Sunday, March 29, 2009

PITA KERTAS KREP
Setiap anak perempuan pasti suka dengan asesoris dan pernak-pernik warna-warni.
Kertas krep selalu bisa dijadikan prakarya mengasyikkan, salah satunya pita-pita cantik seperti yang kita buat ini.
Caranya mudah dan pasti semua bisa. Perlengkapannya sederhana, gunting, karet gelang, selotip dan tali pasti ada di lemari dapur mama doong!

Potong kertas krep menjadi persegi panjang/bujur sangkar sesuai keinginan, lalu kerutkan sampai menjadi pita dan beri selotip.

Untuk dijadikan pita, lilit dengan karet gelang.

Untuk dijadikan slinger, lilit dengan tali tebal dan rangkai sebanyak yang diinginkan.
Untuk prakarya ini, Kira-Ziya bisa ikutan full. Mulai dari menggunting, mengerutkannya sampai jadi pita dan menyelotip. Ini dia beberapa prakarya pita para bidadari. Pita-Pita itu langsung nangkring di telinga dan rambut boneka-boneka (moni, heli, tedy bear, sheep, langsung berubah jadi perempuan semua!) di kamar bermain sampai sekarang. Sedang slingernya kita gantung di kusen pintu mengganti slinger lama yang sudah nggak berbentuk lagi itu hehehe. Secara kreatif, Ziya malah mengikat pita-pita kertas krep pada jepit rambutnya dan memakainya ke mana-mana seharian itu.


GIRLY THINGS


Mungkin sejak kenal kata 'boy' n 'girl', atau memang sudah bawaan alamiah aja sebagai perempuan mulai gede, Kira-Ziya suka hal-hal yang berbau 'girly'.

Kalau mama siapkan baju kemeja dan celana panjang dari lemari pakaian, para bidadari akan protes,

"Nanti kalau pakai baju seperti ini, Ziya jadi boy!"


"Kira mau rok aja, kalau pakai celana panjang nanti dipanggil boy!"

Meski sudah mama jelaskan bahwa jika Allah SWT menciptakan kita sebagai perempuan maka seterusnya kita akan menjadi perempuan, tetap saja semua piyama, celana panjang, baju berkerah, mulai nggak lagi mendapat tempat di hati para bidadari.

Yang sekarang mereka inginkan adalah baju berkerut-kerut, baju berasesoris, rok dan daster panjang.

Kalau celana pendek dan baju tidak berlengan sih, memang sudah sejak mereka merasa 'malu' dan mengenal kata 'aurat', sekitar usia 2 tahunan, nggak pernah dipakai lagi.
"Malu kan, ma, kakinya kelihatan-kelihatan!"
"Malu kan, ma, ketiaknya kelihatan-kelihatan!"

Pinter..mama setuju. Tapi soal piayama dan celana panjang bahan kaos/jeans yang memang sudah terlanjur kita miliki sejak dulu, rasanya sayang juga kalau nggak pernah dipakai ya.

Ketika Kira-Ziya lihat mama pakai celana panjang, mereka tanya
"Ma, kalau mama pakai baju seperti papa, mama nggak berubah jadi boy ya ma?"
"Menurut Kira-Ziya gimana? Apa mama berubah sekarang?"
"Enggak!"
"Pakai baju kemeja maupun celana panjang, selama memang pakaian yang dibuat sesuai untuk perempuan, tidak apa-apa, Sayang. Tapi kalau kita punya rok yang cocok untuk bepergian jauh dan fleksibel, lebih baik lagi. Mama pakai celana panjang karena mama perlu membawa tas guede yang isinya pakaian ganti dan botol minum kira-ziya, kalau pada ngantuk mama akan gantian sama papa menggendong Kira-Ziya dan selama bermain di taman mama akan ikut lari-lari menemani Kira-Ziya, kalau perlu ikut naik ke bagian atas seluncurannya untuk mengawasi dan meyakinkan Kira-Ziya aman-aman saja main panjat-panjatan. Selain itu, kita kan bolak-balik pakai LRT, jadi mama perlu pakaian yang cocok untuk itu."
"Jadi perempuan itu tetap bisa pakai celana panjang, daster dan piyama ya ma? Kalau papa kan gak bisa pakai daster ya ma, hanya boleh piyama?"
"Betul."

