Thursday, April 24, 2008

MENGHIAS AMPLOP DENGAN DAUN, BUNGA, BATU DAN RANTING KERING


Benda-benda ini sudah lama kita kumpulkan. Pertama ketika kita jalan sore bersama Oma mengelilingi kompleks condominium sambil menunggu papa pulang kantor. Banyak yang diperoleh. Mama memang sudah titip pesan sebelum berangkat, bahwa kita akan hunting daun, bunga, ranting, batu, kulit siput, apa saja yang cukup ok untuk dibawa pulang dan dikeringkan. Syaratnya semua itu tidak dipetik, melainkan kita ambil dari tanah dan jalanan, artinya yang sudah jatuh atau patah atau lepas.

Kira dan Ziya awalnya risih karena tangannya jadi harus kotor kena tanah dan rumput basah sehabis hujan. Tapi melihat mama sesekali bungkuk mengumpulkan sesuatu dan berteriak gembira, para bidadari akhirnya malah jadi lebih bersemangat daripada mama :-). Ketika papa datang dan kita berhenti mencari, Kira-Ziya malah nggak mau berhenti. Semua masih saja dikumpulkan, dipungut dan diberikan ke mama untuk dimasukkan dalam kantong plastik yang sudah kita siapkan. Sampai rumah semua cuci tangan, cuci kaki, cuci muka, langsung main gelitik-gelitik sama papa, sementara mama mencuci apa yang kita peroleh


untuk dikeringkan di balik kertas, lalu dihimpit dengan tumpukan buku di atas meja rias kamar.
Ada beberapa butir batu,
rumah siput kecil,
berbagai jenis daun,
berbagai jenis rumput liar,
bunga,
Kedua, kita mengumpulkan sebagian ketika diajak jalan-jalan ke taman bermain KLCC Park sama Tante Deasy dan kakak Abell tempo hari. Mama saat itu seneng banget karena bisa ngajak Kira-Ziya sedikit kejar-kejaran di padang rumput luas yang sedikit berbukit-bukit sampai pipi-pipinya bersemu merah (gini-gini dulu pas SD mama paling jago main galah asin, main benteng dan main tap punggung lho, pasti kalah deh lawan lari mama kekekekek...). Kakak Abell juga ikut lari. Kemudian mama ajak Kira-Ziya mengumpulkan sedikit daun dan bunga untuk digabung dengan apa yang kita peroleh beberapa hari sebelumnya.
Daya ingat anak seusia ini memang kuat ya, setiap hari Kira-Ziya hampir selalu bertanya ke mana gerangan daun-daun dan segala yang kita kumpulkan waktu itu. Dimana mama simpan? Untuk apa? Kapan mau dimainkan? Kira-Ziya boleh ikut tempel nggak? Sudah kering belum? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya seperti biasa.

Lokasi 'persembunyian' dedaunan itu memang nggak mama beritahu dengan detail. Mama yakin kalau tahu, Kira-Ziya akan segera menuju dan membongkarnya karena ingin tahu. Hehehe. Mama cuma bilang disimpat di suatu tempat untuk kita mainkan ketika sudah cukup kering nanti.
Kemarin ini akhirnya harta karun itu mama keluarkan dari tempatnya. Wah, asik banget... Tapi masih bingung mau diapakan. Kalau ditempel ke kertas putih udah biasa kan. Kertas karton warna-warni kita nggak punya, cover buku juga nggak punya. Tapi mama ingat kita punya amplop coklat besar di lemari. Jadi kita menghias amplop aja deh ya.

Kira-Ziya bebas berkreasi menempel di tempat yang dinginkan. Mama hanya membantu mengarahkan sedikit atau memberi semangat, atau membetulkan yang lepas dan sebagainya. Kadang Kira-Ziya saking semangatnya malah nggak berhasil menempel benda-benda itu sebab tangannya udah lebih lengket dan penuh lem duluan, sehingga daun kering dan bunga-bunga yang ada malah nggak ketempel di amplop melainkan lengket di tangan-tangan mungil para bidadari hehehe.

