Friday, December 03, 2010

KARENA WAKTU YANG KITA MILIKI BEGITU BERHARGA

Oleh Indah IP



               Assalamu’alaikum Wr. Wb, menjumpai Anak-anakku yang sholihah...

               Saat Mama menulis surat ini kalian sedang lelap tidur.

              Lama Mama amati wajah cantik kalian. Dua pasang mata yang terkatup itu adalah energi yang menyinari Mama dengan warna-warni pelangi setiap hari. Dua bibir yang mungil itu adalah lengkung ajaib yang tak henti menghujani Mama dengan cium sayang dan “I love you” setiap waktu. Hmm, mama rindu sekali memeluk kalian...

              Tahukah, Nak, malam ini Mama bahagia. Sebab akhirnya rumah kita kembali heboh, berantakan dan ramai seperti kapal pecah! Hehehe.

              Ya, tadi kita berhasil membuat prakarya lagi setelah sekian lama tak sempat. Bukan hanya pernak-pernik, gunting, lem, spidol, aneka plastik dan kertas lipat yang berhamburan di mana-mana, tapi juga canda dan tawa ceria kita semua! Apalagi Papa ikut berpartisipasi meski masih capek sepulang dinas dari luar kota. Mama yakin kalian merasakan yang sama. Sambil berkarya, Mama lihat pipi kalian bersemu merah karena semangat dan bibir kalian tak henti bernyanyi. Asyik sekali.

              Bagi Mama, Nak, kebersamaan ini tiada duanya. Waktu yang sepertinya sebentar itu ternyata besar efeknya. Bagai obat bagi kegalauan hati Mama beberapa waktu terakhir.

              Sudah sejak kemarin-kemarin kalian minta ditemani main dan membuat prakarya. Namun entahlah, Mama selalu punya seribu satu alasan. “Habis ini ya, Sayang, belum selesai masak nih..” Atau, “Kalian menggambar duluan deh, nanti Mama menyusul begitu selesai jemur pakaian”. Yang lebih parah lagi, Mama malah sering minta kalian memaklumi kesibukan Mama sebab menurut Mama kalian sudah cukup besar dan mandiri. Ck, ck, ck. Bisa ditebak akhirnya kalian kecewa, begitu juga Mama. Janji-janji itu tak kunjung mampu ditepati. Kalaupun sempat, waktunya sempit sekali. Yang ada setelah semua urusan rumah tangga selesai, kalian sudah ketiduran duluan atau malah sudah terlanjur bosan bermain sendiri. Sedangkan Mama, sudah pula kecapekan dan mengantuk. Astaghfirullahaladzhiim..

              Duh, kenapa ya, sejak kepindahan kita ke tanah air waktu terasa cepat berlari. Jika dulu di Kuala Lumpur Mama punya cukup waktu untuk bermain, di sini waktu Mama tahu-tahu sudah habis saja untuk beres-beres, masak, mencuci dan sebagainya. Tentu tak bisa kita hindari kalau hidup terus berputar, berubah dan berkembang. Kini kalian sudah pula mulai sekolah dan berinteraksi dengan banyak hal di luar rumah. Sementara itu aktifitas Mama berbanding lurus juga, semakin sibuk di rumah. Maklum, kita memang tidak memiliki suri rumah atau asisten. Jadi semua dikerjakan sendiri. Sehingga waktu hampir selalu terasa kurang.

              Sejak kita pindah, setiap hari, Nak, Mama belajar jatuh-bangun memenej waktu dengan benar. Dan kelihatannya sampai sekarang lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Payah ya? Tak mudah memang melakukannya, kadang bikin Mama berurai air mata juga. Tapi Nak, kalian pasti sudah sangat mengenal Mama ya, sehingga tahu bahwa Mama bukan orang yang gampang menyerah. Percayalah, Mama masih terus berjuang mengaturnya semampu Mama. Benar kata orang bijak bahwa waktu adalah pencuri yang ulung. Tahu-tahu 24 jam terasa tak cukup.

              Malam-malam seperti ini, Nak, adalah kesempatan Mama untuk merenung dan introspeksi diri.

