Sunday, May 20, 2007


BAHASA CINTA




Tidak terasa usia Kira & Ziya bulan ini 1.5 tahun (18 bulan). Sedang tumbuh gigi ke 12-13nya(yang ke-14 sepertinya juga udah mau muncul nih). Sudah semakin rajin bicara dan pandai mengekspresikan apa yang ada di kepala dan hati. Sudah bisa menyebut namanya sendiri. Sudah bisa menyanyi penuh satu lagu “sayonara”, “topi saya bundar” dan “burung kakak tua” meski dengan kalimat yang belum sempurna betul. Sudah pula bisa mengarang lagu sendiri dengan kata-kata sendiri yang mama sampai hari ini masih belum ngerti artinya dan nadanya. Kalau mama tanya artinya apa, Kira & Ziya malah nyengir dan cekikikan, seneng kali mama penasaran. Semakin mama Tanya, semakin Kira & Ziya ketawa dan cekikikan. Sudah bisa bertanya, memilih, meminta sesuatu dan menyatakan setuju atau tidak setuju tentang sesuatu, “ Maemnya mana?”, “Telulnya (telurnya) mana, ‘Ma, abis?”, “Kelual (keluar) yuk, bolee?”, “ Maa,..Kila-nya, nggak mau,..!” (ini biasanya kalau Ziya pingin nyuapin Kira dan Kira nggak mau karena mulutnya masih penuh makanan), “ Kilaaa… Celana, Kila! “ (ketika Ziya ingin pakaikan celana Kira tapi Kira nggak mau karena pingin pakai celana sendiri), “ Ma, Kila-nya, gitik (gelitik) jugak? (ini kalau mama lagi bercanda sama Ziya di kasur, terus Kira tau-tau ikut berbaring dan mengingatkan mama kalau Kira juga mau digelitik hehehehe, so, mama menggelitik dua-duanya sampai cekikikan dan guling-guling).

Kadang mama dan papa terkaget-kaget, tak jarang terpingkal-pingkal dengan apa yang Kira & Ziya ungkapkan. Dulu sih mama menyebutnya “bahasa planet lain” karena mama sering harus menebak-nebak atau berpikir apa yang sedang diutarakan Kira & Ziya. Kalau bahasa bumi mah ada kamusnya, tapi kalau bahasa-nya Kira & Ziya, bisa beli kamus di mana ya? Hehehe ..

Sejak sudah semakin jelas pengucapannya, Mama merasa lebih tepat menyebutnya “bahasa cinta” (seperti yang ada di iklan-iklan ya,.. yoi…!). Kenapa bahasa cinta? Sebab yang diucapkan memang ekspresi cinta bidadari-bidadari mama dan papa yang sering kali membuat kami sadar bahwa kalian sudah tumbuh besar, sudah lebih banyak menyerap apa yang ada di sekitar, dan karenanya mama dan papa harus lebih waspada dan berusaha sebaik-baiknya mengarahkan, mendidik dan memberi pengertian-pengertian. Banyak hal yang mama dan papa pelajari dan ambil hikmahnya, ‘Nak.

Pernah sebuah kata “ Kamia! Kamia!” Yang sering diucapkan Ziya, baru mama pahami maksudnya setelah lebih dari 2 minggu lamanya….Ternyata maksud Ziya “Kamera!”. Mama baru sadar Ziya sering menyebut kata tersebut ketika suatu saat mama pegang kamera dan memotret aktivitas Kira & Ziya. “ Oooo,.. maksud Ziya selama ini “ Kamia itu Kamera” ya?”, “ Iyaaa..Kamiaaa!! “ Kta Ziya sambil tertawa dan mengangguk-angguk. Kalau suatu kata salah mama artikan atau pahami, Kira & Ziya akan terus mengulang-ulangnya sampai suatu ketika mama sebutkan pengucapan kata yang benar. Seperti ketika Kira berteriak sambil melihat Ziya membawa tas mama,
“ Ma… Ziya bawa tas…! Tas!… Kolah,..(sekolah)! Bolat,.. Bolat ma…”.
“ Bolat? Maksud Kira “ bulat?”..”
“ Bolat.. Tasnya bolat! Bolat!”
“ Uh,..Kelaaass,..(keras, maksudnya mungkin “berat”)” Ziya terlihat keberatan menenteng tas mama,..dan akhirnya mama paham,
“ Ooo… maksud Kira “ berat “ ya?”
“ Iyaaa… bolat! Bolat!” Kira menunjuk-nunjuk. Rupanya Kira melihat Ziya keberatan bawa tas mama dan merasa kasihan. Hehehhe,… lucu yaaa…

