Saturday, May 31, 2008

FATHER'S UNIQUE WAY OF CARING


Setiap hari saat yang ditunggu-tunggu oleh para bidadari adalah ketika papa pulang dari kantor. Kadang belum sempat masuk foyer rumah, belum sempat buka sepatu, belum sempat meletakkan tas ransel, belum sempat meletakkan belanjaan titipan mama, belum sempat ganti baju, belum sempat meluruskan punggung dan kaki, belum sempat mendaratkan ciuman dan pelukan buat kita serumah, bahkan belum sempat masuk rumah alias baru terdengar ketukannya saja, Kira-Ziya sudah berlarian menubruk pintu sambil teriak-teriak, "Papa datang! Papa datang! Papa dataaaanggggg!!!". Papa yang ditunggu-tunggu seharian juga nggak pernah keberatan mendahulukan sambutan para bidadari yang biasanya langsung menarik-narik, mendorong dan nggak sabar minta papa segera main bersama mereka.

Membiarkan para bidadari menghabiskan waktu bersama papa kadang bikin mama surprise sendiri karena pola asuh seorang ayah ternyata sedikit berbeda dari pola asuh seorang ibu. Namun perbedaan ini justru menurut mama saling melengkapi dan menyeimbangkan satu sama lain. Intinya, lain seru dan asiknya main sama mama, lain pula asik dan serunya main sama papa. Eh, yang mama maksud bukan soal menyatakan sesuatu atau pendapat di hadapan Kira-Ziya lho, tapi pola asuh sehari-hari. Kalau soal pendapat mah mama dan papa udah sepakat sejak awal akan satu kata di depan para bidadari, alias apa yang mama sampaikan artinya juga demikian yang akan papa sampaikan, begitu pula sebaliknya. Jadi nggak ada istilah mama bilang 'tidak' terus lari ke papa karena kemungkinan papa bisa dirayu untuk bilang 'iya' hehehe. Soal yang satu ini mama dan papa udah sepakat untuk solid deh. Jadi Kira-Ziya nggak perlu bingung karena kalau papa bilang 'ya' artinya mama pasti juga akan jawab 'ya' kalau ditanya. Soal diskusi dibalik kesepakatan itu apakah bener-bener iya atau tidak akan jadi rahasia berdua mama dan papa, yang jelas di depan Kira-Ziya mama dan papa kompak donggg....:-)

Kayaknya mama udah sering cerita soal gimana serunya bermain dan belajar sama papa ya. Kadang bikin mama geleng-geleng kepala. Kadang bikin mama senyu haru. Kadang bikin mama terpingkal-pingkal sampai sakit perut karena kegelian sendiri mengingatnya. Kadang bikin mama terkagum-kagum karena mama aja nggak kepikiran sedemikian eh papa malah punya cara tersendiri yang matap dan keren banget dan langsung mak nyusss untuk dipahami dan diterapkan Kira-Ziya saat itu juga.

Saking banyaknya yang bisa diceritain, mama sampai lupa dan nggak tau harus mulai dari mana. Ini ada beberapa yang lucu, menggelitik, bikin geleng-geleng dan sempat mama ingat:

1
Inget kan ya, cerita ketika Kira-Ziya nggak mau mandi dan papa punya ide mengecat dinding kamar mandi dengan cat air? Nah, kali ini masih soal mandi lagi...

Kira nggak mau mandi sore sepulang dari jalan-jalan tadi.
"Kira, mandi yuk! Nih, Ziya udah nyemplung ke ember..", seru mama dari dalam kamar mandi.
"Nggak mau. Kila mau bobo aja."
"Kalau nggak mandi nanti gatel-gatel lho, kan tadi seharian kita jalan-jalan dan main, mungkin aja ada kuman dan bakteri yang nempel kan? Ingat nggak cerita di buku, 'Kenapa Aku Harus Mandi' itu? Kalau sudah mandi, badan kita bersih dan wangi, jadi bobonya bisa lebih nyaman dan nyenyak kan.."
"Kila mau pipis tapi nggak mau mandi."
"Lho, kok gitu,.."
"Nggak. Nggak mau mandi."

Melihat mama mulai menyerah dan hampir melotot, papa yang sebelumnya sedang menemani Kira baca-baca buku kemudian ambil alih membujuk,

"Yuk sama papa mandinya.."
"Kila nggak mau mandi!"
"Maksud papa memang nggak mandi..."

Kira menoleh ke arah papa yang kemudian melanjutkan,
"Hanya nyemplung aja kok."
"...tapi Kila nggak mau mandi!", Kira tetap pada pendiriannya tapi mulai tergerak ke kamar mandi
"Iya, maksudnya nggak mandi.. tapi cuma main-main air dalam ember aja kayak Ziya gitu kan...?Nih begini nih...hehehe", papa menyiprat-nyipratkan air dalam ember dan membuat Ziya yang udah duluan nyemplung jadi tambah ceria dan Kira mulai tertarik.