              Sudahkan Mama bersyukur untuk semua rahmat dan hidayah-Nya selama ini?

              Sudahkah Mama memanfaatkan dan memenuhi waktu dengan hal-hal yang baik sepanjang hari?

              Sudahkah Mama tunaikan kewajiban dan penuhi hak-hak Papa juga hak-hak kalian?

              Ya Allah, setiap kali bercermin Mama temukan ketaksempurnaan di mana-mana. Begitu banyak kekhilafan dan kesalahan yang telah terlanjur terjadi. Begitu banyak hal yang musti ditambal dan dibenahi.

              Di depan Mama sekarang, Nak, tergeletak sebuah buku. Judulnya, “Saat Berharga untuk Anak Kita”. Ditulis oleh Mohammad Fauzil Adhim, seorang pakar di bidang parenting yang namanya sudah tidak asing lagi karena buku-bukunya yang bestseller. Sudah berminggu-minggu Mama menentengnya ke mana-mana. Mama bahkan sudah menuliskan sedikit komentar mengenainya di http://www.goodreads.com/book/show/7802795-saat-berharga-untuk-anak-kita. Kalian pasti ingin tahu, kenapa tiba-tiba Mama cerita tentang buku ini kan?

              Bagi Mama buku ini adalah harta karun, Nak. Buku  parenting terbaik yang pernah mama miliki. Mama bersyukur menemukannya di sebuah toko buku waktu itu. Pertemuan Mama dengan buku istimewa ini pastilah bagian dari rencana-Nya ya?

              Sejak membuka halaman awal saja mama sudah banjir air mata berderai-derai. Isinya indah, begitu sarat perenungan. Hingga tuntas dibaca, rasanya ada yang berubah. Hati Mama tak lagi sama seperti sebelumnya.

              Mama jadi lebih banyak bersyukur. Yang paling penting, Mama jadi lebih kuat lagi termotivasi untuk memperbaiki diri.

              Ya Allah, sungguh Hamba takut menjadi orang yang merugi. Ya Allah mohon petunjuk-Mu, Hamba takut tak mampu menjaga dan mengemban amanah yang telah Engkau titipkan.

              Setelah membaca buku itu Mama jadi lebih bertekad untuk belajar memenej waktu sebaik-baiknya.

              Kenapa? Sebab Mama tak ingin terlambat. Sebentar saja kalian sudah besar. Apa yang telah Mama bekalkan untuk mengisi ruang-ruang di hati kalian? Betapa sedikit yang ternyata sudah Mama lakukan. Betapa sebentar waktu yang kita miliki dan betapa ruginya Mama jika tidak bisa memanfaatkannya dengan baik bersama kalian.

              Mama ingin punya lebih banyak waktu bersama kalian. Baik kuantitas maupun kualitas.

              Maka Mama pun mencoba mengatur strategi. Beberapa minggu terakhir, Mama mulai membenahi banyak hal. Dan satu per satu mulai terlihat hasilnya meski masih sangat jauh dari sempurna.

               Jika tak mampu menyetrika segunung baju dari jemuran, sekarang Mama menemukan solusinya. Mama memasukkannya ke jasa setrika kiloan yang punya harga terjangkau. Dan ternyata Mama jadi terbantu sekali. Karena sekarang Mama jadi bisa fokus ke beberapa hal saja, mencuci, menjemur, lantas menyetrika baju-baju seragam sekolah, seragam kantor Papa dan beberapa baju yang urgent dipakai saja.

              Untuk memasak, Mama menyiapkan bahan-bahannya jauh-jauh hari. Menyiang sayuran dan mempersiapkan menu setiap hari memakan waktu yang tidak sedikit. Untuk itu Mama juga sudah menemukan solusinya. Mama bangun jam tiga pagi setiap hari. Saat itulah mama membuat sarapan, menyiang sayur, mengeluarkan lauk dari freezer, menyiapkan seragam, membantu kalian membersihkan diri, membereskan rumah dan sekaligus menyiapkan bekal. Kita jadi bisa berangkat menuju sekolah lebih pagi dari sebelumnya. Jika dulu Papa berangkat sendiri naik angkot, sekarang Papa bisa berangkat bersama kita. Setelah menurunkan Papa di perhentian bis kantor, barulah Mama mengantar kalian ke sekolah. Jadi setiap pagi kita berempat punya lebih banyak waktu bersama-sama sebelum beraktifitas. Alhamdulillah..