"Maaaa!!!! Gimana iniiii....nggak bisaaaa...uhuhuhuhu!", sesekali Kira atau Ziya gantian teriak, merasa mulai putus asa dan nggak sabar.
"Jangan bilang nggak bisa dulu dong...kan kita udah sepakat untuk selalu bilang 'I can do it!'. Ini mama bantu contohkan gimana cara nempel yang benar ya, lemnya di bagian ini, bukan yang ini, lalu tepuk-tepuk biar kuat dan nggak mudah lepas. Nah, sekarang coba lagi.."
Setelah penuh perjuangan, amplop itu selesai juga. Coba lihat gimana komposisi dan style para bidadari dalam mendesain amplop dengan benda-benda kering itu. Kadang mama surprise sendiri kalau lihat bagaimana anak seusia ini bisa berkreasi dengan imajinasi dan keterampilannya. Padahal kadang megang lem aja belum mahir dan harus berjuang menempelkan semuanya. Tapi seringkali they really know what they want. Yang ini mau ditempel di mana, yang itu di mana, pilih bunga yang warna apa, pilih batu atau yang mana, dsb. Wah, mimi, om dista, om ando dan tante yunzi bakal dapet saingan niiiyyyy,...

Yang ini karya Kira,

Yang ini karya Ziya dihiasi sedikit gambar dengan pensil warna merah di sebelah kiri (kata Ziya itu bukan gambar melainkan tulisan namanya),

Setiap habis main tempel menempel, glue stick pasti nggak akan begitu saja disimpan kembali deh. Selama sesaat akan terus digenggam-genggam. Ketika berhasil membujuknya menyimpan kembali lem-lem itu dengan berbagai cara, bukan berarti semua beres lho hehehe... pasti nggak lama mama temukan ada aja benda-benda ajaib yang ikut tertempel entah di lemari, di lantai, di dinding, atau di buku-buku cerita deh. Penasaran apa aja yang bisa ditempel dan menempel ya, ' Nak..?

DOMPET PLASTIK


Dulu mama akan berpikir berkali-kali untuk menyimpan barang yang sudah tak terpakai sehingga memenuhi gudang dan kamar tanpa tahu untuk apa. Waktu itu rasanya akan menuh-menuhin ruang dan rak dapur aja. Tapi sejak memiliki para bidadari, semua berubah. Apalagi sejak Kira-Ziya mulai besar dan mulai punya rasa ingin tahu untuk mengeksplor apa saja. Mungkin dulu ilmu mama memang belum cukup ya hehehe, sekarang sih masih juga belum cukup, masih terus harus belajar, tapi cara pandang dan pola pikir mama mulai berubah. Bagi mama sekarang apa saja di sekitar kita bisa dijadikan bahan untuk belajar. Apa yang terlihat tidak terpakai lagi ternyata bisa berguna setelah didaur ulang. Duh, telat banget nggak sih mama...:-).
Intinya, menurut mama sekitar kita adalah sekolah, yang bisa diambil ilmu dan hikmahnya selama kita ingin berusaha dan bersedia mengobservasinya, mendayagunakannya, menjadikannya sesuatu yang bermanfaat, kalau bisa malah menjadikannya jauh lebih baik dari sebelumnya. Kalau udah gini, nggak perlu khawatir akan kekurangan sarana bermain ya. Berusaha membuka hati, pikiran dan berinteraksi dengan keseharian Kira-Ziya ternyata melahirkan begitu banyak inspirasi. Subhanallah...

Ok, kali ini mama merasa sayang membuang bungkus bekas pembungkus lem. Lucu juga kali ya kalau dijadikan dompet kecil tempak Kira-Ziya menyimpan potongan-potongan kertas (yang sering disebut 'karcis'/ 'tiket'/ 'passport'/ 'uang-uang'-an kalau sedang bermain bersama).