Akhirnya Kira memang mandi. Meski kronologisnya bukan sabunan dulu baru dibasuh dengan air, melainkan nyemplung dulu baru sabunan dan lantas nyemplung lagi. Hehehehe...apa mama bilang, papa kita memang jenius!


2Ziya yang habis pipis nggak mau pakai celana dan beranjak dari dapur mama (dapur sepertinya selalu jadi tempat menarik buat para bidadari terutama setiap kali habis ke pasar, karena artinya lantai akan mama penuhi dengan koran dan berbagai sayur-mayur yang hendak disiangi. Nah, peluang buat direcokin para bidadari kan...hehehe).

"Papa sayangkuww....! Minta tolong handle Ziya ya, mama lagi motong ayam nih, tangan mama belepotan..", Mama memanggil papa yang sedang main sama Kira di kamar.

Ziya yang didatangi papa malah ngajak bercanda dan kejar-kejaran, tetap nggak mau pakai celana meski dibujuk-bujuk.
"Ziya, jangan bercanda dong...", ujar papa.
Ziya tetap tidak bergeming. Malah loncat-loncat di dapur.
Papa mulai gemas dan cari akal lantas tahu-tahu bilang,
"Hayo, pilih mana, mau pakai celana atau pakai daun?!"
Gubraaakkk!! Oalaaa.. Daun? Kayak jaman purba yak..pasti papa terinspirasi sama kangkung yang ada di dapur mama nih,
Kontan Ziya dengan lantang menjawab sambil cengengesan dan tertawa menunjuk-nunjuk kangkung,
"Dauuuuuuuunnnnnnnn!!! Hahahahaha,.. dauuuuunnnn!"

Ziya aja geli dengernya apalagi mama! Sampai tuh ayam selesai dipotong dan masuk kulkas, bahkan sampai lagi nulis blog ini, mama masih bisa cekikikan sendiri ngingetnya. Lha, gimana enggak coba...denger pertanyaan papa mama udah bisa nebak apa jawaban Ziya. Jelas pasti njawab 'daun', kenapa? Karena lebih menarik dan nggak biasa ajaa... huehehehehe...

Nggak cuma Ziya dan mama yang kegelian, papa akhirnya jadi ikut cekikikan sambil menggendong Ziya ke kamar, surprise sendiri sama spontanitasnya yang keatif. Akhirnya Ziya mau pakai celana karena perhatiannya teralihkan.


3
"Kira, jangan naik-naik bangku begitu! Nanti jatuh. Kalau Kira-Ziya sakit kan papa dan mama jadi sedih...", papa melarang Kira sambil sesekali konsentrasi dengan layar monitor.

Kira masih memanjat-manjat bangku.
"Kiraa.... hayo, nggak denger kata papa?", papa kembali mengalihkan perhatian ke layar monitor dan Kira kembali berlompatan.
"Kira...papa sudah mengingatkan lho ya...", papa hampir menyerah. Beberapa saat kemudian,
"Maa... ", papa memanggil lirih.
"Iyaa...", mama menjawab lirih sambil menyendokkan sayur ke mulut.
"Kira tuh,..."
"Iya kenapa Kira..", mama masih asik dengan sayur di piring
"Ya itu,.. masih lompat-lompat aja.."
"Lha... terus..."
"Ya bilangin dong,.."
"Kan tapi udah papa bilangin...",
"Iya ..." papa mulai cemberut

"Kiraa... katanya nggak mau bikin mama dan papa sedih.. inget nggak kemarin bilang begitu? Kira lupa ya...!?", mama mulai mengambil alih sambil menoleh ke arah Kira. Kira menatap mama.
Mama nggak melotot tapi menatap Kira dengan dalam. Entah kenapa mama punya feeling dan yakin bahwa Kira-Ziya selalu tahu jika mama nggak setuju dengan apa yang dilakukannya meskipun nggak langsung marah.
"Inget ma...", dan Kira turun dari bangku kemudian main kembali bersama Ziya.
Hehehehe... kalau udah nyerah papa mulai deh balikin lagi ke mama. Kenapa nggak to the point aja tadi minta mama segera tegas dan melotot ke Kira...:-)


4
Suatu hari mama melihat meja dapur sedikit rame. Ada belepotan mentega, serakan meses. coklat dan beberapa potong kulit pinggir roti.
Ketika memperhatikan papa bolak-balik ke dapur-ruang tamu-dapur-ruang tamu sampai akhirnya kulit-kulit roti itu habis dan terdengar teriakan Kira-Ziya,
"Mau lagiiiiiiii!"
"Habis sayang, besok insyaallah kita beli lagi ya rotinya...", kata papa
Baru mama ngerti.
Papa berhasil menyulap pinggiran kulit roti menjadi snek asik yang ternyata dinikmati Kira-Ziya sampai ludes. Pinggir-pinggiran roti yang biasanya selalu disisihkan itu diolesi mentega dan dicelupkan ke meses ceres warna-warni (yang waktu itu dibawakan Oma ketika ke KL secara di sini nggak ada meses ceres tuh). Jadi kayak permen. Lucu dan menarik dinikmati.