Suatu senja mama, Kira & Ziya duduk mendengar dan menyaksikan adzan maghrib di televisi. Setelah itu mama larut dalam aktifitas kembali, membereskan box pakaian yang tanggung sebentar lagi selesai. Tiba-tiba Ziya berseru sambil menunjuk-nunjuk kamar mandi,“ Mama… koat! Mama koat!(Mama sholat! Mama sholat!)”. Mama tersentak. Rupanya Ziya ingat, mama sering bilang bahwa adzan adalah panggilan kepada kita untuk sholat. Mungkin sejak adzan berakhir Ziya menunggu-nunggu tapi mama masih tidak beranjak juga. Duh, mama jadi maluuu sekali,..malu pada diri sendiri karena hampir saja lalai menjalankan apa yang sering mama nasihatkan ke Kira & Ziya. Allah menegur dan mengingatkan mama lewat bahasa cinta kalian,..Alhamdulillah. Tidak ditunda-tunda lagi, mama langsung ambil langkah seribu menuju kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, Kira & Ziya sudah mengambilkan sajadah, mukena dan sarung buat mama. “ ini, Mama..! ”. “ Makasih ya, sayang…!” dan bertubi-tubi ciuman mendarat di pipi anak-anak mama & papa tercinta. Jika hari cerah, pagi atau sore sehabis mandi, mama dan papa sering mengajak Kira & Ziya jalan-jalan di luar. Biasanya hal ini disambut dengan suka cita dan semangat 45!
“ Patu na!? Patu na mana? (Sepatunya!? Sepatunya mana?)”, Ziya berlari ke luar kamar dan berkeras memakai sepatu sendiri sampai selesai. Tapi sejurus kemudian bukannya mengikuti papa & Kira yang sudah berada di pekarangan, Ziya malah berlari kembali masuk kamar menemui mama yang belum selesai juga bersiap di depan meja rias,
“ Ma! Kudung! Kudung!? Ayuk yuk.. lalan-lalan,..Kudung?” (Ma! Kerudung! Kerudung!? Ayuk yuk.. jalan-jalan,..Kerudung?), tangannya menepuk-nepuk kepala sambil menunjuk-nunjuk mama.
O..rupanya Ziya khawatir mama lupa pakai kerudung…

Saat ini Kira sedang getol-getolnya buka-pasang celana. Mungkin penasaran sehingga hampir tiap sebentar buka-pasang celana sendiri. Kadang mama gemes dan nggak tahu harus gimana menghadapinya. Suatu kali mama akhirnya pasang tampang serius sewaktu bilang,
“ Kira. Ayo pakai celananya! Malu dong nanti sama teman-teman…”
“ Kiraaaa….”, mama sudah siap mengeluarkan tanduk ketika Kira masih saja berkali-kali melepaskan celananya kemudian lari-lari keliling kamar….
Tau-tau…
Tuing!! Apaan tuuh?? Mama yang lagi bengong dan siap-siap bertanduk jadi terperanjat!
Jari telunjuk Kira mendarat di lubang hidung kanan mama! Huaaahahahahaha! Kalau sudah begini, akhirnya tawa mama meledak juga sampai sakit perut.. Eeeh,..Kira juga ikut tertawa! Duh, ‘Nak,.. mama jadi tambah gemeeessss… jadi luluh deh. Pasti tadi wajah cemberut mama pas mau marah jelek banget ya, sampai-sampai Kira tertarik nusuk hidung mama? Hehehehe..Kami lalu saling berpelukan dan berguling-bulingan di kasur.

Kali lain, ketika mama mulai melotot, Kira tiba-tiba berdiri tegak dengan wajah serius di depan mama sambil menempelkan punggung tangannya ke jidat dan teriak,
“ Omaaakkkk gak!(Hormaaattt grak!)” Sudah bisa ditebak kan… pertahanan mama jebol lagi hingga terpingkal-pingkal di lantai! Hahahahaha! Setiap kali mama mulai ‘panas’, rasanya Kira & Ziya selalu jadi air yang menyejukkan sehingga mama sadar tidak ada gunanya marah. Mama jadi punya pe-er untuk belajar mengingatkan dengan lembut tapi tegas dan memberi pengertian di saat yang tepat nih…soalnya para bidadari mama sudah tambah kritis dan pintar. Suatu ketika Ziya mengambil bando yang jatuh di lantai dengan kakinya. Hup! Lalu ditangkap dengan tangannya. Waduh,.. Oma sempat heran-heran dari mana Ziya belajar hal itu. O,.. mama baru ingat, pagi itu ketika mak apsoh pulang, ada sebungkus plastik yang jatuh dari saku celananya. Oleh mak, plastik tersebut diambil dengan kakinya, mungkin biar cepet aja.. tapi lupa ada yang merekam langsung dengan matanya. Ziya, Kira, Mama, Oma saat itu sedang mengantar mak menuju pagar sambil menutup pintu. Wah,.. sedemikian cepat semua ditirunya ya,…