Tapi kita nggak punya tali. Ada juga benang biasa, tapi itu terlalu tipis dan mudah putus kalau ingat gimana serunya Kira-Ziya bermain selama ini. Mama perlu sesuatu yang lebih tahan banting nih. Setelah membongkar sedikit perlengkapan pertukangan papa, mama ketemu beberapa utas tali rafia. Satu tali mungkin cukup kuat, tapi perlu dipermanis kelihatannya. Jadi mama buat tali dompet itu dari 3 utas tali rafia yang dijalin kepang. Niat banget nggak sih,..? Hehehe... kalau lagi ngerjain prakarya gini, jujur mama jadi sering bernostalgia dengna masa kecil mama. Dulu sering banget di rumah bikin rakarya berdua mimi Nila. Soalnya kami memang nggak punya cukup biaya untuk mainan bagus-bagus dan keren yang dijual di toko-toko kala itu. Selain itu, Oma memang jagonya soal bikin kreatifitas apa saja, jadi mama dan mimi memang lebih tertarik main gunting, lem, dan sebagainya di rumah. Apa yang dihasilkan tentu saja menurut mama waktu itu lebih ok daripada yang ada di toko-toko karena merupakan hasil karya sendiri dan unik, jadi teman-teman nggak ada yang nyamain. So, setiap kali bermain dan berkarya dengan Kira-Ziya mama merasa asik dan enjoy banget...apalagi kalau lihat mata para bidadari bersinar-sinar dan penasaran tentang apa hal yang bisa mereka bantu dalam proses pembuatannya. Mama seneng banget lihat mata-mata bulat yang bercahaya itu lho, jadi tambah semangat!

Anyway, plastik pembungkus lem itu mama potong dua, bagian yang terbuka dibuat menyerupai tutup amplop. Kemudian sisi kiri-kananya mama bolongi untuk memitakan tali rafia tadi. Jadilah dompet mungil para bidadari. Untuk membedakan kepemilikan, masing-masing boleh menempelkan stiker apa saja sesuai keinginan.

"Ma... Kila ke pasal dulu ya!"
"Ke pasar? Sendiri aja nih,..? Mama kok nggak diajak?"
"Mama kan lagi masak di dapul!"
"Oo iya ya,.."
"Mama mau dibeliin bawang ya?"
"Iya! buat Kira mama titip bawang putih ya. Buat Ziya kalau ke pasar mama titip sayur sawi!"
"Ok,..tapi Kila mau foto mama dulu. Klik! Bye, ma,..Kila pelgi dulu ya..."
"Sudah bawa pasport dan payung? Siapa tahu hujan,..."
"Udah!"
"Jangan lupa beli karcisnya untuk naik LRT ya! Hati-hati di jalan, Sayang..."
" Iya..."

Kira-Ziya lantas masuk kamar (stasiun, katanya), menuju deretan bantal (LRT, katanya) yang baru saja mama susun di atas tempat tidur dan pergi (gitu ceritanya) ke pasar Dato Keramat. Hehehehe...
Nggak berapa lama para bidadari udah main di kamar bermain lagi yang berseberangan dengan dapur mama.
"Ziya ngapain naik dengklek gitu? Nyari apa di lemari?"
"Ziya kan lagi nyapu, 'Ma!"
"Lho, yang disapu kok lemari, 'Nak? Sampai ke dalam-dalamnya segala..."
"Iya, lemarinya banyak debu nih. Tuh, Ziya maksudanya bantu mama bersihkan sekalian baju-bajunya.."
"Oo,.. gitu ya,.. makasih ya, Sayang... udah bantu mama hehehe..."
"Lha, Kira ngapain di balik Gorden gitu?"
"Kan lagi foto-foto kayak mama!"