Padahal biasanya mama nggak pikir panjang selain menyulap pinggiran-pinggiran roti itu menjadi bread crumb pembungkus risoles setelah digongseng tanpa minyak di atas panci teflon dan api sangat kecil lalu diblender. Hehehehe... Papa punya solusi lebih baik ternyata...

5
Suatu sore di minggu ke dua bulan November tahun lepas, seperti biasa mama mencuci piring. Tiba-tiba ada suara mengejutkan di belakang mama,
"Ma...!" Kira berdiri sambil membentangkan tangannya
"Iya sayang?"
"Eh..."
"??"
Kira ngggak jadi ngomong malah lari ke kamar. Lalu balik lagi,
"Ma!"
"Iya, kenapa Kira?"
"Ai.. lup yu!", Kira nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya

Ha? Mama nggak salah denger ya? Maksudnya 'I love you'?
Belum sempat reda dari kejutan itu, Kira sudah ngacir lagi ke kamar, gantian Ziya yang lari ke dapur memanggil mama,
"Ma...!"
"Iya sayang?"
"Ai ... ai...lop yuu!" Ziya tersenyum, sepertinya hepi berhasil menyebut kalimat itu meski terbata.
Ouuchhh... Kira Ziya bilang I love you?! Wow...!! Mama sempat bengong beberapa saat mencerna yang baru didengar. Jadi gini nih rasanya kalau ananda tercinta mengucapkan the magic words itu!? Dulu temen mama ada yang pernah cerita gimana dia begitu terharu ketika anaknya menyampaikan kalimat I Love You. Saat itu mama belum menikah sama papa. Dan mama berharap suatu saat akan mengalaminya juga. Dan hari itu.. dahsyat euy..Bener juga.Ternyata ada yang nyaingin kemerduan suara papa kalau bilang "luv you so much, dear.."! ;-) Wow!

Meskipun kata I Love You sering mama sampaikan ke Kira-Ziya sejak masih diperut sampai sekarang, baru kali itu mama mendengarnya diucapkan secara mengejutkan oleh bibir mungil para bidadari tercinta yang masih belum fasih betul pengucapannya, di saat yang nggak mama duga pula.

Duh, terharunyaaa...Langsung mama berlutut memeluk Ziya dan Kira yang saat itu berhamburan juga ke pelukan mama. Subhanallah... Seluruh pegel selama nyuci piring dan beres-beres seharian tiba-tiba terbang entah ke mana. Sampai malam udah aja terngiang-ngiang terus nggak hanya di telinga tapi juga di kepala dan hati mama!

Hehehe by the way, siapa yang menyarankan Kira-Ziya mengejutkan mama dengan kata-kata itu ya? Kelihatannya tadi mereka bolak-balik ke kamar untuk nanya dan menghafal kalimat yang benar deh..

Ketika masuk kamar masih dengan celemek di pinggang dan menyampaikan apa yang baru saja terjadi, mama lihat papa senyum-senyum dikulum hehehe. I love you all! Anyway, setelah hari itu, baru 6 bulan kemudian, terpatnya beberapa hari kemarin lagi mama denger Kira-Ziya tiba-tiba mengucapkannya lagi. Kali ini dengan lebih jelas karena sudah lebih besar dan kelihatannya dengan inisiatif sendiri ketika sedang bermain bersama mama. Ouuuuccchhh...tetep aja mama merasa dapat kejutan.. berjuta-juta deh senengnya...:-)



Wednesday, May 21, 2008


YOU CAN DO IT!



Kira-Ziya udah tambah besar. Udah tambah panjang pula akalnya, tambah pinter cari alasan, tambah pinter cari kesempatan. Kadang untuk melakukan sesuatu mulai nggak sabar karena pingin cepat selesai atau cepat mendapatkannya. Jadi mumpung lagi sering baca cerita tentang puteri-puteri negeri dongeng, kesempatan mama memasukkan nasehat dan semangat nih, " Seorang puteri nggak mudah putus asa, lho. Nggak pernah bilang 'nggak bisa!'. Selalu berusaha keras dan yakin, 'aku bisa! I can do it!' ".

"Ma...moni punya Ziya mana?"
"Di kamar mungkin, kan yang mainin selama ini Ziya, seharusnya yang paling tahu ya Ziya dong, ya nggak?..."

Biasanya Eyang (yang udah sejak awal mei ini main ke KL) mulai siap-siap hendak mengambilkan karena khawatir Ziya atau Kira merengek-rengek, mungkin nggak tega bikin para bidadari kemudian nangis. Tapi beberapa kali mama sampaikan ke Eyang untuk membiarkan saja Ziya atau Kira melakukan dulu apa yang seharusnya dilakukannya (termasuk pakai kaus kaki, ambil minum, mencari mainan, mengambil buku dari lemari dan sebagainya), karena itu akan melatih kemandiriannya. Eyang lupa kalau para bidadari udah gede kali ya hehehe..