              Sampai di sekolah, jika dulu kalian langsung turun menuju gerbang, sekarang kita masih punya cukup waktu untuk mengaji. Sehingga dua atau tiga halaman buku ngaji kalian terbaca juga setiap pagi. Bukan cuma kalian yang punya lebih banyak waktu untuk mengaji lho, Mama juga belajar mengaji. Dua kali seminggu selama satu jam di masjid seberang sekolah.

              Jika pada hari Jum’at Mama biasa membaca buku sambil menunggu kalian pulang (sebab waktunya terlalu singkat untuk kembali ke rumah), sekarang mama menemukan tempat yang menyejukkan. Mama mengisi waktu dengan hadir di pengajian tak jauh dari sekolah kalian. Hati Mama jadi lebih segar dan penuh.

              Jika dulu Mama sering mulai memasak sepulang kalian sekolah, sekarang Mama usahakan memasak saat kalian berada di sekolah. Untuk mempersingkat waktu, Mama memilih menu-menu praktis yang mudah tapi tetap masuk dalam daftar favorit kalian. Jadi semua diusahakan selesai sebelum menjemput kalian lagi.

              Kenapa harus begitu? Karena Mama ingin punya waktu lebih banyak bersama kalian sepulang sekolah. Mama menikmati saat menemani kalian tidur siang. Kita bisa membaca beberapa buku yang kalian pilih sendiri dari perpustakaan di rumah kita. Ketika kalian istirahat, Mama sekalian ikut istirahat. Saat sore Papa pulang dari kantor, Papa akan mengambil alih waktu bermain bersama kalian. Gelitik-gelitik, loncat-loncatan, menggambar, belajar berhitung, membaca dan sebagainya, adalah kegiatan yang selalu asyik mama dengar keceriaannya sambil sibuk di dapur. Saat itulah Mama bisa sedikit lebih lama di ruang jemur. Lantas sebelum tidur malam, kita kembali akan membaca dongeng dan kisah dari buku-buku pilihan kalian sampai lelap tertidur.

              Duhai Nak, sambil sekali lagi menatap wajah bening kalian yang lelap tertidur, Mama merenung. Sudahkah maksimal apa yang telah Mama upayakan akhir-akhir ini untuk memenej waktu dengan baik? Mungkin belum ya. Tapi semoga kalian tahu bahwa Mama akan terus berjuang samampu Mama.

              Mama syukuri setiap detik berharga yang berhasil Mama kumpulkan dan habiskan bersama kalian.

              Mama syukuri seluruh waktu yang kita lewati kemarin dan yang kita miliki kini.

              Semoga kalian maafkan segala ketaksempurnaan Mama ya. Maafkan mata Mama yang terlalu sering melotot saat menurut Mama kalian melakukan kesalahan. Maafkan bibir Mama yang terlalu sering mengucap janji, meminta permakluman dan mengucapkan kata-kata yang melukai atau menyedihkan hati kalian saat menegur. Maafkan Mama yang belum mampu membekali, membimbing dan mengisi ruang-ruang hati kalian dengan semestinya.

              Besok adalah hari baru. Doa Mama lafadzkan sebanyak-banyaknya. Harapan dan mimpi Mama gantungkan setinggi-tingginya.

              Tak sabar Mama menanti pagi, Anak-anakku. Tak sabar Mama memeluk dan mencium pipi kalian. Tak sabar Mama tatap mata kalian, dengar suara kalian. Tak sabar Mama taklukkan waktu dan habiskan sebanyak-banyaknya saat berharga bersama kalian.

              Ingin Mama bisikkan betapa Mama mencintai kalian karena-Nya.

              Ya, Mama mencintai kalian karena-Nya.