Pernah Eyang dibuat bingung ketika hendak keluar kamar. Kira tiba-tiba berlari ke arah pintu dan menghalangi jalan Eyang. Berbagai cara Eyang lakukan tapi Kira tak bergeming. Setelah Eyang hampir kehabisan akal dan hendak menyerah, Kira menatap Eyang sambil masih bersandar di pintu dan bilang, “ miciii…(permisiii…)”. Oalaahh…. Eyang baru ngeh dan mengulangi kata-kata tersebut, “ Permisi Kira… Eyang mau lewat ya…”. “ Iyaaa…”, Baru deh Kira pergi sambil tersenyum, lalu main kembali. Kira & Ziya rupanya mempraktekkan apa yang mama ajarkan dan berharap hal tersebut dilakukan pula bukan hanya oleh mama tapi oleh seluruh isi rumah.

Kalau tiap diberi sesuatu atau mau lewat Kira mulai terlatih bilang, “ Maacih , mama…(makasih, mama)”, “ Mici, mama…(permisi, mama)” sambil memiringkan kepalanya ke samping dan tersenyum, sementara Ziya lebih sering bilang, “ Mici, cayaaang…(permisi, sayang)”, “Maacih, cayaaang…(makasih, sayang)”, seperti yang sering mama ucapkan kepada mereka ketika sedang mengajarkan kata-kata tersebut. Hehehehe,..lucu yaa… Bahkan sampai saat ini kalau sedang tidak sabar ingin menyusu, Kira sering menangis sambil bilang, “ mama cayaaaaanagggg…. Uhuhuhu,..mama cayaaaaangggg…..Kila-nya nangiiiissssss…uhuhuuhu…”, lalu menggotong-gotong bantal sekuat tenaga untuk mempersiapkan posisi duduk mama di atas kasur…mungkin Kira ingin menyampaikan ke mama bahwa Kira sedang nangis, biar mama cepat-cepat duduk ambil posisi menyusui Kira yang sudah kehausan dan kangen nyusu mama!

Sejak pernah dengar mama bilang “ Wah,.. keras nih buka tutup-nya, sayang, minta tolong Papa saja yuk!”, sejak itu setiap ada hal yang sulit dilakukan Kira & Ziya selalu panggil , “ Papaaaa….!”. Termasuk ketika gambar Tweety dan Bugs Bunny jatuh dari dinding kamar, Ziya berusaha menempelkannya sendiri meniru cara papa ketika memasangnya pertama kali, pakai di tepuk-tepuk segala dindingnya dan ternyata berhasil! Tapi sejurus kemudian jatuh lagi. Ziya lantas bilang, “ Uh,.. mama,…! Keeelaass…!(Keras!) Papaaa….!”. Begitu pula ketika sulit mengambil bando di atas meja rias Eyang, “ Mamaa….! Kelaass…!”.Atau ketika tidak berhasil menjangkau salah satu bintang yang ditempel Papa lumayan tinggi di dinding, Ziya lantas berseru berkali-kali, “ Kelas! Kelas!..”. Mama kemudian membenarkan kata-katanya menjadi, “ Bukan “keras”, sayang,. Maksud Ziya “susah” ya? Bintangnya tinggi sekali sampai susah dipegang?”, Setelah berkali-kali mengenal kata “susah”, baru Kira & Ziya bisa menyatakan sesuatu yang tidak bisa dilakukan dengan kata“ susah “ atau “ nggak bisa”.

Kadang-kadang Kira & Ziya teringat kakak sepupunya, mbak Alya dan mbak Ghina. “Aya mana? Ghina mana? Pak Bude Wiwi? Agus? (maksudnya Bude Dewi dan Pakde Agus)“.
“ O…. Pakde Agus dan Bude Dewi sedang Ker…..”
“ Jaaaaa…..”
“ Kalau mbak Alya kan sedang sekolah kelas saaaa…..”
“ tuuuuu……”
“ mbak Ghina sekolahnya teeee….”
“ loooonggggggg!” (maksudnya “terong!”, hehehe,.. mereka soalnya lagi getol belajar nama-nama sayur dan buah. Padahal maksud mama “ teka alias Taman Kanak-kanak”)