"Nggak ada!", Ziya merajuk
"Sudah dicari belum?"
"Belum! Mama aja!"
"Ayo dong, coba berusaha cari sendiri dulu. I know you can do it!"

Biasanya meski merengek-rengek, kalau moodnya lagi ok, Ziya atau Kira akan coba mencari sendiri juga akhirnya. Kalau nggak berhasil, baru mama coba bantu. Nangis-nangis sih udah biasa. Mama anggap ini bagian dari pembelajaran buat mama juga buat para bidadari. Namanya juga belajar, pasti ada prosesnya, pasti perlu waktu.

Entah kenapa kemarin ini Kira-Ziya memasukkan seluruh buku cerita dari dalam koper ke dalam lemari. Karena bertebaran dan berantakan, jadi sulit mencari beberapa buku untuk dibaca. Biasanya para bidadari mulai uring-uringan kalau lagi malas, nggak sabar, mulai bosan atau nggak menemukan buku yang diinginkan.

"Bukunya manaaaaaa.....huhuhuhu..." Kira mulai merengek-rengek ke arah mama.
"Sudah coba dicari apa belum?"
"Nggak ada! Mama aja carinya..."
"Kalau Kira sudah cari sendiri dan nggak ketemu, baru mama bantu. Kalau belum, ayo, coba cari dulu ya!" Mama nggak bergeming
"Nggak mauuuuuuu......"
"Kalau nggak mau, Kira nggak usah baca buku. Main yang lain aja ya..."
"Nggak mauuuuu...." Kira lantas mulai menangis.
"Inget kan, seorang puteri nggak mudah putus asa. Selalu bilang 'I can do it!' , katanya Kira seorang puteri, ayo, mama yakin Kira bisa. I know you can do it!"

Setelah dibujuk-bujuk dan akhirnya mama temani ke kamar, baru Kira mau mencarinya kembali.

Setelah dapat, biasanya para bidadari akan teriak kegirangan sambil mengacungkan jempol tangannya,
"Mama! Ini dia! I can do it!"
Dan itu adalah momen membahagiakan buat mama karena Kira-Ziya jadi lebih percaya diri dan yakin bisa melakukan sesuatu dengan usaha sendiri. Good...! I'm proud of you!

Sepulang papa dari kantor biasanya Kira-Ziya langsung bergelayutan di leher sambil mencium papa dan menagih waktu papa untuk baca buku. Ketika membuka lemari, papa berkomentar,

"Waduh... bukunya berantakan sekaliii...!! Gimana nyari bukunya nih?"
Kira yang ada di kamar saat itu dengan lantang berteriak sambil memberi semangat,
"Papa cari aja sendiri ya, 'Pa! Ayo!! You can do it!!"
Papa ngeloyor pergi ke dapur menemui mama dan cekikikan sambil cerita apa yang barusan terjadi.





KALAU NANGIS...


Kalau Kira-Ziya luka atau gatal atau kenapa-napa, biasanya kita punya ritual tersendiri. Kira-Ziya akan duduk di pinggir tempat tidur di kamar, lalu mama mengoleskan minyak tawon/minyak kayu putih/minyak butbut di bagian yang luka sambil berdoa (diikuti para bidadari) agar lukanya segera sembuh. Lalu mama bilang ke para bidadari supaya jadi anak yang kuat dan yakin bahwa lukanya akan segera sembuh, jadi bisa senyum lagi. Sebab kalau Kira-Ziya sedih, mama juga akan ikut sedih, kalau Kira-Ziya senyum, mama juga akan ikut hepi.

Kemarin ketika menangis karena berantem sama Kira, Ziya sambil sesenggukan memeluk mama,
"Uhuhuhuhu,...!"
"Udah sayang, jangan nangis dong,..", mama menenangkan.
"... kalau anaknya nangis, mama ikut nangis ya?", Ziya masih sesenggukan
"Iya nak,.."
"Kalau anaknya sedih, mama juga ikut sedih ya?"
"Iya, sayang...", mama memeluk sambil menghapus air mata Ziya
"Kalau anaknya sakit, mama juga ikut sakit ya?"
"Iya, makanya anak mama jangan sakit ya.."
"Iya,..uhuhuhuhu,.."

Lalu tiba-tiba Ziya diam. Berhenti sesenggukan. Memikirkan sesuatu. Lantas menatap mama sambil menyelidik lirih,
"Kalau anaknya gatal,.. mama ikut gatal juga nggak?"
Gubraaakkkk!

Walah! Ini pertanyaan susyaah amat yak, ada-ada aja.. mau dijawab 'iya' artinya bohong, mau dijawab 'enggak' bisa jadi bikin Ziya dan Kira bingung (parahnya Kira yang saat itu sedang baca buku tiba-tiba berhenti ikut menunggu jawaban mama). Jadi mama senyum aja tanpa menjawab pertanyaan itu, tapi gelagapan juga dan merasa tak berdaya,
"mm.. uh...mmm...eh, gimana kalau kita makan pepaya! Mama udah kupaskan buat Kira-Ziya tadi lho,.."
Kira-Ziya menyambut ide itu. Nggak bertanya lagi. Asik makan pepaya!