Wassalam,

Mama



------------------------------------------------

Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html

Thursday, June 10, 2010


Nggak perlu bingung nyari ide untuk mempersiapkan Ramadan tahun ini dengan ananda tercinta!


Check this out!

Judul: Happy Ramadan with Kids - Pernak Pernik Mendekatkan Keluarga dengan Bulan Suci

No. ISBN: 9786029690903
Penulis: Gita Lovusa, dkk
Penerbit: Pena Lectura
Tgl Terbit: Juni 2010
Jumlah halaman: 242 hlm

Harga: 45.000 (blm termasuk ongkos kirim, harga buku disc. 20% sampai tgl 12 Juni 2010)
Pemesanan: via email ke gita19@gmail.com dng menyertakan nama, alamat, no telp serta jumlah buku yang dipesan atau sms ke Gita Lovusa 085228711056. Pembayaran ke rekening BCA 1080627340 an Gita Aryana atau BNI 136155122 an Gita Aryana



Sinopsis:
Saat menutup buku, saya menjadi termenung dan berpikir. Putri kecil saya, Cha Cha, sudah berusia dua tahun. Apa yang bisa saya lakukan untuk mengenalkannya pada bulan suci ini? Mengenalkannya dengan cara yang menyenangkan untuk anak-anak seusianya.

Buku ini menyajikan pengalaman-pengalaman menarik dan berhikmah dari para orangtua dalam mengenalkan bulan Ramadan kepada buah hati mereka, baik mereka yang bermukim di dalam maupun di luar negeri. Beragam siasat kreatif untuk anak juga dikreasikan di sini, mulai dari permainan-permainan, hingga keterampilan membuat prakarya seperti lampion ketupat, maket masjid dari karton, dan sebagainya.

Tak hanya itu, buku ini juga dilengkapi dengan resep-resep masakan yang mudah dan lezat yang dapat dibuat bersama dengan buah hati.

Keduapuluhsatu kisah seru Ramadan yang bergizi, cerdas, dan inspiratif ini ditulis oleh Gita Lovusa, Yudith Fabiola, Erinda, Arikunto, Lia Barra, Ifa Avianty, Indah IP, Mamiek Syamil, Haya Aliya Zaki, Dina Y. Sulaeman, Fetry Z., Dian Mardi Safitri, Ellyza Dian Satriana, Shanti Saptaning, Eka Natassa, Aan Wulandari, Rosita Sihombing, Saptawati Meina dan Vienna Alifa.


Tak perlu berpikir dua kali untuk menjadikan buku ini sebagai teman Anda dalam menjadikan Ramadan sebagai momen terbaik bagi keluarga.



Hadiri juga peluncurannya di:

TB Leksika - Lenteng Agung
Jl. Raya Lenteng Agung No. 101, Jakarta Selatan 12610

Minggu, 27 Juni 2010, pukul 10.00-12.00


Bersama Nesia Andriana Arif (penulis buku Dengan Pujian, bukan Kemarahan--pengamat pendidikan anak)

Dihadiri juga oleh Gita Lovusa, Dian Mardi Safitri dan Haya Aliya Zaki; tiga dari sembilanbelas penulis yang ikut meramaikan buku Happy Ramadan with Kids.


Ditunggu kehadirannya, ya!

Acara: ngobrol tentang parenting, kegiatan menarik untuk mengisi Ramadan bersama anak, seputar kepenulisan dan buku indie. Ada juga acara Celoteh Anak, acara khusus untuk anak-anak yang akan dipandu guru TK yang manis dan ceria, Yunie Zalabella. Diskusi interaktif yang akan dipandu oleh Wisye Gazali dan ada doorprize berupa buku-buku parenting terbitan Serambi dan buku Happy Ramadan with Kids.

GRATIS lho! Bagi yang ingin hadir bisa mendaftarkan namanya melalui:

1. Nataya Rizani: nat_riz@yahoo.com / 081386577775
2. Gita Lovusa: gita19@gmail.com / 085228711056
3. Dian Mardi Safitri: dianne_ms@yahoo.com / 081905432200

Friday, April 30, 2010

PADI


Ada yang selalu mama nikmati setiap kali mengantar-jemput para bidadari dari sekolah: hamparan padi.

