Friday, August 29, 2008


TAS BUNGKUS COKLAT & KOPI INSTAN


Namanya juga anak-anak, selalu senang kalau dibuatin tas, dompet atau semacamnya yang memungkinkan mereka menyimpan dan memasukkan seluruh barang kesayangan ke dalamnya, bahkan barang-barang nggak penting dan barang-barang dapur mamanya.

Ketika mama meminta mereka memilih, Kira ingin tas warna ungu bekas bungkus susu coklat, sedang Ziya ingin tas warna coklat bekas bungkus kopi instan papa. Dalam prakteknya sih bisa kebalik-balik makainya, dan nggak menutup kemungkinan bakal rebutan kalau nggak diingetin yang mana punya siapa. Makanya untuk menjelaskan kepemilikan, mama selalu buatkan inisial nama masing-masing. Biar jelas dan nggak ada yang ketukar. Hehehehe... meski masih kecil, rasa kepemilikan para bidadari udah kuat banget yah. Ini mungkin salah satu dari sekian banyak keseruan memiliki bidadari kembar. Mereka jadi lebih banyak berinteraksi, mau nggak mau jadi belajar toleransi dan menghargai hak kepemilikan terhadap sesuatu. Mama dan apany ajuga jadi belajar bahwa meski dilahirkan dari satu indung telur sehingga bisa dikatakan identik, masing-masing tetaplah individu berbeda yang nggak bisa disama-samakan.

Begitulah, bungkus itu mama bolongi pinggirnya, beri tali dan ikat ujung-ujungnya. Soal memasukkan tali, Kira-Ziya ambil peranan besar. Maklum lagi seneng-senengnya main tali. Sampai tali sepatu mama-papa di rak tahu-tahu udah nyambung sendiri akibat tangan-tangan mungil menggemaskan itu.

Nah, kalau tasnya besar begini jadi bisa membawa apapun yang ukurannya besar. Soalnya kemarin ini mama lihat Kira dengan susah payah memasukkan sebagian buku-buku ceritanya ke dalam tas kertas kue yang waktu itu kita bikin, akibatnya itu tas mulai sobek dan ketika diangkat juga udah nggak seimbang.

Lucu melihat anak-anak kreatif dengan sekelilingnya ya. Mendapat hal baru aja mereka udah segitu hepi dan excitednya ;-)


SUBUH

:kira-ziya


bangunlah pagi-pagi sekali, nak
setiap hari
waktu paling sunyi, paling rahasia
waktu embun jaga
satu dari sekian nikmat paling mahal yang sering kita lupa

bagunlah pagi-lagi sekali
setiap hari
waktu hati paling luas, paling baru
dan hidupkan subuhmu!
satu dari sekian nikmat paling cahaya yang kelak menuntas gelapmu

indah ip

KL, 29 agustus 08, 4.00 am

Thursday, August 28, 2008

MELUKIS LAGI






Begitu ada kesempatan, Kira-Ziya pasti minta mama menemani melukis. Kemarin ini papa udah pingin beliin kanvas, tapi harganya lumayan menggigit hehehe. Jadi, nanti deh ya, insyaallah suatu saat kita beli setelah tabungannya cukup.



Kira-Ziya suka bereksplorasi dengan warna.


Mama hanya membantu menumpahkan warna dari botol2 cat ke paletnya sesuai permintaan.



Ini hasil lukisan kita,



Ini lukisan Ziya,


Ini lukisan Kira,


Ini lukisan mama, hmm.. pu'un lagi,..pu'un lagi,.. kenapa ya mama suka banget gambar pu'un? Nggak tau juga. Kalau bisa gambar wangi tanah basah sehabis hujan mah, pasti dari dulu itu juga udah jadi favorit mama tiap kali melukis hehehe



Btw, jadi ingat, pas kuliah dulu mama pernah dipanggil ke depan kelas oleh salah satu dosen mata kuliah menggambar arsitektur untuk menghadap dosen lain yang juga mengajar mata kuliah tersebut.
"Tuh, 'Bu,.. coba lihat awannya...", kata bu dosen A
"Hmm... khas ya warnanya..." jawab bu dosen B
"Warna awan atau langit kamu tuh, Ndah, selalu unik deh, lebih menarik perhatian dari gedungnya malah hehehe,.."
"Masa sih Bu?"
"Iya.. kamu berani ya berani bereksplorasi sama warna..jadi langitmu nggak selalu biru tapi juga bisa warna-warni..good!"

Hehehe..mungkin Kira-Ziya juga seneng main warna seperti mama ya..?