LAGU VERSI KIRA-ZIYA

1
Judul: Naik Kelas (Tasya)
Lirik aslinya:
"Hore! Hore! Aku naik kelas!
Lihatlah raportku tak ada angka merah!
Hasil jerih selama setahun
kerja keras, tabah serta tekun"

Lirik versi Kira:
"Hore! Hore! Aku naik kelas!
Lihatlah raportku tak ada angka merah!
Hasil jerih selama setahun
kerja keras, aku suka tepung!"



2
Judul: Baba Black Sheep
Lirik Asli:
" Baba black sheep
have you any wool?"

Lirik versi Kira-Ziya:
"Baba black sheep
papa anymore?"


3
Judul: Hide and Seek
Lirik Asli:
"Hide and seek,..
hide and seek..."

Lirik versi Kira-Ziya:
"Eye dancing..
eye dancing..."


Mama udah berkali-kali membenarkan lirik lagu-lagu itu tiap kali menyanyi, tapi teteeepp aja yang nyanyi mah yakin mamalah yang salah denger huehehehehe... jadi mau gimana lagi.. buat para pencipta lagunya, ehm, mohon maaaaapppppp ...yak...;-)
MEWARNAI KAMAR MANDI


Ini ide keren papa. Berhubung Kira-Ziya lagi susah disuruh mandi, perlu sedikit trik membujuknya. Papa menyiapkan beberapa tube cat air dan kuas dalam kotak plastik lalu masuk kamar mandi dan mewarnai dindingnya. Kira-Ziya yang tadinya udah keukeuh nggak mau mandi dan lari sana-sini begitu dipanggil jadi buru-buru bilang mau mandi dan lari ke kamar mandi untuk ikut mewarnai dinding. Hehehehe... papa memang canggiiiiihhhh!!

Sekarang, tantangannya, gimana meminta para bidadari keluar dari kamar mandi??? Sampai menggigil-menggigil baru Kira-Ziya bersedia dibujuk keluar dari ember dan pakai handuk. Ck ck ck ..

Ini pertama kali mewarnai kamar mandi,










Ini beberap hari kemudian.











Sunday, May 18, 2008

www.indahip.blogspot.com

MENCARI KUNANGKUNANG


ziya mencari kunangkunang
dipakainya sepatu
dibukanya pintu
“hendak ke mana, sayangku?”
“bertemu kunangkunang di zoo!”


indah ip
18 mei 08, 11.10 pm



MENJADI PUTERI


kira ingin jadi cinderella
dibawanya tongkat
dipakainya tiara
“hendak ke mana, sayangku?”
“mencari pangeran di istana!”


indah ip
18 mei 08, 11.20 pm

Thursday, May 08, 2008

SAYAP PERI



Ketika melihat kostum peri di salah satu filem seri TV, buku-buku cerita Kira-Ziya dan baju-baju cantik di KLCC, mama jadi punya ide membuatkan sayap sederhana buat Kira-Ziya. Udah coba memperhatikan detail sayap di toko itu, udah juga mereka-reka gimana membuatnya dengan detail, tapi begitu mengerjakannya malah muncul ide lain yang lebih mudah dan lebih sip.

Tadinya mama mau bikin sayap-sayap itu dari bekas plastik tisu gulung yang lumayan besar, kan asik tuh warna-warninya ngejreng, lalu dibentuk dengan kawat tipis yang ada di lemari perkakas papa. Tapi ternyata nggak semudah yang dibayangkan dan kalau proses pembuatannya lama, pasti deh Kira-Ziya nggak bakalan sabar menunggu sampai selesai meski ikut dalam pembuatannya.

So, mama tahu-tahu kepikir membongkar laci plastik dan kantung belanja untuk mencari ukuran besarnya. Dapat dua buah kantung kertas coklat yang lumayan tebal dan lebar! Lalu begitu saja ide-ide berloncatan di kepala mama.

Pertama, buat pola sayapnya. Lalu cetak di kedua sisi kantung kertas dan gunting mengikuti pola. Nah, ini bagian paling asik, tali kantung bagian atas mama biarkan demikian adanya sehingga bisa langsung dimasukkan ke lengan Kira-Ziya nanti! Sip kan? Praktis dan mantap.

Biar lebih cantik, mama lapisi bagian atasnya dengan alumunium foil dari dapur dan dikuatkan dengan selotip.

"Ma... Kila telbang dulu ya!"
"Ke mana?"
"Ke pasal (pasar)!"
"Ngapain?"
"Beli sayuuulllll ! Byeeee....!"

Untuk melengkapinya mama buatkan juga cermin ajaib seperti yang ada di gambar kostum puteri duyung. Isinya dari kardus berbentuk lolipop yang pernah papa buatkan sebelumnya. Lapisi juga dengan alumunium foil. Jadi deh!