Wednesday, April 23, 2008


LABA-LABA SEDOTAN DAN KOTAK PASTA GIGI

Hari itu sebenarnya mama mau mengajak Kira-Ziya main sedotan. Belum punya ide apa-apa sih, baru hendak mengeksplorasi dan sedang mikir-mikir sampai ketika itu Mama melihat potongan kotak pasta gigi yang pernah disimpan Oma di atas rak piring.
Hmm..gimana kalau kita buat laba-laba?

Membuat prakarya bersama para bidadari memang nggak mudah. Di usia 2 tahun 4 bulan, pastilah naluri ingin tahu para bidadari sedang puncak-puncaknya, begitu pula dengan ketidaksabaran menunggu sesuatu sampai selesai. Jadi, mama usahakan mengikutsertakan para bidadari dengan menutup mata pada hasil akhirnya tapi membuka peluang sebesar-besarnya dalam proses pembuatannya. 

Kalau di tengah jalan tiba-tiba ada yang saling rebutan dan berantem, mau nggak mau aktifitas berhenti sejenak, dilanjutkan saat kondisi memungkinkan setelah reda atau lain waktu. Kalau ide awal harus berubah karena Kira-Ziya nggak sabar menunggu semua selesai, mulai mengambil semuanya dari tangan mama dan membuat prakarya sesukanya atau terlanjur tidak ingin melepas benda setengah jadi dari dekapannya, ya sudah, sampai disitu prosesnya hehehe..

Jadi, dalam mengajak Kira-Ziya bermain sambil belajar, mama usahakan waktu pengerjaannya sesingkat mungkin.
Nah, laba-laba ini termasuk simpel. Kepala yang satu mama buat dari potongan kota pasta gigi, yang lain dari potongan kotak obat. Kaki-kakinya mama buat dari 8 buah sedotan yang salah satu sisinya bisa bengkok. Kotak pasta gigi dan kotak obat dibolongi begitu saja kedua sisinya. Ditempeli kertas warna-warni dan digambari mata-hidung-mulut. Masukkan 4 buah sedotan ke masing-masing sisi, lalu beri selotip bagian dalamnya agar tertahan dan tidak lepas dari kotaknya.
Jadilah laba-laba lucu dengan kaki-kaki panjang yang fleksibel.. :-)
Kira-Ziya memainkannya sambil cekikikan, berlarian mengejar mama dan nggak ketinggalan nyanyi,
"..incy wincy spirder climb up the water spout,...na-na-na-na.. "

SAPU AJAIB PAPA



Tadinya maksud papa benda ini bukan sapu kali ya, 'Pa? Tapi biasalah,..Kira-Ziya selalu punya imajinasi tersendiri terhadap banyak hal, termasuk untuk benda-benda lucu ini yang papa buat ketika pulang kantor sambil nunggu mama selesai masak dan menyiapkan meja makan.


Dibuat dari kertas-kertas putih tak terpakai dan kertas koran yang digulung dan diselotip. Salah satu sisinya digunting-gunting hingga seperti sapu dan diberi alis-mata-hidung-mulut dengan spidol.

"Permisi, 'Ma.. Ziya mau nyapu nih,..lumahnya beldebu (rumahnya berdebu) banget..."
"..Kila juga mau nyapu,..kan nanti malu kalau ada yang dateng tanya kok lumahnya banyak debu..."
Ehm, tau aja nih, udah seminggu nggak dipel euy..
"Oo..Kira-Ziya lagi bantu mama nyapu ya,..? Waah terima kasih sayangkuuuwww, pekerjaan mama jadi lebih ringan deh karena dibantu anak-anaknya.."
"Iya! 'Kan kalau anak kecil sapunya pakai sapu untuk anak-anak...", kata Kira
"Kalau sudah besal nanti balu pakai sapu olang besal kayak mama ya 'Ma, ya?...", tambah Ziya
Mama mengangguk-angguk sambil membayangkan gimana asiknya kalau suatu saat nanti kita nyapu bertiga sambil nyanyi-nyanyi atau cekikikan.. :-)
Malam itu aktifitas menyapu berlanjut sampai waktunya makan. Yang disapu tidak cuma di sekitar dapur mama dan ruang tamu lho tapi juga kamar-kamar. Eh, juga bukan cuma lantai tapi termasuk dinding-dinding! (Kata Kira itu untuk membersihkan bekas coretan dan noda yang entah dikotori oleh siapa sepanjang rumah).


