu berdua saja. Biasanya kami ngobrol ketika kalian tidur dan terinterupsi biasanya jika kalian tiba-tiba terbangun. Namun kali ini kami punya waktu sangat panjang untuk berduaan.

“ Bidadari-bidadari kita lagi ngapain ya, ‘Ma?”
“ Jam segini biasanya mereka udah mandi pagi, udah selesai makan, udah selesai jalan-jalan di luar dan lagi ngantuk-ngantuknya, ‘Pa. Mungkin malah udah tidur lagi… “
“ Hehehe,.. Kira & Ziya nggak terasa udah gede ya, ma?”
“ Iya ya,.. tiap hari ada aja kepintaran-kepintaran barunya…”
“ Semoga kita bisa mendidik mereka dengan baik ya, ‘Ma..”
“ Insyaallah, ‘Pa…kita terus berusaha dan berdoa..”
“ Kasihan mereka kita tinggal ya, ‘Ma.. pasti mereka kangen bermain sama Mama dan Papa.. terutama pasti kangen nyusu ya..”
“ Iya,.. tapi Papa yakin mereka anak-anak yang pinter dan tangguh kan, ‘Pa,..Insyaallah besar hikmahnya kondisi ini dan mereka akan baik-baik saja. Kita doakan dan titip sama Allah aja, ‘Pa.. Makanya kita cepet sembuh yuk, biar bisa sama-sama mereka lagi,.. “
“ Iya,..amiin…”, Papa mulai ngantuk dan siap-siap tidur lagi.
“ Pa…”
“ Iya ?”
“ Kok belum ada yang dateng yak?”
“ Siapa?”
“ Ya petugasnya,.. “
“ Mama laper ya!? Hehehe “
“ Mmmm,.. he-eh,..hehe” (deeuu… sama Papa aja pakai malu-malu segala ngaku laper)
“ Sabaarr….” (Jadi inget, kata “ sabaaarrr…” selalu Mama sampaikan ke Kira & Ziya kalau Kira & Ziya mulai nangis nggak sabar saat ingin menyusu. Ouchh.. Papa bisa aja,.. iya deeehhh Mama belajar sabar,..kriuukkk,…kriuuukkk,…kriuuukk,..).

Setelah beberapa hari, trombosit Mama turun hingga 29.000 sementara Papa 59.000 sebelum akhirnya berangsur-angsur naik kembali menjadi normal dan diijinkan pulang.

Saking semangatnya untuk sembuh, sejak masuk rumah sakit Mama usahakan semua makanan yang diberi habis (padahal sih emang laper aja tuuh,.. ).
“ Wah,.. hebat ..ibu ini makanannya selalu habis, suster! ”, ujar petugas yang mengambil baki dan piring dari meja sambil tersenyum lebar.
“ Oh ya? Naaah,.. yang begini biasanya cepat pulangnya karena cepat sembuhnya…”, suster mencatat beberapa hal di lembar yang tergantung di ujung tempat tidur juga sambil tersenyum lebar.
Ehm.. Mama jadi tersipu-sipu malu. Tapi bukan Mama kalau nggak bisa ngeles…
“ Iya doong,.. harus cepat sembuh demi bisa menyusui anak-anak lagi, suster…hehehe “
Ufff…untungggg saja nggak ada yang komentar sambil terpana melihat semua piring kosong dan teko air minum beberapa kali harus diganti karena selalu habis, “ Laper banget ya, bu?..” hahaha! Sempat penasaran juga sih pingin lihat catatan suster, jangan-jangan di kolom tentang makanan pasien setiap hari ditulis, “ Ludes, ‘bo ! “ atau “ Mak nyusssss….!” J

Nah, sakit adalah momen yang tepat untuk menyadari betapa kesehatan sangat berharga, ‘Nak. Momen yang tepat untuk menyadari betapa banyak orang yang mencintai kita semua, yang dengan ikhlas membantu, menemani, menengok, mendoakan, menghibur, memberi semangat dan dukungan. Betapa semua adalah titipanNya dan manusia tak berdaya tanpa pertolonganNya. Sakit adalah caraNya mengingatkan Mama dan Papa untuk tidak lengah dan kembali menata diri. Sakit kali ini bagi Mama adalah momen yang tepat untuk belajar sabar, ikhlas dan bersyukur. Semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya ya.