"Ma.."
"Iya, kenapa Ziya?"
"Besok buatin prakarya lagi ya!"
"Sip!,.. mau dibuatin apa?"
"Ekol puteli duyung!!!" Serempak Kira-Ziya berteriak
"Haaa??? Ya ampyuuuummm gimana cara buatnya? Itu mah harus pakai kain..! Cuma Oma yang bisa, kan mama di sini nggak punya mesin jahit, Nak..."
"Oh iya ya,.. kan mesinya dipake mama buat nyuci ya..!"
"Nah,..pinteeeeer.....hehehe..."
Masih aja nih para bidadari inget kalau mesin di rumah kita terlanjur mama pakai tiap hari buat nyuci baju makanya nggak bisa untuk njahit kekekekek...

Ohya, ini adalah kesibukan Kira-Ziya ketika mulai bosan dan nggak sabar dalam proses pembuatan prakarya. Surprise juga sih karena para bidadari ternyata kreatif dengan ide dan imajinasi masing-masing!
Kira membuat sendiri gelang kaki dari sisa-sisa alumunium foil yang digulungnya,
Ziya membuat "bangku" (menurut Ziya itu khusus buat duduk si moni) dari karton sisa kardus yang ada dan selotip.
PRINCESS KIRA & ZIYA
Setiap kali membaca buku "my dressing up box", mama tanya, di antara semua kostum itu apa yang ingin dipakai Kira-Ziya jika suatu saat harus ikut karnaval di sekolah. Jawabannya selalu dan selalu, "Kostum princess, 'Ma!".

"Kenapa?"
"Kalena Kila-Ziya pingin jadi puteli!"
"Lho, sekarang kan Kira-Ziya udah jadi puteri! Lupa ya?"
Kira dan Ziya berpandangan,
"Puteli?"
" Iya. Puteri! Mama Kira-Ziya kan seorang puteri! Dan papa adalah pangeran, sebab puteri hanya menikah dengan pangeran kan...? Jadi anak-anak mama juga puteri dong..."
"???"
"Nggak percaya? Coba tanya Oma kalau nelpon nanti ya,.. atau nah, eja nama belakang mama nih, di passport mama,... P-U-T-E-R-I. Bacanya apa?"
"Pu-te-li!" Kira-Ziya mengikuti ejaan mama sambil berbinar-binar menyadari mamanya seorang puteri betulan hehehe,... Nama belakang mama kan memang itu di akte kelahiran.

Ketika para bidadari tidur siang, mama coba menyiapkan kejutan. Sengaja nggak dikerjakan sampai selesai karena mama ingin Kira-Ziya bisa ikut proses pembuatannya setelah bangun nanti.

Dibuat dari sisa kardus boneka Moni yang sudah terpotong sebagian jadi prakarya bersama Oma waktu itu. Tadinya mau dibuat dari kardus semua biar mantap, tapi mama belum ketemu cutter euy, jadi agak susah membuat lekukan-lekukan. Jadi mama buat bagian tiaranya dari kertas HVS putih, lebih mudah digambari, dilipat-lipat dan digunting-gunting, kemudian ditempel. Hiasannya dari apa saja sisa potongan-potongan kertas berwarna.
Ketika sedang memotong-motong, tiba-tiba Ziya bangun dan masuk kamar bermain,
"Mama sedang bikin apa? Plakalya (prakarya) ya?", tanya Ziya penasaran
"Buat Kila-Ziya ya!? Apa itu, 'Ma?", tiba-tiba Kira muncul karena terbangun juga

"Hehehe ada deeehh, pokoknya asiiiikkk..yuk kita buat...!".


Untuk Kira mama buat tiara berbentuk hati karena Kira pernah bilang ingin punya mahkota berbentuk hati.
Untuk Ziya mama buat tiara berbentuk lingkaran karena Ziya pernah bilang ingin punya yang demikian.


Nah, untuk melengkapinya mama buatkan juga tongkat sang puteri yang juga bisa jadi tongkat peri ajaib. Dibuat dari dua lapis kertas HVS, diselipkan ke dalam tangkai sedotan yang ujungnya dibelah dua, kemudian diselotip yang kuat sehingga tidak mudah lepas, ditempeli kertas berwarna dan ditulisi inisial masing-masing.

Kemudian sisa guntingan pola mahkota yang dibuang sayang (soalnya bentuknya unik) mama jadikan gelang. Agak kebesaran sedikit dan agak aneh sih, tapi nggak apa hehehe tetap fun dan seru.