Saat pertamakali menginjakkan kaki di Surabaya, sawah-sawah di sisi jalan tol dan kawasan perumahan itu baru ditanami. Beberapa bulan kemudian menjelma permadani hijau muda, lalu kuning emas dan akhirnya tunduk oleh bulir-bulir padi yang menjuntai ke tanah sebelum dipanen. Saat ini proses itu berulang kembali. Setiap hari mama amati bapak dan ibu tani membajak petak-petak sawah dengan kerbau maupun mesin khusus lalu menanaminya kembali. Mama nggak sabar menunggunya jelma permadani tebal dan rapat yang sungguh cantik ketika ditimpa sinar matahari pagi, Subhanallah.

Ah, mama jadi ingat hamparan sawah di sepanjang jalan tol menuju rumah Opa dan Oma di Jakarta. Sawah-sawah itu mama lewati setiap hari bolak-balik pagi dan sore, sejak SMP, SMA, kuliah, bekerja hingga menikah. Sawah-sawah itu juga yang kemudian mama rindu-rindukan ketika kita sekeluarga harus pindah ke Kuala Lumpur tiga tahun yang lalu. Ketika banjir besar pernah melanda Jakarta, hati mama ikut hancur menyaksikan permadani hijau itu berubah coklat dan rata oleh air hingga ke atap dangau. Sesudah surut, dangau itu lenyap. Mama pernah menulis puisi tentangnya di sini.

Pernah saat masih bekerja kantoran dulu dan mendapat tugas ke Yogyakarta, mama berhenti di sebuah wilayah, hanya untuk jalan sedikit di pematang sawah, merentangkan tangan lebar-lebar dan menikmati angin yang berhembus lembut. Nikmatnya... (entah apa yang ada di benak supir taksi, para petani, burung-burung dan orang-orangan sawah waktu itu ya.. hahaha!)

Saat pernah bertugas ke Bandung dengan kereta api Parahyangan (Oh,.. sweet memory bangeett euy!), dari jendela kereta mama menikmati permadani hijau sangat luas dengan sebuah dangau nun jauh sekali yang nyaris lenyap di balik kabut. Saat itu mama tiba-tiba ingin mengabadikannya ke dalam kertas dan cat air.

Dibelakang rumah alm. Uci dan Babak kalian (Opa dan Oma mama) di Bukittinggi, ketika pulang kampung sekitar duapuluh tahun yang lalu, mama pernah juga berkunjung ke beberapa petak sawah yang nyaris habis digusur pembangunan kota .

Tahukah, Nak, mengamati hamparan padi, mama menikmati banyak hal selain permadai hijau itu. Ada dangau kecil di tengah sawah tempat bapak dan ibu tani mengaso, ada segerombol burung yang terbang naik-turun dan hinggap takut-takut di pematang-pematangnya, ada orang-orangan sawah yang sesekali menari ke kanan-ke kiri di tiup angin, juga ada serangkaian kain perca warna-warni, botol-botol air mineral, lembaran plastik dan kardus, bahkan keping-keping compact disc yang bergelantungan di tali yang terhubung ke tiang-tiang kayu dan melenggak-lenggok saat digoyangkan secara berkala oleh bapak dan ibu tani demi mengusir burung-burung dan binatang pengganggu. Kalau beruntung, mama bisa menikmati kabut yang turun rendah seperti selimut tipis di atas hamparan batang padi itu!

Begitulah, kembali ke tanah air akhir tahun yang lalu, memudahkan mama dan papa mengenalkan begitu banyak hal kepada Kira dan Ziya, termasuk mengenalkan sawah, scarecrow dan teman-temannya, yang selama ini hanya didengar lewat dongeng dari buku-buku koleksi kita. Alhamdulillah...

Beberapa kali mama sempatkan turun dari taksi dan berjalan sedikit menuju tepi sawah di daerah Jambangan. Ini dia beberapa foto yang sempat mama abadikan. Selamat menikmati.. :-)

PESAWATKU TERBANG TINGGI!