Betah banget ya nih para bidadari berdua jongkok sambil nyapu dan ngoceh apa saja sahut-sahutan nggak berhenti dari ruang yang satu ke ruang yang lain. Kalau mama sih dijamin udah encok-pegel-linu deh kalau kayak gitu gayanya, 'Nak, hehehe...
Eh, tapiiiii.. Lho, kok? Apaan tuuuuuhhhhh....!? Oh no! Ternyata semua debu dan remah-remah kertas yang disapu diposkan oleh Kira-Ziya ke dua tempat 'pembuangan akhir'. Satu, di bawah keset kaki depan kamar mandi utama. Dua, di bawah kolong tempat tidur!


"Lho,..Ziya, kok ke bawah keset kaki? Kira, kok ke bawah kolong tempat tidur? Seharusnya ke mana, hayo?", mama mulai hampir melotot.

Tapi Kira dengan percaya diri memandang mama dan memberi alasan yang menurutnya paling masuk akal,
"Sengaja bial ketemu semua sama mamanya dan papanya, 'Ma.. Ini kan yang Kila sapu anak-anaknya keltas...!"

"?????"

Well, sama sekali bukan jawaban yang mama duga pun mama harapkan, tapi bikin mama senyum dan sedikit terharu. Kira sebegitu pedulinya ya mempertemukan keluarga kertas di bawah tempat tidur biar semua bersatu :-). Owww....Mama menghargai niat baik itu, tapi tentu saja ada yang harus diarahkan dengan hati-hati soal membuang sampah pada tempatnya.

Ok deh. Setelah para bidadari puas nyapu, giliran mama ambil tangkai sapu beneran untuk memindahkan 'keluarga kertas' itu ke tempat sampah, tentu dengan persetujuan para bidadari sebelumnya dan sedikit penjelasan paling simpel kenapa semua itu akhirnya harus masuk tempat sampah di dapur mama, hehehe...


OMA PULANG


Minggu pagi 6 April 2008 ini Oma akan terbang kembali menuju Jakarta, Indonesia tercinta. Kita semua berangkat menuju LCCT dengan taksi Pak Cik Amin. Nggak terasa ya, sudah 3 bulan Oma bersama kita di Kuala Lumpur. Tadinya Oma berpikir Kira-Ziya nggak perlu ikut, nggak perlu dibangunkan pagi-pagi, karena khawatir di bandara nangis atau nggak mau lepas dari gendongan Oma(beberapa hari sebelumnya entah hanya feeling mama saja atau memang demikian, Kira-Ziya seperti nggak mau lepas dari Oma, adaaa saja yang dibuatnya untuk membuat Oma nggak bisa ngapa-ngapain) . Tapi menurut mama para bidadari sudah cukup besar dan memahami kondisinya, jadi insyaallah nggak akan ada masalah, sebab toh sudah jauh-jauh hari diberi pengertian bahwa Oma akan kembali ke Jakarta. Justru kalau nggak ikut mengantar, mama yakin Kira-Ziya malah akan penasaran sehingga akan selalu bertanya ke mana Oma dan sebagainya.

Nah perkiraan mama benar, pagi itu apa yang dikhawatirkan memang tidak terjadi. Alhamdulillah semuanya lancar, cuaca cerah, Kira-Ziya melepas Oma dengan senyum.