KAPAL BOTOL JUS


Ketika hendak membuang botol plastik jus buah, seperti biasa mama merasa sayang. Maka botol itu mama simpan untuk suatu saat dikaryakan :-)

Apa yang bisa dibuat dari botol plastik ya?

Mama punya beberapa potong sisa hiasan bungkus kado ultah, beberapa potong sedotan, tali rafia dan beberapa potong gambar sisa menghias kartu ultah mimi Nila (yang akhirnya nggak kebawa ke Jakarta akhir juli lalu dan sekarang belum sempat difoto karena kamera kita rusak).

Hari itu papa lagi ke Penang, beberapa hari sebelum kita berangkat liburan ke Jakarta tercinta. Kira Ziya lagi kambuh malas mandinya. Mama pingin bikin sesuatu yang bisa membuat para bidadari senang main air.

So, kita bikin kapal aja!

Seperti biasa, mudah dan sederhana. Mendayagunakan apa yang ada. Nggak ada lem, kita pakai selotip setiap kali menempelkan gambar. Nggak ada tali panjang, kita pakai tali rafia pendek-pendek sisa entah apa yang disambung-sambuang menjadi panjang. Supaya lebih ok, kita beri layar dari seperempat bagian piring kertas kue mama dan sedotan.

Seperti sebelumnya, Kira-Ziya selalu ikut berpartisipasi dengan semangat terutama dalam memilih apa yang hendak ditempel di badan kapal sebagai hiasan dan sebagainya. Mama mengambil peran dalam gunting menggunting, mengikat tali dan membatu menyelotip tiang sedotan ke layar piring kertas. Ini dia hasilnya! Keren kaaaannnn... langsung nyemplung ke ember dan kamar mandi, jadi besoknya juga udah nggak berbentuk lagi hehehehe..

Ini karya Ziya,

Ini karya Kira,
Sambil mandi Kira-Ziya semangat nyanyi,
"Nenek moyangku seolang pelaut!
Gemal mengalung luas samudela!
.Meneljang ombak, tiada takut
Menempuh badai, sudah biasa!.."
Emang badai itu apa ma?
Ok,mama jelasin lagi deh,....

KERETA


Di KL, 'kereta' artinya mobil. Tapi bagi kami di rumah, LRT, transportasi dalam kota yang stasiunnya ada di seberang condo kita juga sering disebut kereta (yang nggak pake api, dan nggak pake kondektur), ya udah kebiasaan aja.

Minggu lalu beberapa saat setelah berangkat ke stasiun untuk menuju kantor, papa telpon, rupanya LRT ngadat. Stasiun penuh, taksi juga penuh. Akhirnya papa pulang lagi. Niatnya sih balik ke kantor agak siangan, semoga LRT udah bisa jalan lagi.

Kira-Ziya surprise banget melihat papa tiba-tiba ada di depan pintu lagi. Langsung menarik-narik tangan papa minta main gelitik-gelitik. Mama juga hepi karena jadi bisa konsentrasi beresin rumah yang setiap hari nyaingin kapal pecah, plus masak.

"Lho, kok papa udah pulang? Keljanya udah selesai ya papa?", tanya Kira penasaran.

"Belum, Sayang, keretanya rusak, jadi papa pulang dulu, nanti ke kantor lagi kalau keretanya udah bisa jalan..", jawab papa.

"Ooo... kalau gitu ini! Papa pinjam aja nih, kereta Moni! Kan kemarin udah dibenerin papa pakai selotip dan rodanya udah dipasang mama, jadi udah bisa jalan!", Ziya dengan polos menyodorkan kereta boneka kesayangannya ke arah papa.

"Hehehe... makasih ya Ziya! Maksudnya yang rusak itu kereta LRT nak,..kalau kereta Moni kan nggak bisa dibawa ke kantor.."

"Ooo... iya ya,.. keleta papa bisa untuk ke office, kalau keleta Moni cuma bisa untuk adik bayi...", Ziya manggut-manggut sambil mandorong kembali kereta moni ke dalam kamar.


Hari itu papa dan para bidadari akhirnya ketiduran sampai siang setelah main gelitik-gelitik dan baca Tintin. Nggak jadi ke kantor. Ketika anak-anak masih tidur, papa malah setel film WANTED-nya Angelina Jolie dan ngajak mama nonton sambil ngemil keripik dan minum teh anget. Syeedaaappp.....!

Sorenya mendung gelap banget dan hujan turun deras dengan petir besar-besar.

Hmm..we're glad u r ome, dad! Seneng ditemenin papa seharian ;-)
Kapa bisa bolos lagi yak, dear?




ZIYA SAYANG ...


Dua hari yang lalu, ketika sedang duduk santai di pangkuan mama sambil nonton TV Ziya tiba-tiba memeluk mama, lalu bilang,

"Ma... Ziya sayang mama.."