Pertanyaan soal 'apa mama nggak berubah menjadi boy kalau pakai pakaian seperti papa' ini mau-nggak mau 'menjitak' mama juga nih hahaha! (soalnya dulu mama tomboy banget). Dan soal ini nggak hanya ditanyakan ke mama, tapi juga ke papa (sejak makin gede, para bidadari sering meng-cross-check banyak hal, meski udah ditanyakan ke mama, biasanya pasti mereka tanya juga dan ingin tahu pendapat papa).

Setelah berdiskusi, kita sepakat bahwa untuk bepergian jauh yang perlu fleksibilitas, ke playground yang akan memungkinkan Kira-Ziya main seluncuran dan manjat-manjat misalnya, atau ke Zoo yang khawatir banyak nyamuknya karena banyak hutan dan pepohonan, para bidadari memakai celana panjang.
"Kalau pakai rok, malu kan kalau tersingkap roknya selagi lari-lari dan main seluncuran?"

Dan untuk sehari-hari, kalau persediaan rok yang kita miliki sudah habis alias masih berada di tali jemuran, apa boleh buat, Kira-Ziya harus memakai celana panjang yang ada.

Tapi setiap kali Oma tanya mau dijahitkan baju yang seperti apa, mama secara khusus minta dibuatkan rok dan daster saja buat para bidadari (Eh, mama sekalian pesan satu untuk mama juga!)

Mama sadar kok bahwa perempuan memang selayaknya memakai pakaian untuk perempuan, yang sopan dan menutup aurat (khususnya untuk yang sudah baligh). Mama senang Kira-Ziya secara naluriah sudah menyadarinya dari sekarang, diusia yang 3.5 tahunan ini nih. Kita akan pelan-pelan belajar dan mengkondisikan semuanya bersama-sama ya, nak.
Kira-Ziya sudah setuju untuk menyimpan pakaian-pakaian masih bagus yang makin jarang dipakai itu untuk kelak disalurkan ke teman-teman yang membutuhkannya.

Menjadi isteri punya tantangan tersendiri ya, dan menjadi ibu tantangannya beda lagi! Hahaha.

Yang jelas, mama dan papa makin sadar, contoh dari orangtuanyalah yang melekat di hati anak-anak tercinta ini kelak. Jadi, mama-papa lebih berhati-hati dan berusaha terus memperbaiki diri.

;-)

Wednesday, March 11, 2009

BURUNG MERAK DARI PIRING KERTAS

Piring kertas bisa dijadikan beragam prakarya lho.

Salah satunya burung merak seperti yang kita buat Februari kemarin ini (pas kamera belum rusak kerena jatuh hehehe).

Ide awalnya kita coba-coba aja, udah kebayang pasti cantik tuh gurat2 sisi piring kertas kalau dijadiin ekor merak. Eh, jadi juga!

Kira-Ziya berpartisipasi menempelkan selotip warna-warni, juga menghias, menempelkan dan mewarnai bagian-bagian yang mereka inginkan sendiri.

Mudah banget kok. Potong dua aja tuh piring kertas, lalu buat celah supaya bisa menyelipkannya ke salah satu. Kita membuat 2 buah kipas untuk ekornya, biar rame. Kalau nggak ada selotip warna-warni bisa juga kan pakai kertas apa saja untuk membuat garis-garisnya, atau pakai cat air/cat poster, pakai spido, krayon, pensil warna, dan apa saja yang ada di rumah.

Paruh dibuat dari dua buah kertas berwarna ukuran bujur sangkar. Lipat saja dua sisinya ke arah diagonal. Nanti didapt bentuk segitiga.