Masih ingat kan, prakarya roket yang pernah kita buat waktu itu di sini?

Nah, kali ini mama berencana mengajak Kira, Ziya, Papa dan Oma membuat prakarya pesawat.

Untuk menyukseskannya, sejak siang mama mengumpulkan botol-botol air mineral dan beberapa bahan penting lainnya dari gudang. Nggak sabar sih sebetulnya menunggu malam tiba, tapi mama tahu Kira dan Ziya perlu waktu istirahat sepulang sekolah, lagi pula papa kan belum pulang kerja.

So, malam itu mama mengganggu Papa yang sedang asyik baca komik, menunggu Oma selesai sholat Isya dan memanggil Kira-Ziya yang sedang bermain berdua.
"Mau ngapain sih, Ma?"
"Terbang!"

Hasilnya? Seru bangeeett!

Semua pesawat kita buat sesuai versi masing-masing. Mama hanya menyediakan bahan-bahannya, selanjutnya semua tenggelam dalam kreasi sendiri sambil sesekali tertawa dan bercanda. Nikmat banget kalau lagi ngumpul begini nih,..

Berikut bahan-bahannya,


  Pertama, buat baling-baling dari tangkai es krim,
potong piring kertas lalu tempelkan sebagai sayap dan lipat bentuk setengah lingkaran sisa piring kertas menjadi ekornya.

Tempelkan beberapa tangkai es krim untuk memantapkan sayapnya, lalu hias badan pesawat dengan stiker.


Begitu selesai, semua pesawat kita rangkai sebagai slinger di kusen pintu kamar.

Bisa ditebak nggak, mana karya Kira, Ziya, Papa dan Oma? Hehehe.

Ayo buat pesawatmu! :-)

Friday, March 12, 2010

EMPAT EKOR LEBAH DI RUMAH KITA


Di sekolah Kira dan Ziya sedang belajar tentang lebah.

Suatu kali, melihat tumpukan botol air mineral kosong di dapur, mama jadi punya ide membuat sesuatu.

So, malam itu kita berempat asyik memotong, mengelem dan berkreasi. Ide awalnya memang dari mama, tapi dalam prosesnya, Papa-Kira-Ziya punya ide dan kreativitas sendiri-sendiri.

Ini dia bahan-bahannya:
Untuk membuat kepala dan badan lebah, remuk sedikit kertas koran bekas, balut dengan tisu, selotip, lalu tempelkan ke botol kosong air mineral dengan lakban.


Lapisi botol dengan kertas berwarna kuning.

Berhubung kita tidak punya kertas hitam dan sedang kehilangan kuas-kuas lukis, maka belang-belang badan lebah kita buat dari kantong kresek bekas bungkus belanja mama! Potong memanjang kantong kresek hitam, tempelkan seperti cincin melingkari badan lebah. Nah, tetap OK kaann!

Buat dua buah sayap untuk ditempel di punggung kiri dan kanan, lalu rekatkan matanya.
Papa bilang posisi mata lebah buatan mama salah. Hehehe, benar juga.. yang benar adalah mata lebah buatan papa, letaknya di bagian bawah kepala! Wah, papa kreatif banget deh. Dua buah tutup air mineral yang tidak terpakai papa jadikan kelopak mata lebah. Jadi kereeenn banget!
Gunting kertas kardus memotong alurnya untuk dijadikan antena kepala, sehingga mudah digulung. Kira ingin kombinasi warna antena yang berbeda, begitu juga Ziya.

Untuk kaki-kakinya, potong kertas kardus mengikuti alur, sehingga hasilnya lebih kaku.

Kira dan Ziya melengkapi lebah dengan buntut buatan sendiri.

Ada yang spesial dengan lebah Ziya lho, pakai bulu mata panjaaangg, karena kata Ziya, "Ini lebah yang girl, soalnya!"
Sedangkan lebah Kira punya gurat-gurat pensil warna seperti tulang daun di bagian bawah sayapnya, karena kara Kira, "Sayap lebah kan memang begitu, 'Ma!"
Nah, coba lihat lebah-lebah kita!

