Sunday, May 24, 2009

TELAH TERBIT: BUKU "LONG DISTANCE LOVE "



Judul Buku:
LONG DISTANCE LOVE, Mozaik Kehidupan Seperti Apa yang Kau Jalani Sekarang Saat Aku Tak di sisimu, Sayang?

Penulis: Imazahra, dkk
Kontributor:
Andi Sri Suriati Amal, Alan Ridlon Suyudana, Dani Ardiyansyah, Desti J Basuki, Dian Onasis, Dian Akbas, Etta Erinda, Eva Y. Nukman, Fitria Chakrawati, Irawati Prillia, Indah IP, Lizsa Anggraeny, Leila Rizki Niwanda, Rosita Sihombing, Syaifuddin Sayuti, Shanti Saptaning, Suci A- Sadiq, Titin Fatimah, Vanny Mediana, Revina Octavianita, Wiwit Wijayanti, Yudith Fabiola, Zakiah Dauli, Ziyan Ahyadi
Harga: Rp. 42.500,-
ISBN: 978-602-843-601-4
Tebal: 332 Hal
Penerbit: Lingkar Pena Publishing House (LPPH), 2009


Ringkasan:
Terpisah jarak, ruang dan waktu, mungkin menjadi ujian cinta terberat bagi sepasang kekasih. Lantas bagaimana dengan mereka yang secara nyata hidup terpisah? Terikat pernikahan tapi terbentang jarak di antara mereka.
Cinta dalam bentuk apa yang bisa mereka pertahankan? Dari manakan dan dengan cara apa mereka dapat saling menguatkan cinta?

Long Distance Love (LDL) menghadirkan beragam mozaik perjalanan mereka yang menjalani hubungan cinta jarak jauh. Suka-duka, konflik, keunikan, hingga romantisme berbaur menjadi satu. Dan kita pun akan mengerti, bahwa di sinilah rupanya, para pecinta ini menemukan keindahannya.

Luar biasa! Buku ini begitu tajam dan menyentuh! Saya berkali-kali menyusut air mata, tersenyum dan terhenyak saat membacanya. Distulis berdasarkan kisah nyata para penulisnya, kumpulan kisah ini akan membungkam mereka yang memandang sebelah mata hubungan LDL. Menggugah!
Waheeda el Humayra, Penulis buku best seller The Sacred Romance of King Sulaiman and Queen Sheba.

Membaca buku yang indah dan mengharu biru ini, saya belajar lagi tentang kekuatan cinta dan kesabaran. Yang luar biasa, semua kisah di buku ini adalah nyata, dan senyata itu pulalah keajaiban cinta yang bisa terwujud di antara sepasang insan yang menjalin kisah di jalan-Nya.
Dina Y. Sulaeman, Penulis buku best seller Doktor Cilik Hafal Al-Quran, Pelangi di Persia dan Ahmadinejad on Palestine.

Monday, May 18, 2009

HURUF-HURUF CERIA DI PIRING KERTAS


Piring kertas berbentuk segi empat masih banyak nih. Kira-Ziya tertarik dan penasaran mengkaryakannya ketika melihat mama membereskan lemari, karena bentuknya yang tidak bulat seperti biasa.

So, hari itu kita bikin prakarya sambil belajar membaca dengan piring kertas.

Caranya mudah, semua pasti bisa!

Alat yang diperlukan hanya spidol, piring kertas, pita/renda baju warn-warni, selotip, pembolong kertas.

Saat itu mama ingin mengenalkan huruf-huruf vokal (a i u e o) dan nama Kira-Ziya. Jadi piring-piring itu dipenuhi spidol dengan huruf-huruf tersebut. Selanjutnya dihias sesuka hati oleh para bidadari.

Selanjutnya kita bolongi ujung-ujungnya, kemudian ikat dengan renda warna-warni.

Seperti biasa, kita memberdayakan dinding-dinding ceria rumah kita!


Ditempel di mana? Di mana-mana!

Seharian itu dari bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, Kira dan Ziya main sekolah-sekolahan berdua :-)

WE LOVE BOOKS!


Kemarin ini Alhamdulillah ada rejeki untuk beli satu lagi rak buku.
Kami pikir cukup.
Ternyataaaa....
masih harus nabung untuk setidaknya satu rak buku lagiiii! Huwaaaaaa !
Kelihatan nggak yang mana buku-buku mama-papa dan yang mana buku-buku para bidadari? :-)





HUTAN DI MATA ANAK-ANAKKU
: kira-ziya


mata anak-anakku menyimpan hutan sangat lebat
di sana berkejaran pohon-pohon tanya
ranting-rantingnya jauh
daun-daunnya rimbun penuh

setiap mengunjunginya
kusiapkan kamus dan peta baru
sebab ingin kutelusur ruas-simpang berbeda
ingin kuterjemah rambu-tanda tak sama

sejak kecil sebelum bibir mereka fasih bercerita
mata anak-anakku sudah lancar berbicara
tak ada yang luput ditingkahi tanya
kunikmati gelisah pun gairah menyala-nyala

dari bangun tidur hingga tidur lagi
hutan di mata anak-anakku tak henti menjulang
bunga-bunga tanya tak henti kembang
buah-buah tanya tak henti matang

ketika tersenyum
hutan itu melenting-lentingkan cahaya
ketika menangis
hutan itu menarik-narik kuat

ingin kulindungi hutan di mata anak-anakku setiap sempat
tapi kutahu ia tak perlu pagar melainkan ruang
pohon-pohon itu kan mencapai matahari dengan caranya
maka kulepas jarak, memastikannya leluasa bergerak

jika angin kencang kelak melempar buah-buah tanya
tak pada tempatnya
aku berharap ada di sana
tak jauh-jauh darinya

siap berlari sampai waktuku
menampung, memberi rasa aman
memastikan benih-benih berani bertunas lagi
tinggi bebas
di ruang luas


indah ip
2 apr 09, 11.40 pm

Sunday, May 03, 2009


KERETA ROL TISU


Kalau nggak dipakai sekali banyak, lemari dapur mama bisa penuh dan nggak bisa diisi apapun selain 'harta karun' untuk bikin prakarya Kira-Ziya. Tapi kalau dibuang begitu saja ke tong sampah, rasanya mama nggak rela..gimana ya,.. sayang aja..(untunglah papa mengerti hobi mama ngumpulin 'sampah-sampah' yang bisa didayagunakan lagi itu di dapur kita hihihi).

Bikin apakah yang memungkinkan rol-rol tisu itu 'hilang' sekali banyak dari tempatnya berada sekarang?

Yup! Kereta api!

Bahannya pasti ada deh. Gunting, kertas warna-warni, selotip (kalau ada selotip hias warna-warni lebih asik lagi), pernak-pernik mengkilap, kancing, spidol dan tali. Supaya rol-rol tisu itu stabli, tidak berputar-putar ketika ditarik, kita memotong bagian paling bawah kotak sereal dan menempelkannya sebagai kaki kereta.

Setiap gerbong dihiasi sendiri oleh Kira dan Ziya. Mama membantu mengikatkan satu sama lain supaya bisa nyambung dengan mantap dan membantu memberi inisial nama para bidadari supaya tidak tertukar.

Ini kereta Kira
Ini kereta Ziya, ada benderanya segala lho,
Naik kereta api tut tut tuuutt!
Siapa hendak turut?