Cantik kan?
Setelah puas memainkannya, Kira-Ziya punya ide menempelkannya di dinding. Setelah beberapa hari, kita buat lagi peacock versi yang lain, sama-sama pakai piring kertas, tapi ekornya dari bentuk berbeda (dari kertas yang dilipat membentuk kipas).

Sekarang menggantung di anatara slinger yang ada di depan pintu ruang seterikaan ;-)

Selamat mencoba!

LITTLE SCIENTIST


Daftar pertanyaan Kira-Ziya tambah panjang! Ini beberapa yang rada nyerempet-nyerempet science, fisika, biologi, astronomi, dsb.
Mama dan papa jadi lebih sering garuk-garuk, bengong dan nggak jarang terpingkal-pingkal saking terkaget-kagetnya.

"Ma, kenapa kalau benda jauh kelihatan kecil tapi kalau dekat kelihatan besar?"

"Kenapa dalam pikiran anak-anak awan kadang seperti dinosaurus, kadang seperti air, kadang seperti asap? dalam pikiran orang dewasa juga begitu nggak?"

"Ma, kenapa kalau ember airnya sedikit pas kita nyemplung airnya bisa tumpah?"

"Kenapa sikat gigi kalau dimasukin gelas plastik kosong bisa jatuh tapi kalau gelasnya dikasih air trus kita cemplungin sikat gigi, dia bisa tetap berdiri?"

"Kenapa kalau kita masukin sampo ke gayung trus gayungnya ditaruh di bawah shower, muncul bubble-bubble banyak banget? kalau cuma di bawah air keran kok gak sebanyak itu bubble-bubblenya?"
"Kenapa dalam aquarium ikan ada bubble-bubble? Untuk bernafas?"

"Ma, kenapa bintang bersinarnya malam hari? apa dia nggak pingin bobo?"
"Kok malam hari itu gelap ya?"
"Kok tumbuhan bisa tambah besar? Kan nggak punya mulut, gimana bisa makan?"
"Bola dunia kenapa bentuknya begitu?"

Well, mama dan papa nggak ragu memberi jawaban dengan kalimat agak panjang atau dalam bentuk cerita untuk menjelaskannya. Meski tetap berusaha sesederhana mungkin, sesuai yang bisa dipahami anak usia 3 tahunan. Kalau jawabannya belum ketemu, atau meragukan, atau mama nggak tahu, mama akan janji mencari sumber dan mempelajarinya dulu dan kelak menyampaikannya kalau sudah tahu.

Para bidadari udah makin kritis, makin sering protes, makin pinter pula nyari alasan. Kenapa begini? Kenapa begitu? Kalau begini bagaimana nanti? Karena apa bisa begitu? Kok mama bilangnya nggak sambil senyum sih? Kok mama nggak lemah lembut, kan harusnya bisa bilang begini lho,..bla bla? Lho, kalau anak perempuan harus begini, apa anak laki-laki boleh begitu? Jadi gimana supaya bisa begini? Kalau mau begitu apa yang kita perlukan?, dst.
Kadang mama nggak berkutik juga! Hahaha!
NYAPU


Nah, buat para mama dan papa anak-anak kembar, bisa senyum deh, akan ada waktunya ananda tercinta mulai gede dan bisa bantu sedikit-sedikit pekerjaan rumah yang seperti nggak ada ujungnya itu (secara mentang-mentang berdua maka kalau berantakan ya ikut dobel juga sampah-sampahya di mana-mana hehehe).

Kira dan Ziya sudah bisa bantu mama menyapu. Soal sapu dan pengki/serokan mungilnya mah udah dari umur 1.5 tahun punya, beli di belakang stasiun yang khusus menjual barang kelontong.

Seneng dong,..sekarang para bidadari selain membuat rumah penuh remah dan serpih seharian, udah bisa juga inisiatif membersihkannya (beneran, kalau lagi mood, nggak perlu disuruh udah langsung ambil sapu sendiri).