Meski ini bukan kali pertama diucapkan (sejak sudah bisa bilang I love you, Kira-Ziya hampir setiap hari menghujani mama dengan kalimat itu setiap kali ada kesempatan, setiap kali lagi hepi, setiap kali mencium wangi masakan mama, setiap kali melihat mama membuka sebungkus coklat atau es krim dari kulkas, setiap kali habis nangis--- dan mama juga menghujani para bidadari dengan kalimat itu kapan saja mama punya kesempatan melakukannya)

kalimat Ziya barusan bikin mama terharu... apalagi selanjutnya, sambil tetap mengalungkan lengan di leher mama, Ziya menatap mama dan menegaskan lagi,

"Ziya sayang mama,.. juga sayang Allah..."

Subhanallah..mama tiba-tiba jadi nggak bisa ngomong selain berusaha menahan embun jatuh di sudut mata mama. Rasanya baru kali itu mama dengar Ziya mengucapkan dengan tulus betapa Ziya menyayangi Allah (meski mungkin belum betul-betul paham maknanya).

Mama jadi nggak ingin melepaskan pelukan Ziya sebelum akhirnya mampu bicara dan menyampaikan,

"Mama juga sayang sama Ziya dan sayang sama Allah, 'Nak... Mama sayang sama Ziya, sayang sama Kira, sayang sama Papa, mama mencintai semuanya karena Allah, 'Sayang! "

Sampai hari ini mama masih nggak menyangka kalimat itu terucap oleh Ziya. Dan sejak kemarin itu mama punya kalimat baru yang rasanya semakin indah diucapkan setiap kali, setiap para bidadari memeluk mama, setiap kali mama menyesal karena sudah menegur Kira-Ziya sambil melotot dan bikin Kira-Ziya jadi sedih, setiap kali Kira-Ziya mengucapkan 'terima kasih' karena mama sudah memasak makanan kesukaan para bidadari, setiap saat, setiap sempat,

"I love you, sayang..! Mama mencintai Kira, Ziya dan Papa karena Allah!"

Mama jadi berpikir, sudah pernahkah mama menyampaikan hal ini pada Oma, Opa dan mimi Nila ya? Ah, para bidadari sungguh selalu bisa menginspirasikan mama...

"Oma, Opa, Mimi, mama kangen sekali! Mama mencintai kalian karena Allah!


Tuesday, August 26, 2008


PINGIN JADI APA?



Kalau lagi santai dan Kira-Ziya sedang bisa diajak ngobrol (biasanya udah sibuk main sendiri dan nggak fokus kalau diajak ngobrol rada serius), mama sering tanya,

"Kira-Ziya kalau udah besar mau jadi apa?",
Kalau kening para bidadari berkerut-kerut, mama coba sederhanakan lagi,
"Maksud mama, kalau udah besar pingin seperti siapa?"

Senang aja dengar jawaban Kira-Ziya, kadang serius, kadang nggak serius, seringnya malah nggak disangka-sangka. Inget kan cerita mama tentang jawaban Kira-Ziya atas pertanyaan itu suatu hari lalu, Kira-Ziya ingin jadi seperti mama biar bisa bekerja di dapur tiap hari dengan sendok garpu ;-). Nah ini jawaban lainnya,


1
"Kila pingin jadi komputel!", jawab Kira suatu kali
"Ha? Komputer?"
"Iya! Komputel!"
"Kenapa?"
"Bial bisa temenin papa!", Kira nyengir dan mama ikut nyengir

2
"Pingin jadi doktel mata kayak opa!", kata Kira kali lain
"Kenapa jadi dokter?", tanya mama
"Bial bisa peliksa mata mama, nanti Kila sembuhin yang sakit!"
"Hm,.. menjadi dokter tugas yang mulia, Nak, dulu Mama juga pernah ingin jadi perawat dan jadi dokter hehehe, nah kalau gitu mulai sekarang belajar yang rajin ya!"
"Iya, Ma!"


3
"Kayak mimi Nila! Menggambal!", Ziya bilang pingin kerja seperti mimi Nila karena pernah mama jelaskan bahwa mimi sangat suka menggambar.
"Memangnya mimi Nila keljanya di mana, Ma?", tanya Ziya
"Di TV!"
"Di TV??", Ziya seperti berpikir keras, manggut-manggut, memiringkan kepalanya lalu tanya lagi,
"Gimana pulangnya nanti?"
"Cara pulangnya?", mama bingung
"Iya! Maksud Ziya, gimana kelualnya?"
"Oo,.. maksud Ziya gimana keluar dari TV-nya?", mama mulai mengerti arah pertanyaan Ziya
"Iya... gimana itu?"
"Hehehehe... maksudnya bukan masuk ke dalam TV, Nak, tapi bekerja di stasiun TV",

Ok deh,..mama lantas menjelaskan sedikit, sesederhana mungkin, gimana bisa mimi bekerja di TV(bukan di dalam TV) dan bahwa orang yang ada di TV bukan berarti orang tersebut masuk ke dalam TV, tapi hanya gambarnya aja yang direkam lalu diputar di TV, seperti gambar Barney yang udah di rekam dalam VCD lalu bisa kita putar kapan kita inginkan.