Kalau sedang bepergian naik mobil, biasanya mama mengajak Kira & Ziya menyanyi. Ketika menyanyikan lagu “Pelangi-Pelangi”, sampai pada bait tertentu Kira & Ziya kompak menjawab,”
“Merah kuning hijau, di langit yang biru…. Pelukismu Aaa….”
“ Guuuusssss…..!(waaaa… maksudnya Pakde Agus!)”
“ Bukan Agus sayang, Agus kan nama Pakde,… yang benar “ pelukismu agung ”…”, lalu lanjut bait terakhir, mereka serempak lagi menjawab,
“ Siapa gerangan,..pelangi-pelangi,..ciptaan Tuuuu….”
“ Tiiiiiikkkkkk! (aduh,..ini maksudnya nama Oma,.. rupanya Kira & Ziya berpikir sambungan suku-kata “Tu” adalah “ Tik”, hehehehe, maklum, mereka saat itu baru belajar nama-nama mama, papa, oma, opa, eyang, dan nama-nama keluarga yang lain)”
“ Yang benar ciptaan Tuhan, sayang….. Tutik kan nama Oma….”
Begitulah serunya…

Setiap bulan, biasanya Pak Hendi memotong rumput dan membereskan kebun bunga Eyang. Pagi itu Ziya mama perhatikan sedang memegang jendela samping sambil komat-kamit memperhatikan Pak Hendi yang sedang bekerja. Pak Hendi pun sesekali terlihat meladeni Ziya & Kira sambil tersenyum di balik jendela. Setelah mama dekati rupanya Ziya sedang berusaha ngobrol, tapi pertanyaannya kok nggak nyambung ya,..hiihihi,..
“… ikat gigi mana (sikat gigi mana?)? Ikat gigina mana? Ya? Ya?”, sambil mengangguk-angguk seperti sedang serius bertanya. Lho,..kok tanya sikat gigi ya? Apa hubungannya ya? Hihihihihi,.. Pak Hendi yang kebingungan karena mungkin tidak betul-betul mendengar kata-kata Ziya cuma senyum saja..

Mungkin hikmah dari sakitnya mama & papa waktu itu, Kira & Ziya jadi lebih mandiri. Kemarin ini mama beberapa kali harus meninggalkan para bidadari untuk mengurus sesuatu karena papa sedang di luar kota. Jadilah Kira & Ziya main di rumah sama Oma dan Eyang. Alhamdulillah mama tidak perlu mencari banyak alasan untuk pergi, mama terus terang saja bilang, “ Sayang, mama nanti siang mau pergi sebentar, ada perlu. Kira & Ziya nanti main sama Oma dan Eyang yaa… baik-baik di rumah ya, makan yang banyak,…pulang nanti kita cerita-cerita dan main sama-sama lagi yaa..” Mama pergi dengan senyum dan lambaian tangan Kira & Ziya,
“Mama, ati-atiii…(mama hati-hatiii…)”
“ Iya, terimakasih sayang…Assalamu’alaikum..”
“ ..ikuumm…(assalamu’alaikum)”. Kira & Ziya pelan-pelan hilang dari pandangan.
Ketika pulang, Kira bernyanyi-nyanyi kecil, “ mama puulaangg… mama puuulaaang,…”.
Sambil menyusu berdua di kiri dan kanan, mama tanya,
” Mama kangen sekali sama anak-anak mama.. Kira & Ziya kangen nggak sama mama?”
“ Kanen…(kangen)”, seneng deh mama dengernya, padahal mungkin Kira & Ziya belum memahami arti kata kangen ya..
“ Tadi ngapain aja di rumah sama Oma dan Eyang?”
“ Cilita-cilita…aca buku…bobo…” (cerita-ceritaa… baca buku…bobo). Hehehe,..sekarang mama sadar anak-anak mama sudah pintar menjawab pertanyaan dan merespon dengan baik..udah bisa diajak ngobrol euy!..bentar lagi udah bisa diajak rapat keluarga plus arisan neh! Hihihi…
“ Sekarang mau apa, ya? Main aja yuukk…? Baca buku lagi? Nyanyi lagi?”
“ Mau nyucu ajaaaa.. ya!! Nyucu mama ajaaa ya…?!” Waaa… Kira & Ziya memilih nyusu saja sampai puas sambil bolak-balik minta mama nyanyi (biasanya sambil menyusui Kira & Ziya mama menyanyi sampai Kira & Ziya tertidur nyenyak di pangkuan, baru dipindahkan ke kasur).
“ Ma,.. ‘cicak-cicak di dinding’ aja!” kata Ziya, lalu lanjut menyusu.
“ Ok,..cicak cicak di dinding,..diam-diam merayap,..datang se..” belum selesai mama menyanyi udah ada yang menyahut,
“ ti-ti-tik aja…ti-ti-tik ajaaa!”, kata Kira, lalu lanjut menyusu lagi.
“ iya deh,.. tik tik tik,..bunyi hujan di atas genteng,.. airnya turuuun… tidak terki…”
“ cicak-cicak di dinding aja!”
“ ti-ti-tik aja!”
“ cicak-cicak di dinding aja!”
“ ti-ti-tik aja!”
Akhirnya duel berakhir dengan lagu pilihan mama,
“ sayonara aja deh,. Sayooo nara,..sayooonara,.. sampai berjumpa…”
“ cucaaahhh,..cucaaaaahhh,.. apa cucaaaahh…” serempak mereka minta bait ‘buat apa susah’
“ ..buat apa susah,..buat apa susah,..susah itu tak ada gunanyaaa” dan semua ikut menyanyi,..akhirnya nggak ada yang jadi nyusu…hehehe… selanjutnya Kira & Ziya minta dibacakan buku saja..
“ Baca maa..baca boleee? “
“ Boleh,… yuk baca, Ziya buka halaman bukunya, mama yang baca yaa..Kira pangku di kiri, Ziya pangku di kanan”, setelah itu pertarungan belum berakhir,.. masing-masing mulai berebut buku yang sama ouuww… kalau diceritakan kejadian setiap hari, blog ini bisa kehabisan sangat banyak ruang untuk satu judul aja nih,.. hiihihi…