Masalahnya, hasil akhir sampah itu yang kadang teronggok di tempat-tempat yang belum tepat. Pernah mama ketemu setumpuk kertas dan sisa makanan di balik keset kaki. Pernah juga benda-benda ajaib itu ditemukan di bawah tempat tidur dan sofa ruang tamu. Paling sering sih ditemukan bertumpuk dan berceceran di ruang mesin cuci belakang pintu dapur, terselip di antara galon-galon air mineral.

Jadi, sama aja dong kudu mberesin lagi?

Ya jelas beda rasanya!

Berhubung hati mama seneng banget para bidadari udah bisa inisiatif bantu sedikit-sedikit (dan Kira-Ziya juga kelihatan hepi bisa bantu mama dengan tangannya sendiri), jadi untuk membereskan hasil akhir proses nyapu para bidadari itu mama bisa sambil senyum-senyum dan merasa nggak terlalu capek karena punya energi lebih.
Makasih ya, sayang. I'm proud of you!

Setelah udah bisa nyapu, beresin rak sepatu, beresin rak buku dan beresin kamar bermain (dengan cara mereka sendiri, maksudnya hasil akhirnya mah beres aja, barang yang tadinya bertebaran tau-tau udah nggak ada aja di lantai, "Tuh, lihat Ma! Udah bersih kan?", gitu biasanya para bidadari bilang), sekarang tiap hari tanya kapan mereka dibolehkan masak dan ngidupin kompor! Gawat, pengawasan kudu ditingkatkan neh! Sabar ya sayaaanggg... akan ada waktunya ;-)

Thursday, March 05, 2009

GUNTING OH GUNTING!


Sudah sejak awal tahun ini para bidadari dipercaya memegang gunting tajam berukuran kecil untuk membuat prakarya. Disamping berkarya sambil didampingi, sejak usia 3 tahunan Kira-Ziya sudah mulai kreatif dan berinisiatif membuat prakarya sendiri hampir setiap hari, tanpa ditemani mama.

Gunting khusus anak-anak yang digunakan sudah ketiga kalinya rusak. Mama melihat para bidadari cukup sabar menggunakan benda nggak terlalu tajam itu. Lama-lama penasaran juga kali sama kertas-kertas lebih tebal, kotak-kotak sereal, kotak tisu, plastik dan sebagainya, yang mengakibatkan para gunting malang itu patah dan rusak sama sekali.

Melihat keterampilan jari tangan dan kemandirian mereka sejauh ini, akhirnya mama-papa membolehkan Kira-Ziya pakai gunting tajam. Sudah lama kita beli di toko buku sih, tapi selama ini disimpan untuk waktu yang tepat.

Setelah itu sempat sekali mama dapati Ziya menggunting ujung bagian bawah bajunya. Meski cuma 1 cm tergunting, mama tegas-tegas memperingatkan apa saja yang boleh digunting dan apa yang tidak boleh digunting tanpa ijin. Ziya mengerti dan minta maaf. Mungkin masih penasaran, mama dapati lagi Ziya menggunting ujung serbet dapur. Maka untuk kedua kalinya mama peringatkan. Ziya mengerti dan minta maaf.

Meski was-was mama merasa perlu belajar memberi kepercayaan, tentu saja setelah memastikan kondisi aman.

Ceritanya hari itu Kira-Ziya mengajak bikin prakarya sementara mama belum selesai memasak. Jadi mama tunda, mama bilang nanti selesai masak kita akan bikin prakarya.

“Kalau gitu boleh ya, ‘Ma, kayak kemalin Kila pakai gunting bikin plakalya sendili?”
“Oh boleh,..!Kalau bisa bikin sendiri malah lebih bagus dong..kayak kemarin ya..Artinya kreatif!”
“Ziya juga minta tolong diambilkan gunting ya, ‘Ma! Mau bikin plakalya sendili juga..kan Ziya kleatif juga!”

Maka mama ambilkan gunting dan siapkan juga beberapa perlengkapan lainnya.
Sambil memasak, terlihat mereka bolak-balik antara kamar dan ruang tamu.
Ketika suasana senyap, mama pikir mungkin mereka sedang asik berkarya sambil nonton TV.