Hmm..btw, sayangku, meskipun nggak pakai crown, wand dan segala pernak-pernik princess dari negeri dongeng itu, sejak dulu sampai sekarang dan sampai kapanpun juga, kalian selalu jadi puteri-puteri paling manis di istana mungil kita dan hati mama-papa kok :-)

MENGGAMBAR MONI

Sudah 3 bulan terakhir Kira-Ziya nggak sekolah formal di playgroup, setelah observasi sekitar 6 bulan masa sekolah dan mempertimbangkan banyak hal, mama-papa berkesimpulan Kira-Ziya baru betul-betul siap sekolah pada usia taman kanak-kanak nanti (karena udah bisa memilih, kadang moodnya nggak pingin sekolah, kadang pinginnya main, nggak pingin mandi pagi-pagi, kalau dipaksa bisa heboh dunia deh dan mama-papa berpikir nggak ada alasan untuk memaksa sekolah di usia ini kan, kemarin itu niatnya hanya untuk pengenalan, untuk belajar berinteraksi dengan teman, mengenal bahasa dan sebagainya, jadi selama 6 bulan sekolah, dalam seminggu bisa aja tuh cuma sekolah sekali-dua kali aja, atau kadang kalau sekelas sakit ya ikut ketularan akhirnya dan bisa masing-masing dua mingguan sakit bergantian/berurutan, akhirnya sebulan nggak sekolah semua karena nggak ada yang mau pergi sendirian, maunya barengan). Jadi sekarang setiap hari di rumah kita bertiga sekolah bersama, sebagian besar sih mama jadi gurunya, tapi kadang Kira-Ziya juga pingin gantian jadi gurunya hehehe...we do everything we want, main-belajar-nyanyi-nari-bikin prakarya-dsb, untuk interaksi dengan teman kita jalan-jalan ke playground setiap akhir pekan bersama papa atau ke mana saja. So far kelihatannya para bidadari justru lebih enjoy, lebih ceria, lebih sehat, lebih nyaman dan lebih fleksibel soal waktu bermain-makan-istirahat nya (pas masih sekolah kadang salah satu atau keduanya bisa ketiduran sambil digendong mama atau Oma karena mungkin masih terpengaruh jam tidur saat masih nyusu dulu ya menjelang siang hari, kalau nggak ketiduran biasanya udah uring-uringan sebelum pulang sekolah). Kalau papa pulang kantor, biasanya gantian papa jadi gurunya (sementara mama siapin makan malam di dapur), main dan belajar sama papa memberi hal yang berbeda lagi buat para bidadari, memberi keseimbangan, memberi wawasan lebih, asik deh pokoknya.

Nah, ketika masih sekolah, ada hal yang belum sempat dilakukan (karena Kira-Ziya sempat flu berat gantian), teacher meminta setiap anak berbaring di kertas kopi besar, lalu mencetak seluruh badannya. Menurut teacher sih nanti akan dihias seperti anak yang digambar itu. Mama nggak terlalu jelas juga karena belum pernah lihat hasilnya, tapi mungkin kira-kira seperti apa yang kemarin ini sempat kita lakukan.

Mama sengaja beli kertas coklat besar ketika belanja. Papa heran dan tanya untuk apa, mama bilang adaaaaa ajah,..untuk main sama Kira-Ziya donggg...hehehe.

So, mama beri Kira-Ziya pilihan, ingin badannya yang dicetak seperti waktu di sekolah dulu atau ingin Moni yang dicetak. Para bidadari pilih Moni. Mama letakkan Moni di atas kertas dan kita mulai menggambar sesuai bentuknya. Eh, belum apa-apa, Kira-Ziya udah lebih heboh dari mama. Itu kertas coklat udah penuh aja sama gambar si Moni sesuai imajinasi masing-masing hehehe...
Ini Moni ala Kira
Yang ini Moni ala Ziya
Karena kita nggak punya kertas krep atau kertas warna-warni (kecuali kertas lipat yang tinggal beberapa lembar), mama cari aja plastik belanja yang banyak di laci dapur. Nah, dari plastik itu kita buat bajunya. Kayaknya nggak seru kalau hanya begitu ya, jadi mama ambil juga bungkus buah apel yang bentuknya seperti jaring untuk manset tangan dan ikat pinggang Moni. Sepatunya kita buat dari kertas lipat yang digambari dengan spidol untuk talinya. Semua aktifitas mama coba melibatkan Kira-Ziya. Mau warna yang mana, mau corak yang mana dan mau ditempel di mana.
Kalau ngikutin keinginan mama pasti maunya semua sempurna. Tapi apa yang kita lakukan kan sebetulnya acara Kira-Ziya ya, jadi nggak ada yang akan menilai hasil akhirnya toh? Sebab nggak ada yang benar maupun salah, nggak ada yang bagus maupun jelek, intinya kita semua hepi dan Kira-Ziya belajar banyak soal tempel menempel, soal inisiatif dalam berkarya, mengembangkan imajinasi, dsb, jadi mama biarkan semua proses berjalan apa adanya. Bahkan mama nggak membetulkan bentuk jari tangan, bentuk wajah (mama sempat minta maaf sama Ziya karena lupa, terlanjur memberi mata Moni dengan spidol, padahal Ziya juga ingin bikin mata sendiri, akhirnya Ziya bikin bulu mata Moni yang puanjang dan bibirnya hehehe) dan beberapa bagian yang atas inisiatif sendiri diganbar oleh para bidadari. Nah, jadi deh moni semi 3 dimensi :-)

Kalau lagi bikin prakarya, biasanya mama tutup mata deh soal kamar yang berantakan dan apa yang kemudian berlanjut setelahnya. Beresinnya ntar aja deh, kalau perlu beresinnya berdua papa (hehehe curang ya,..iyalah,.papa really a helping hand soal bantu beresin rumah mah,..kagak ada tandingannya,..hehehe, we love you, papa!)