Begitulah, bahasa cinta Kira & Ziya adalah alarm yang sering mengingatkan mama & papa setiap waktu, bahkan semua orang di rumah kita tercinta ini. Menghadapi kalian, mama & papa belajar menghadapi diri sendiri, belajar sabar, belajar introspeksi. Sebab apa yang kalian lakukan bisa jadi adalah cerminan dari apa yang kalian lihat dan dengarkan. Bukankah anak-anak adalah peniru yang ulung? Jadi Mama & Papa harus betul-betul mawas diri dan berhati-hati nih. Menghadapi Kira & Ziya, Mama & Papa juga belajar bersikap adil dan bijak, artinya proporsional, gak boleh berat sebelah karena salah-salah bisa membuat satu dari kalian sedih, merasa terabaikan atau cemburu.

Makasih ya, sayang,.. sudah membuat hari-hari mama dan papa berarti..We love you more and more everyday!

Sunday, May 06, 2007

MENIKMATI MASA KECIL













BERMAINLAH, NAK, SEPUAS-PUASNYA!
: kira-ziya

bermainlah, nak, sepuas-puasnya!
lihat, dengar, sentuhlah sekitar
sebab darinya banyak hal bisa kau kenal

bertemanlah dengan kupu-kupu dan bunga yang dicintainya
agar belajar kau kelembutan dan keindahan

bertemanlah dengan tetes embun yang setia jatuh dari ujung dedaun
agar belajar kau kesejukan dan keikhlasan

bertemanlah dengan angin yang melenggak-lenggokkan rumpun bambu di ujung jalan
agar belajar kau kekuatan dan ketangguhan

bertemanlah dengan air yang tak henti menghidupkan setiap jengkal tanah yang kita pijak
agar belajar kau kesahajaan dan keberartian

bermainlah, nak, sepuas-puasnya!
lihat, dengar, sentuhlah sekitar
sebab darinya banyak hal bisa kau nikmati
sebab darinya banyak hal bisa kau syukuri


indah ip, 18 april 07
9.03 pm


Ketika membersihkan garasi kemarin ini, mama menemukan sesuatu di dalam tas perangkat pertukangan papa yaitu tali plastik yang biasa dipakai untuk mengikat lembar policarbonat di pagar kita. Entah kenapa begitu melihatnya kepala mama jadi terang benderang dan bernyanyi-nyanyi tak berhenti J. Penasaran mama ambil 3 buah untuk dijadikan mainan sederhana yang mungkin bisa menceriakan waktu bermain kira & ziya ketika mandi. Nah, ini dia hasilnya… dua buah mangkuk mama jadikan wadah air sabun/sampo, sementara tali pengikat tadi mama bentuk menjadi alat yang bisa ditiup untuk menghasilkan balon-balon kecil. Asik kan? Jadilah Kira & Ziya berebut balon ketika mandi. Tapi lho,..lho,.. lama-lama Kira & Ziya lebih tertarik dengan wadahnya untuk dijadikan gelas kemudian meminum air yang diambil dari ember mandinya! Oo…Duh, untung nggak sakit perut ya!

Berikut ini beberapa foto Kira & Ziya sedang main kereta-keretaan di atas keranjang baju, ayun-ayunan dengan bed cover yang ujung-ujungnya ditarik dan diayun mama & papa, main sapu,main jungkat-jungkit ("tak-ton-tong") di kasur dan main dengan tudung saji.

Mama jadi ingat masa kecil dulu deh…

Seingat mama, Oma dan Opa pernah memetik batang daun pepaya dan memotong ujung-ujungnya sehingga bisa ditiup sambil membuang getahnya. Nah, cara yang sama bisa dilakukan untuk mendapatkan balon. Masukkan batang pepaya tersebut ke dalam air sabun/sampo, aduk-aduk, lalu hembuskan dengan kuat. Blub! Blub! Balon-balon beterbangan di udara! Horeeee!