Tapi tiba-tiba mama dikejutkan Ziya yang datang ke dapur, disusul Kira,
“Ma,..! Ini...udah Ziya potong..”
And you know what?? Para bidadari baru saja memotong rambuntya sendiri!

Yang tadinya sepanjang bahu, jadi compang camping nggak karuan sependek telinga! Termasuk poninya! Hampir pitak!

Ya ampuuuuuunnnn...

Nggak bisa ngomong apa-apa, langsung mama gendong ke depan kaca supaya melihat wajah masing-masing.
Eehh para bidadari nyengir!
Tapi begitu sadar rambutnya nggak bisa kembali lagi baru cemas.
“Kan nanti bisa diselotip, ‘Ma!??”, ujar Ziya
“Mana bisa rambut di selotip“
"Kalau gitu.. kita tiap hali cuci lambut aja bial tumbuh lagi!!”, Kira menyahut
Mama diam.
“Atau kita pakai keludung aja bial nggak kelihatan kayak boy??”, kata Ziya lagi.

Kepala mama mulai berasap-asap nih,..jadi mama tetap diam biar nggak terlanjur berteriak.

Setelah Kira-Ziya minta maaf dan mama bisa ngomong, baru mama jelaskan dimana salahnya, juga soal bertanggung jawab dan konsekuensi atas perbuatan yang dilakukan. Masih 3 tahun udah dikuliahin hal serius gini? Hehehe,.. karena kondisinya tepat, mama pikir tidak ada salahnya. Supaya jelas tahu mana yang salah dan mana yang benar. Setiap pertanyaan mama jawab sesimpel mungkin.

Saat itu juga Kira-Ziya dikeramas lagi dan mama rapikan sebisanya. Besok baru kita pergi ke salon anak-anak sebelum undangan ultah anak teman papa.

Di ruang tamu setelahnya, mama jumpai rambut bertebaran di seluruh lantai! Bukan hanya itu, rambut si Moni, boneka kesayangan mereka juga ikut sedikit botak! OOuchhh!!

Kira tahu-tahu mendekat,
“Ma...”
“Iya..”
“Mama is.... beautiful deh...”, lirihnya takut-takut.
Mau nggak mau mama senyum juga.
“Thank you ‘Sayang, you are beautiful too.”

Sambil mama menyapu giliran Ziya yang datang,
“Ma..”
“Iya..”
“...mmmhh.....I... love you too!”, rayunya memeluk pinggang mama ragu-ragu.
Jadi terharu.
“I love you so much too, Sayang,..tapi lain kali, minta tolong sama mama kalau mau potong rambut ya?”
“Iya. ..Ziya sebetulnya cuma mau bantu mama...”
Kira nimbrung,
“Iya, soalnya kan lambut Kila udah kepanjangan dan mama tadi lagi sibuk masak...”

Owww... jadi gitu ya?? Iya mama sadar kejadian ini nggak sepenuhnya kesalahan mereka melainkan juga kelengahan mama yang terlalu asik berada di dapur!!
Maka cemberut mama nggak dilanjutin lagi. Mama minta maaf karena sudah cemberut berkepanjangan dan bertanduk, juga berterimakasih karena para bidadari 'niat'-nya cuma mau bantu mama tapi kebablasan salah hehehe. Kita berpelukan seperti biasa. Kira-Ziya lantas ikut membantu membereskan berantakan itu.

Terlepas dari siapa yang salah, tetap ada konsekuensinya biar ingat dan tidak mengulangi lagi. Hukumannya adalah tidak boleh memakai gunting tajam kalau tidak ditemani mama atau papa sampai kelak bisa dipercaya lagi.

“Di hukum?”, tanya Kira.
“Iya, dihukum”, jawabku.
“Di hukum itu apa sih, 'Ma??”, kening Ziya berkerut.

Ok, hari itu mama jelaskan apa itu ‘hukuman’.