Tidak berhenti sampai di situ, lebah-lebah ini kita gantung dengan tali rafia di kusen pintu kamar, sebagai pengawal! Rumah kita jadi amaaaannnn....bzzzzzzzzz...bzzzzzzz  .....:-)

Monday, March 08, 2010

ANGKA-ANGKA DAN NOMOR TELPON MAMA


Kira dan Ziya sedang senang belajar matematika sama Papa.
Awalnya mereka yang mengajak papa bermain angka. Papa pun mengenalkan perhitungan sederhana. Diawali dengan soal cerita dan ilustrasi gambar, kemudian bertahap ke deret penambahan atau pengurangan angka-angka antara satu sampai sepuluh.

Belajar matematika sama papa rupanya sangat mengasyikkan ya, 'Nak? 
Sekarang, setiap kali papa di rumah, baik sepulang kantor di hari kerja atau lagi santai baca koran di akhir pekan, pasti mereka menyodorkan kertas dan pulpen, "Pa, yuk belajar matematikaaa!".  Anteng deh bertiga berkutat sama angka-angak sementara mama sibuk beres-beres.

Ada hal yang bikin mama surprise nih.
Hari Kamis 5 Maret 2010 yang lalu, di dalam taksi, Ziya tiba-tiba dengan lantang menyebutkan nomor telpon mama!
"Kosong delapan tiga delapan sembilan...bla, bla, bla". Wow! Mama langsung bengong. Kaget! Sejak kapan menghafalnya?

Selidik punya selidik rupanya nomor-nomor itu didengar Ziya setiap kali mama pesan taksi lewat telpon. Lama-lama ya jadi hafal sendiri! Lebih kaget lagi, Kira ternyata hafal juga! Dengan lantang Kira menyebut lagi semua angka, lengkap dan benar! Wuuiiihhh...

Malam itu setelah mama ceritakan, papa langsung request agar para bidadari menghafal juga nomor telpon papa. Tapi sampai sekarang sepertinya belum hafal-hafal tuh, hahaha! Padahal mama dan papa sering bergantian lho menelpon taksi, tapi suara mama mungkin lebih keras (baca: lebih merdu) dibandingkan suara papa yang lemah lembut (baca: pelan), jadi nomor telpon mama lah yang lebih mudah masuk telinga Kira-Ziya dan diingat.

Hmm.. hikmahnya, mengingatkan mama dan papa  nih, supaya makin berhati-hati dan terjaga dalam berbicara atau ngobrol ya, sebab anak seusia Kira dan Ziya yang baru empat tahunan terbukti sedang kuat-kuatnya menyerap dan mengingat apa saja yang mereka dengar (juga mereka lihat).

Dua jempol buat Kira dan Ziya! Pinteeeerrrrr....:-)
MAIN HUJAN LAGI YUUKK!

Surabaya hampir setiap hari diguyur hujan. Akhir pekan kemarin, hujan lebat sejak pagi.

Ketika mama memasak di dapur rupanya Papa-Kira-Ziya asik di teras depan.
Ngapain?
Main hujaaaannn!


Padahal para bidadari lagi batuk pilek tuh, tapi mereka kelihatan enjoy banget dan penasaran, maklum di rumah yang baru kita tempati  tiga mingguan ini, belum pernah sekali pun mereka main hujan.

Ini kira dalam jas hujan:
Yang ini Ziya:


Abis main hujan di teras depan, lanjut kejar-kejaran di teras belakang sampai basah kuyup dan keringatan!

Habis itu mandi air hangat dan baca buku sama papa. Hmm what a great weekend ya, 'Nak? Sayang hujan berhenti ketika mama selesai masak. Next time, mama diajak yaaaa!! :-)
HARTA KARUN KITA AKHIRNYA DATANG JUGAAAAA!

Setelah terbungkus kardus selama beberapa bulan sejak kepindahan kita dari Kuala Lumpur, Malaysia, bulan Oktober tahun 2009 lalu dan lanjut mendekam sekian bulan di rumah tercinta kita di Tangerang, akhirnya harta karun itu sampai juga di Surabaya sekitar tiga minggu yang lalu.