Di tengah zaman teknologi ini, zaman di mana kalian bertumbuh dan berkembang, pasti banyak sekali ya permainan canggih yang bisa diperoleh. Semuanya mengasyikkan. Tapi jangan lupa, ‘Nak, selain permainan-permainan yang bisa dibeli di toko itu, sekeliling kita juga memiliki beragam hal yang bisa dijadikan permainan sederhana namun menyenangkan dan seru lho! Jadi jika suatu saat tabunganmu belum cukup membeli mainan yang diinginkan, jangan kecil hati. Sambil bersabar dan terus menabung, kreatiflah menggali potensi sekitar untuk dijadikan permainan baru yang unik dan berbeda. Di dalam atau pun di luar rumah, bermain selalu bisa jadi momen menyenangkan selama kita mau berusaha mewujudkannya lho!

Dulu mama dan mimi Nila pernah ingin sekali memiliki tenda atau kemah. Semua teman kami rasanya sudah memilikinya. Tapi berhubung tabungan mama dan mimi tidak cukup (waktu itu hanya cukup membeli beberapa buku novel petualangan yang harganya sangat murah di pasar loak terdekat), Oma dengan ide cemerlangnya menyulap cemberut di wajah kami menjadi senyum ceria. Sepulang sekolah, kami dikejutkan dengan kemah-kemahan dari seprai dan selimut di ruang tengah! Sisi-sisinya ditahan oleh meja makan, sofa dan beberapa bangku sehingga mama dan mimi nila bisa masuk ke dalamnya berteman lampu senter! Kami berpura-pura bahwa kami sedang kemping di atas gunung dan hanya keluar “kemah” ketika harus makan, sholat, mengerjakan pe-er dan tidur malam. Asik sekali, seperti punya rumah di dalam rumah. Setelah selesai bekerja di dapur, Oma juga sering ikut masuk ke dalam “ kemah” dan ngobrol sama mama dan mimi nila sambil menceritakan dongeng-dongeng.

Ketika suatu saat mama ingin sekali bermain mobil-mobilan (kok bukan boneka-bonekaan ya? Hehehe), Opa malah mengajak mama membeli sebuah jeruk bali. Lho, pikir mama, kenapa jeruk bali ya? Kenapa bukan ke toko mainan? Rupanya Opa punya sebuah ide (menurut Opa ini adalah ide yang juga pernah disampaikan oleh ayah Opa dulu. Jadi bisa dibilang ini ide turun-temurun ya…). Setelah daging jeruknya disulap oleh Oma menjadi rujak kecap yang ludes seketika, Opa mulai mengambil pisau dan tusuk sate kemudian mengerjakan sesuatu hingga woow! Jadilah sebuah kereta-keretaan sederhana dari kulit jeruk bali! Mama dan mimi Nila senang sekali siang itu. Kami memainkannya sampai puas di teras rumah.
Bicara soal alam sekitar, banyak sekali hal yang bisa dijadikan permainan masa kecil. Sempat mama mengoleksi beberapa ubin pecah dan batu ceper warna-warni yang ditemukan di jalan untuk main “engklek”. Caranya: batu tersebut diletakkan di punggung telapak tangan dan tidak boleh jatuh ketika kita melompat-lompat dengan satu kaki sesuai arah kotak yang digambar di atas tanah atau di atas jalanan dengan batu bata merah. Bagaimana menjelaskannya ya,.. hmmm suatu saat mama akan contohkan langsung deh.. Hup! Hup! Injak Bulan! (“Bulan” adalah ruang paling atas yang berbentuk setengah lingkaran dalam gambar tersebut. Di sini baru boleh menapakkan kedua kaki ke atas tanah ebelum melanjutkan lagi permainan).

Setiap pulang sekolah dulu, sepanjang jalan mama sering mengumpulkan bunga-bunga tanjung yang berserakan (Soalnya mama biasa pulang sekolah berjalan kaki sambil menjemput mimi nila dari TK-nya). Sampai di rumah, Oma akan menemani mama merangkainya dengan benang jahit sehingga menjadi kalung, gelang, ikat pinggang, dan asesoris cantik lainnya. Kalau sudah begitu rumah kami jadi wangi bunga tanjung sampai bunga-bunga putih tersebut kecoklatan karena kering dan layu,..