Begitulah, kita jadi berempat lagi sekarang.
Oma berangkat ke Jakarta dengan segudang pesan dari para bidadari, termasuk beberapa lembar 'surat' tulisan tangan Kira-Ziya yang dibuat malam sebelumnya dengan pensil warna (yang seperti kode rahasia itu hehehe,..lha belum bisa nulis, baru bisa corat-coret, menurut para bidadari itu adalah surat yang sarat dengan isi penting, sayang mama lupa memotretnya, jadilah lembar-lembar itu akhirnya disimpan Oma untuk diberikan ke Opa dan mimi Nila sesuai amanat-nya masing-masing hehehe).

Buat Oma pesannya, minta tolong dibuatkan rok emily seperti yang dipakai emily dalam VCD barney dan mother goose (sampai sekarang setiap hari Kira-Ziya pakai berbagai rok--yang dinamakan sendiri sebagai 'rok emily'--yang ada di lemari dan menggantinya sesuka hati sampai habis dan layak masuk mesin cuci mama). Buat Opa, minta tolong titip dicarikan VCD lagu Tasya karena yang ada di rumah sudah berpuluh-puluh kali diputar sampai hampir hafal seluruhnya, berkali-kali jatuh dan berkali-kali tergores apa saja hingga sesekali mulai error bahkan nggak bisa diputar sama sekali. Buat mimi Nila, para bidadari minta tolong dicarikan VCD Si Unyil. Unyil? Iya, Unyil! Kenapa tiba-tiba inget Unyil? Rasanya Kira-Ziya waktu di Jakarta baru sekali-dua kali aja nonton film Unyil yang sudah diperbaharui di TV (Laptop si Unyil). Dulu sebelum-sebelumnya lebih sering mama ceritakan versi aslinya berdasarkan cerita yang mama ingat ketika kecil. Waktu beberapa kali mama tanya kenapa Unyil, Ziya selalu senyum aja tuh,.. jadi ok deh..mama biarkan apa pun alasannya tersimpan di hati para bidadari yang udah mulai gede ini hehehe...
Thank you for everything Oma! Terima kasih untuk 3 bulan yang ceria, asik dan seru ya! :-)

Monday, April 07, 2008

WEEKEND TERAKHIR BERSAMA OMA



Sabtu kemarin adalah akhir pekan terakhir bersama Oma. Besoknya, minggu pagi Oma akan berangkat menuju Jakarta. Nggak terasa ya, sudah 3 bulan Oma menemani kita di Kuala Lumpur. Wah,..mama deg-degan juga karena kondisi harus disesuaikan lagi, tapi mama yakin semua bisa diatasi bersama papa. Jadi, let's face it with smile aja..:-)


Hari Jum'at malam mama bikin somay kesukaan papa. Istimewa memang, karena mama pikir belum tentu besok-besok mama bisa berlama-lama megang kompor, panci, kuali, adonan kue dan sebagainya hehehe. Jika kita hanya ber-4, konsentrasi mama yang utama pasti adalah menemani para bidadari. Kira-Ziya kadang bisa mengerti kalau mama mau masak, ngepel dan sebagainya. Tapi berdasarkan pengalaman sih pengertian itu nggak berlangsung lama :-). Pasti ada aja hal yang bisa dilakukan untuk mengalihkan konsentrasi mama dan membuat semuanya jadi nggak diteruskan lagi alias 'nanti aja nerusinnya nunggu papa pulang kantor deh'. Jadi kesempatan untuk 'sok sibuk' di dapur maupun beres-beres rumah ya hanya selagi ada Oma yang bisa mengalihkan perhatian para bidadari dengan dengan bermain, nyanyi dan apa saja.


Jadi Sabtu pagi itu, sementara Kira mandi pagi, papa mengajak Ziya main cat air. Gini nih asiknya,..




Setelah selesai mandi, gantian Kira yang main cat air dan Ziya yang mandi. Haaa? Iya! Kira main cat air setelah mandi, setelah pakai baju baru yang bersih, setelah wangi, setelah segar dan fresh gitu.. Oo! Yup! Mama udah bisa nebak apa yang akan terjadi kemudian deh..