Buat mama? Mama 'menghukum' diri sendiri seharian itu nggak lagi menengok dapur kalau nggak perlu banget dan menghabiskan waktu bersama para bidadari tercinta sampai papa pulang kantor
Ini dia rambut sebelum dipotong, dan yang ini setelah potong sendiri lantas sedikit dirapikan di salon,


Hehehe..
Setelah mama pikir-pikir kayaknya malah jadi lebih fresh dan imut-imut setelah berrambut baru ya hihihi...
MENYABLON DENGAN CAT & SIKAT GIGI



Saat punya ide ini, mama ingat masa SD.

Fun banget bisa main dengan cat, sikat gigi dan berbagai benda yang bisa dijadikan alat sablon: penggaris, spons, bunga, daun dan apa saja yang ada di sekitar kita.

Proyek ini menurut mama sih gagal hehehe. Ada yang salah dengan adonan cat air yang terlalu kental dan sisir yang terlalu rapat (deeeuuu masih aja nyalahi situasi dan kondisi padahal mah ngaku aja ya 'kekurangilmuan' dan 'ketidakterampilan' mama mempersiapkannya hehehe-intinya, 'ngeles dot com, halah!).

Tapi buat Kira-Ziya kayaknya asik-asik aja tuh! Meski akhirnya untuk melukis jadi pakai sikat gigi, jari dan kuas juga sih,..soalnya para bidadari nggak sabar menyikat-nyikat sisir dan bereksperimen sampai mendapat hasil cipratan yang sesuai dengan apa yang mama ceritakan ketika kita memulainya.

Anyway, hari itu kita bersenang-senang seperti biasa kok! Batasan nggak puas cuma ada di hati mama aja hahaha...maklum dejavu masa SD! (jadi ini niatnya bikin prakarya buat mama atau para bidadari yak?)

Mungkin disitulah salahnya orang dewasa ketika sedang berkarya. Lebih sering menilai kesuksesan dari hasil akhirnya, bukan keasyikan prosesnya! ;-)

Bermain sambil berkarya sama Kira-Ziya, bikin mama merasa asyik dan rileks banget, a great escape dari rutinitas, rekreasi yang selalu mama tunggu-tunggu! Yeah! Kapan-kapan kita coba lagiiiiii...... lagiiiii....yuuukkkksss... ;-)

Tuesday, March 03, 2009

TAMAN FAVORIT KITA


Akhirnya sempat juga memotret golden shower atau Cassia fistula. Meski saat itu sudah nggak sebanyak saat mama melihatnya pernuh berjurai-jurai pertama kali.













KLCC Park nggak hanya taman favorit para bidadari tempat bereksplorasi, main, berlari-lari dan mengumpulkan daun-daun kering, tapi juga jadi taman favorit mama.

Soalnya di taman itu ada bunga-bunga kesayangan mama: kemboja, zephyranthus, cassia fistula dan satu lagi bunga yang bikin penasaran (juga ada di playground-nya 'taman perdana') dan belum ketemu namanya sampai sekarang

HOW DO YOU LOVE ME?



Kita bilang 'I love you' setiap hari.

Kalau mama tanya sama para bidadari, 'how do you love me?', biasanya Kira-Ziya akan tersenyum dan menjawabnya dengan bercanda.


Semalam, di kesempatan berbeda mama tanya lagi dan jawabannya sungguh bikin mama speechless,

Ziya: "I love you like I love flowers, 'Mom.."

Kira: "I love you seperti awan mencintai langit.."


Subhanallah!

Mama sering bilang ke Kira-Ziya bagaimana mama mencintai mereka. Tapi nggak pernah dengan kata-kata seperti yang diucapkan semalam oleh para bidadari itu. Seperti mencintai bunga-bunga? Seperti awan mencintai langit? Rasanya hampir nggak percaya Kira-Ziya kepikir menyusun kalimat puitis sebegitu! Wow, mama surprise sekaligus terharu.


I love you completely, 'Sayang....!

Rasanya energi mama jadi berlipat-lipat hari ini dan pingin senyum teruuuusss hehehe