Mama juga sering main masak-masakan di teras rumah. Semua tumbuhan yang ada di pekarangan menjadi sayur dan buahnya. Daun-daun bluntas mama anggap daun bawang (entah kenapa dulu mama berpikir yang disebut daun bawang itu ya daun bluntas hehehe), mama juga mengiris-iris daun pandan dan beberapa bunga hias dalam pot dengan pisau-pisauan dari batu yang bertepi tajam atau potongan kayu (semoga Oma tidak pernah tahu bahwa mama lah yang sering membuat tanaman-tanaman hias tersebut kehilangan daun dan bunganya sesekali secara misterius! Dulu itu mama sering penasaran membuka kelopak bunga untuk mengintip sedikit apakah betul ada “ Thumbelina” atau “puteri jempol” di dalam kuncupnya seperti dongeng yang ada di buku. Kalau suatu ketika berkunjung ke tempat yang memiliki kolam teratai, mama juga penasaran mencari “ Thumbelina” di dalam kuncup-kuncup Teratai. Wah,..mama senang berimajinasi dan berhayal karena sering baca buku dongeng dan nonton kisah-kisah ajaib para peri hehehe..).

Kalau sedang ingin membuat jamu-jamuan, mama akan menggunakan batu untuk menumbuk-numbuk semuanya. Tahukah kalian, untuk membuat minyak-minyakan, mama dan teman-teman biasa menumbuk Bunga Kembang Sepatu lalu memeras getahnya yang kental dan bening. Sebelum ditumbuk, kami sering melepaskan tiap kelopak dari tangkainya, membelah pangkal kelopak tersebut dan menarik kulit arinya sehingga menjadi dua lembar yang tidak putus, lalu meniupnya. Jika melakukan dengan tepat, bisa terdengar suara seperti terompet yang nyaring! Selain kelopak kembang sepatu, bisa juga dengan daun yang ketika di petik bergetah cukup banyak dan getahnya jika ditiup bisa menghasilkan bunyi pula. Lupa apa nama tanamannya.

Buah saga yang kecil-kecil seperti kacang berwarna merah menyala biasa menjadi buah andalan dalam hidangan masak-memasak itu (pernah mama gigit karena mama pikir dari dalam buah saga itulah kacang tanah berasal!). Bunga Asoka biasa mama hisap tangkainya yang manis, demikian pula bunga kumis kucing yang berwarna putih bersih. Pucuk-pucuk daun Pohon Petai Cina tidak jarang mama kunyah begitu saja seperti lalap segar. Rasanya enak-enak saja waktu itu. Sementara buah pohon tanjung yang matang kemerahan dan mirip buah melinjau sering mama kuliti dan makan dagingnya yang lembut dan berserabut. Rasanya agak manis-manis sepat dan enak. Bersama teman-teman kami sering berebut hehehe. Nah, ini kisah lucu,.. ketika mama dan mimi nila tumbuh dewasa dan kuliah di tempat yang sama, kami sering melewati pohon tanjung di pekarangan dalam kampus. Suatu siang timbul keinginan mengenang masa kecil yang indah. Mama dan mimi nila kemudian sembunyi-sembunyi memetik satu buah tanjung yang hampir matang untuk digigit. Tapi huekkk,.. kenapa rasanya aneh dan pahit ya… kok dulu sepertinya enak sekali? Hahaha kami cekikikan sampai sakit perut. Jadi mikir, kok berani-beraninya dulu segala macam tumbuhan dicicipi dan dimakan… syukur nggak pernah jatuh sakit karena salah makan atau keracunan kan?!

Untuk permainan yang lebih seru, mama dan teman-teman sering adu kepala putik Bunga Flamboyan. Tentu saja yang dicari adalah bunga yang masih kuncup alias belum mekar. Siapa yang kepala putiknya patah duluan itulah yang kalah. Hadiahnya? Tidak ada, kami hanya bersenang-senang saja sepulang sekolah karena di dekat rumah ada pohon Flamboyan besar dan rindang yang bunganya yang oranye menyala itu seperti tidak pernah berhenti tumbuh dan mekar.

Oh ya, ada satu lagi yang cukup menarik nih. Coba tumbuk batu bata merah sampai halus, lalu gosok-gosokkan di permukaan kuku berkali-kali. Maka jrenggg! Kalian akan dapati kuku yang cantik, mengkilap dan halus licin! Tidak percaya? Coba saja! Dulu teman-teman mama pernah bilang kuku yang sudah mengkilap tersebut jika malam jum’at di posisikan terbalik dan dilihat dalam gelap di depan lilin kita bisa melihat mahluk halus! Hiiiii… dulu sih mama tidak pernah tertarik mencobanya..hehehe.