Begitulah, Kira-Ziya lanjut main cat air sampai puas meski sudah mandi. Cap tangan, cap kaki, pencet sana, pencet sini, inisiatif pula ambil gelas plastikdari lemari dapur mama. "Eh, untuk apa Ziya?", tanya mama. " 'Kan untuk diisi ail, telus ziya mau cuci kuasnya kayak mama waktu itu...". Ok deh, Nggak puas main sama papa, para bidadari mulai asik menyapu kertas, tangan dan meja dengan cat air!







Akhirnya dua-duanya dimandiin lagi sama Oma karena belepotan sana-sini, sementara mama mulai ambil kain lap, sapu dan perlengkapan perang lainnya untuk beresin lantai dan perabot ruang tamu yang warna-warni ;-)

Setelah semuanya beres, rencananya siang itu kita ke pameran buku antar bangsa di PWTC (Putra World Trade Center), KL. Jauh-jauh hari mama udah merayu papa supaya kita boleh sedikit kalap di pesta buku. Maklum, lagi kambuh nih kangen megang bukunya hehehe. Tapi di pameran itu ternyata nggak terlalu banyak yang bisa dipilih. Mungkin Book Festival Kuala Lumpur di KLCC Convention Center yang akan hadir pertengahan mei nanti akan lebih besar dari yang ini (tuing! tuing! ..pa,..kita nabung dari sekarang buat kalap lagi beli buku nanti boleh ya? ya? ya? kan yang kemarin nggak jadi kalap hihihi). Meskipun demikian mama sueneeeeenggggg buangetttttzzzz deh, karena mama dapat hadiah! Papa belikan mama 1 buku kumpulan resep warisan melayu dan 1 buku "Skycrapers-- Herbert Wright (2008)". Satu lagi hadiah dari Oma (untuk ulang tahun yang masih beberapa minggu itu--Thanks Oma-Opa-Mimi!!) buku Architecture@08--BCI Asia (2007). Isinya? Kereeeennnnn! Yang satu tentang sckycraper building terkenal seluruh dunia dari jaman sejarah sampai jaman millenium, yang satu lagi tentang the next generation of building and technologies for Asia Pacific. Sampai sekarang tiap kali Kira-Ziya tidur siang, ada yang ngalahin keinginan mama online internet untuk update blog dan ngecek email nih,..baca buku! Asiiiiikkkkk....Mama selalu senang dapat hadiah buku. Sampai kemimpi-mimpi euy,..Alhamdulillah..

Oh ya, di pesta buku itu mama juga seneng banget karena pas kebetulan ketemu maskot salah satu buku anak lokal, 'Gogo', Ziya dan Kira berani maju dan salaman sambil bilang "Bye Gogo...! Bye...!" pas mama tantang "Yuk foto bareng gogo! Berani?". Ketika beberapa waktu lalu ketemu maskot Kelinci raksasa di Isetan, Suria KLCC, Kira-Ziya takut dan nggak mau melepas genggamannya dari baju mama meski setelah dibujuk akhirnya mau maju dengan ragu-ragu. Nah, di pesta buku kemarin itu mama perhatikan Kira-Ziya kelihatan lebih berani dan punya inisiatif sendiri meski masih agak sedikit takut-takut, rasa penasaran mungkin mengalahkannya ya, jadi sambil salaman kelihatan matanya nggak berkedip dan waspada mengawasi boneka yang guedeee banget gitu. Sampai di rumah Kira-Ziya bisa bangga dan berlega hati ketika cerita bahwa tadi ketemu 'temennya Barney'! Hehehehe. I'm so proud of you, Kira-Ziya, mama-papa-oma angkat jempol karena Kira-Ziya udah bisa mengendalikan diri sendiri dan mengalahkan rasa takut itu. Bravo!