Kardus-kardus itulah yang pertamakali kita jadikan target pencarian. Begitu menemukannya, wah, rumah kita langsung heboh!! Eureka!!

Ini dia harta karun Kira dan Ziya:
Besoknya, ketika mama balik ke kamar kita dengan ember berisi tangkai pel, Kira dan Ziya minta mama menunda ngepel lantai. Wuuiiihh.. ada apa nih??
"Lagi ada pameran buku besar-besaran, Ma!", sahut Kira.
"Besok-besok aja ngepelnya gimana? Lagi sibuk nih, Ma!", balas Ziya.
Oke deeehh.. hari itu mama urung ngepel deh hehehe.

Mau lihat harta karun mama? Niiyyy...:

Salah satu harta karun papa, nadanya sayup-sayup menemani mama cuci piring di dapur, jrengg...jreeengg..."..Jangan menyeraaaahh.. jangan menyeraaahhhh.. ooooooowooowooooo!"





Sunday, February 14, 2010

PENGAWAL MAMA

Ketika mama sedang menyetrika malam itu, Ziya mengendap-endap ke belakang punggung mama dan menempelkan sesuatu di dinding dengan memanjat sandaran tempat tidur.

"Ngapain, Ziya?", tanya mama sambil menyemprotkan pelicin baju.
"Nempelin ini, Ma!", tunjuk Ziya.
"Apa itu? Prakarya terbaru Ziya ya?"
"Iya. Buat menjaga mama!"
"??", mama penasaran dan menoleh ke arah dinding.
"Ini dinosaurus. Pengawal mama. Khusus Ziya buat supaya besok-besok kalau Kira-Ziya pergi sekolah dan papa pergi kerja, mama ada yang menemani, tidak kesepian nyetrika sendiri.."

Oo.. rupanya Ziya merasa kasihan sama mama yang kalau nyetrika hanya ditemani segunung pakaian kusut! That's so sweet..

Besoknya ada tambahan pengawal baru di dekat sang dinosaurus. Lalu berturut-turut ada lagi dan lagi dan lagi yang baru, bukan hanya dari Ziya tapi juga pengawal buatan Kira.

Wah, kelihatannya ide itu berhasil lho.

Mama jadi nggak merasa sendiri setiap kali menyetrika. Soalnya selain dikawal oleh dinosaurus, mama juga dikawal oleh jerapah, singa dan kupu-kupu! Berasa aman banget deh pokoknya.

Makasih yaa, Sayang, untuk empati dan kepeduliannya :-)
DINDING-DINDING CERIA DI RUMAH KITA


Baru tiga bulan menempatinya (pertengahan minggu ini kita akan pindah ke sebuah rumah yang tidak jauh dari sini), seluruh ruangan unit apartemen ini tidak ada yang luput dari kreatifitas tangan-tangan mungil Kira dan Ziya.

Bukan hanya dinding yang jadi ramai, tapi juga lemari, credenza dan daun pintu!

Yang ditempel macam-macam, diantaranya: gambar dengan spidol-crayon-pensil, poster dari salah satu majalah anak, foto, prakarya dari piring kertas, origami, gantungan kunci, kotak tisu, kolase brosur iklan yang kita dapat dari pusat perbelanjaan, bahkan kardus air mineral (Kira lagi penasaran memotong-motong kardus) dan masih banyak lagi.

Jangan ditanya deh, berapa banyak keceriaan itu bolak-balik menelan bergulung-gulung selotip, gunting, lem stik, sedotan, spidol, dan kertas lipat warna-warni. Pokoknya banyak dan seru !

Mengingat prosesnya saja bisa bikin mama excited membayangkan bagaimana sel-sel kelabu di otak Kira-Ziya meramu ide-ide spontan dan menerjemahkannya lewat kemampuan motorik jari-jari mungil mereka!



 

Waktu untuk pindah ke rumah baru tinggal beberapa hari lagi.

Tapi, kenapa ya, mama merasa nggak ingin cepat-cepat membersihkan dinding-dinding ini :-)