Dan ini yang terjadi setelah acara menggambar Moni selesai. Kira membawa kertas coklat ke dapur. "Kok di bawa ke dapur, Kira?", tanya mama. "Kira mau piknik! Ayo Ziya, kita piknik!" Kira memboyong juga seluruh mainan masak-masakannya.

Semua dibiarkan seberantakan itu sampai kita bertiga bangun tidur siang dan akhirnya beresin bersama-sama. Jadi kali ini papa bisa pulang ke rumah dengan lega karena rumah udah bersih duluan hehehe...

Monday, May 05, 2008

LABIRIN PENSIL WARNA & ANGKA


Ketika di Jakarta dulu, mama pernah dapat bonus berlangganan salah satu majalan parenting berupa puzzle, gabus angka dan huruf, serta beberapa mainan edukatif lainnya. Sebetulnya sih bisa pilih paket lain berupa perlengkapan bayi dan buku, tapi saat itu mama pikir mainan edukatif akan lebih asik buat belajar para bidadari kelak.

Ketika berangkat ke KL tahun lalu, banyak hal yang nggak ikut terangkut, termasuk gabus angka dan huruf itu. Sebelum pindah, mama sempat menitipkan ke Oma untuk di simpan di kamar mama dulu, supaya siapa saja bisa main kalau ke rumah, lagipula kamar mama yang sudah tidak ditempati lagi itu direncanakan Oma memang sebagai perpustakaan kecil dan kamar bermain.

Saat Lebaran tahun lalu Oma-Opa-mimi Nila main ke KL, beberapa buku cerita dan mainan ikut dibawakan kemari. Kira-Ziya sudah cukup besar, mulai tertarik belajar huruf dan angka sambil nyanyi " alphabet song A-B-C", "one,two, buckle my shoe" dan "12 ladybugs picnic"-nya Elmo, Sesame Street.

Hari itu Oma membuat tiang-tiang pensil warna dengan angka-angka dan huruf di sangkutkan pada ujungnya. Setiap pensil bertumpu pada ujung datarnya di lantai dan disusun tidak beraturan, namun punya cukup ruang untuk dilewati.

Sambil nyanyi apa saja yang ingin dinyanyikan, Kira-Ziya melewati labirin pensil warna sesuai gaya masing-masing, kadang berjalan pelan, kadang jinjit, kadang berlari, kadang sambil menari. Mama dan Oma jadi penggembira dan penyemangat yang siap tepuk tangan dan teriak-teriak kalau para bidadari berhasil melewatinya tanpa menjatuhkan pensil-pensil itu. Di ujung perjalanan, mama atau Oma akan mengetes Kira-Ziya tentang salah satu huruf-angka tersebut. Seru banget deh..! 

Selain belajar huruf dan angka, Kira-Ziya juga jadi belajar konsentrasi melewati rintangan yang ada di depan, samping dan belakangnya.
Setelah puas bermain dengan jalur buatan Oma dan mama, giliran Kira-Ziya membuat jalur sendiri dan mengatur tata letak pensil-pensil warna itu.
LAMPU LALU-LINTAS


Salah satu lagu kesukaan Kira-Ziya yang sering dinyanyikan teacher-nya di sekolah adalah "traffic light",
red light, red light, what do you say?
I say, stop, stop right away!
yellow light, yellow light, what do you say?
I say wait, wait for a while!
green light, green light, what do you say?
I say go, go right away!

Ketika melihat sampul buku mewarnai ada yang sobek dan lepas, Oma punya ide membuatkan lampu lalu lintas buat Kira-Ziya. Bagian warna-warninya adalah lapisan kertas lipat yang ditempel di belakangnya, diberi selotip dan dinamai.

Kira-Ziya jadi semakin bersemangat belajar warna dan arti lampu lalu-lintas sambil berbaris bolak-balik keliling rumah sama Oma. Mama, selain jadi tukang potret, juga bertugas menebak setiap warna yang sesekali ditunjukkan Kira-Ziya (atau sebaliknya, mama yang tanya sama Kira-Ziya apa arti yang dipegangnya saat itu) dan kita berteriak sambil melompat kegirangan kalau jawabannya tepat. Yeah!


Satu lagi yang dibuatkan Oma ketika itu adalah rambu lalu lintas berbentuk tangan. Kira-Ziya senang sekali bisa berperan sebagai polisi pengatur jalan raya sambil mengangkat rambu sesekali, bergantian dengan lampu lalu lintasnya, dan tentu saja seperti biasa sambil bernyanyi.

Eh, tapi kenapa jumlah jarinya ada 6 ya? Kata Oma, iseng aja, habis bikinnya spontan dan tau-tau terlanjur 6 jumlahnya, jadi lanjuuuuttttt maaaanggggg....(untungnya Kira-Ziya udah tahu bahwa jumlah jari tangan ada 5, bukan 6 hehehe)