"Ooo... ", Ziya manggut-manggut, semoga kali ini karena mulai paham :-)


4
"Ziya pingin jadi tukang jemulan!"
"Ha? Kok tukang jemuran?"
"Iya, bial jadi anak sholihah!"
Mama masih belum nyambung apa hubungan tukang jemuran sama anak sholihah, lalu Ziya lanjut menjelaskan,
"Kalau udah besal Ziya pingin bisa bantu Mama jemul pakaian!"
"Oo... aduh, Ziya,..Mama baru ngerti, Mama jadi terharu...makasih ya sayangkuww...Ziya pingin bantu Mama ya,.. iya, anak yang suka menolong adalah anak yang sholihah dan mama yakin anak Mama anak-anak yang sholihah...I love you!", Mama dan Ziya berpelukan


5
"Ziya pingin jadi penjahit aja! Kalau udah besal kan Ziya boleh pegang jalum dan gunting kan, Ma?"
"Iya, boleh dong, asal berhati-hati. Kenapa jadi penjahit?"
"Iya, Ziya pingin jahitkan dastel yang nggak bolong buat mama!", Oala, Ziya ingat mama pernah pakai daster yang bolong pinggirnya dan belum sempat mama jahit,
"Ziya pingin juga jahitkan mobil buat Mama dan dinding balu!"
"Mobil? Mobil nggak bisa dijahit, nak,... mobil harus dibeli dengan menabung dulu sebelumnya...Dinding? Kok jahitin dinding baru? Kenapa memangnya?"
"Kalena dinding kita yang lama kan udah dicolat-colet Kila dan Ziya,... jadi Ziya mau jahitkan Mama dinding balu yang belsih buat mama..."
"Oooww...makasih sayang, tapi dinding nggak bisa dijahit, dinding hanya bisa dibangun dengan batu bata, semen dan pasir, seperti apa yang dilakukan Bob The Builder itu lho,..tapi makasih ya, Nak,...udah membahagiakan Mama..."

Aduh, mama terharu deh kalau dengar kepolosan dan ketulusan para bidadari.
Tanpa mama sangka, Kira yang ikut mendengarkan tahu-tahu juga ikut nyeletuk,
"Kalau Kila udah besal dan bisa menjahit, Kila juga mau jahitkan papa kaca mata yang balu!"
"Ooowww...makasih sayang, memangnya kaca mata papa yang lama kenapa?"
"Kan udah lusak!" Kira rupanya ingat, kacamata papa udah beberapa kali patah dan rusak (yang terakhir rusak masih papa pakai kalau sedang santai di rumah dan sedang bercanda jungkir-balik-loncat-loncat-gelitik-gelitik sama para bidadari di kasur), dan yang sekarang dipakai kalau ke kantor udah baru dan masih bagus hehehe
Ketulusan itu, 'Nak,.. duh, mama nggak habis pikir dan nggak habis terharunya deh...
Seperti puisi yang pernah mama tulis buat Kira-Ziya, mama dan papa selalu mendukung apapun cita-cita Kira-Ziya kelak, sky is the limit! Jadilah diri sendiri, merdekakan hatimu, mama dan papa mencintai selalu !


MERAH PUTIH DI DADAMU

:kira-ziya


kami tanam merahputih sejak benih
harap tumbuh besar dan mengakar kuat di dadamu
harumnya lekat di nafasmu
semangatnya didih dalam darahmu

kami tanam merahputih sejak benih
harap kau jaga dan cintai ia sepenuh waktu
sebagaimana ibu dan ayah menjaga dan mencintainya selalu
harap kau rindu dan kibarkan ia sepanjang hidupmu
sebagaimana ibu dan ayah merindu dan mengibarkannya juga selalu

kami tanam merahputih sejak benih, anakku
dalam-dalam di dadamu
di tempat mana tak sesiapapun bisa merenggutnya begitu saja tanpa perjuangan
di tempat paling jernih abadi
tempat sesungguhnya letak kemerdekaan sejati


indah ip
17 agustus 2008
01.00 am

www.indahip.blogspot.com

www.kiraziya.blogspot.com