Ketika taman kanak-kanak, di samping sekolah mama ada pohon kamboja yang tidak pernah berhenti berbunga. Selain menjadikannya perahu-perahuan yang mengalir di kali jernih samping pohon arbei (pohon ini tidak pernah memiliki buah yang betul-betul masak sebab muncul satu saja dalam jangka waktu beberapa hari sebelum ranum sudah hilang dicuri entah oleh murid yang mana hehehe), mama dan teman-teman sering menjadikannya cincin-cincinan. Coba ambil 1 buah bunga yang mekar, lubangi setiap kelopaknya lalu masukkan masing-masing hingga kelopaknya habis ke dalam tangkai bunganya. Jadilah cincin cantik berwarna putih yang tengahnya bersemu kekuningan. Tinggal diselipkan di antara jari manis dan jadi tengah, atau selipkan di antara daun telinga dan rambutmu.

Apa lagi ya permainan masa kecil mama…
Main lompat karet, bola bekel, congklak, ular tangga/halma, kasti dengan bola yang terbuat dari remukan koran-koran bekas yang dicelup air, main layangan di atap rumah, petak umpet, sulap-sulapan, main benteng (dulu mama paling jago lari dan sulit ditangkap lawan lho!), main galah asin, manjat pohon, mmmm… masih banyak lagi rasanya…

Tentang memanjat pohon, ini juga sering jadi momen menyenangkan sepulang sekolah. Di atas pohon rasanya mama bisa menikmati angin sepoi-sepoi dan berhayal. Di atas pohon pula mama biasanya dapat inspirasi menulis puisi dan diary. Senang aja melihat semuanya dari atas, seperti burung yang terbang bebas. Apalagi kalau menemukan sarang burung, wah, mama selalu penasaran kok bisa ya burung membuat sarang sedemikian rupa dari ranting yang dijalin satu-persatu! Subhanallah,..Oh ya, Ada satu lagu karangan mama dan mimi Nila yang kami gubah dari atas pohon kersen (chery) ketika dulu belum punya rumah dan masih tinggal di salah satu ruang rawat sebuah rumah sakit tempat Opa bekerja. Suatu saat nanti mama nyanyikan dan ceritakan kisah unik di balik lagu tersebut kepada kalian ya!

Pernah suatu ketika di bulan puasa, mama pulang dengan perasaan bersalah dan deg-degan. Mama takut ketahuan Oma-Opa karena tanpa sengaja memakan satu buah kersen ketika sedang memanjat di depan rumah teman mama. Ini baru mama sadari ketika buah kersen tersebut sudah tertelan. Duh,.. mama langsung berdoa semoga Allah mengampuni keteledoran mama dan kembali melanjutkan puasa hari itu sampai waktu maghrib tiba. Hehehehe… Selain pohon kersen, mama juga sering memanjat pohon-pohon di pekarangan rumah seperti pohon belimbing, pohon mangga, pohon rambutan, pohon sirsak, pohon jambu klutuk (jambu biji), dan sebagainya. Waktu kecil dulu mama juga sangat suka menggigit-gigit batang tebu yang sudah dipotong kecil-kecil untuk dihisap airnya yang manis dan menyegarkan. Sllruupppp,..nikmatnya,.. ini sering dihidangkan nenek di kampung setiap kali kami sekeluarga pulang.

Di Irian (Papua) dulu, mama sering berebut umang-umang dari Pantai Besji untuk dikumpulkan dalam toples yang diberi celah udara. Pernah mama ngambek seharian dengan salah satu anak teman Opa yang berhasil memperoleh lebih banyak. Umang-umang adalah binatang yang hidup di balik karang, di dalam pasir atau batang pohon tepi pantai. Ia akan mengeluarkan kaki-kaki panjangnya jika kita menghembuskan nafas ke dalam cangkangnya, buka mulut lebar-lebar: “ Haahhh! ”. Maka kaki-kaki panjang itu keluar dan berjalan lincah. Barulah diadu kecepatan jalannya. Siapa yang paling cepat itu yang menang (Pantai Besji adalah pantai berpasir putih dan berair jernih paling indah dalam ingatan masa kecil mama. Entah bagaimana kabarnya sekarang..Entah kapan mama bisa mengunjunginya kembali..).

Panjang juga ya cerita mama soal permainan masa kecil ini. Mama ingin kalian terinspirasi dan kreatif menemukan banyak hal baru di sekitar kita yang bisa dimanfaatkan dan dijadikan permainan.

Bermainlah, Kira & Ziya, sepuas-puasnya! Berteman dan bersahabatlah dengan alam dan sekitarnya. Mama ingin kalian memiliki kenangan indah dan manis seperti yang pernah mama rasakan dan nikmati. Jika hati puas dan cerah, niscaya akan lebih mudah bibir kalian menyunggingkan senyum. Senyum akan menyebarkan semangat hidup dan kebahagiaan bagi sekitar. Senyum akan membuat kita mudah merenung dan bertanya pada diri sendiri: adakah lagi alasan untuk selalu mengeluh dan tidak mensyukuri nikmatNya?